testimoni

testimoni

Menjajal Kereta Malam Negeri Tirai Bambu


中国铁路总公司 (pinyin : Zhōngguó tiělù zǒng gōngsī) atau China Railway adalah perusahaan kereta api negara Republik Rakyat China. Pada kali ini penulis mencoba perjalanan salah satu routenya yaitu dari 常德 (Changde) ke 长沙 (Changsha). Karena kereta yang tersedia hanya pada malam hari maka penulis menyebutnya kereta malam. Butuh waktu 3 jam dari Changde menuju Changsha. Ada beberapa pilihan kelas, yaitu Eksekutif duduk, Eksekutif Tidur, Ekonomi Duduk, Ekonomi Berdiri, dan Ekonomi Tidur. Lho kok ada kelas berdiri ? Nah di China ternyata okupansi keretanya untuk kelas ekonomi diatas 100% menurut penulis munkin 130%. Karena Changde - Changsha tidak terlalu jauh, penulis memilih Ekonomi Duduk saja. Harga tiketnya untuk kantong orang Tiongkok bisa dibilang murah, tetapi mahal untuk kantong orang Indonesia, yaitu sekitar 52.5 RMB atau sekitar Rp 107K untuk kelas ekonomi. Tapi ada alasannya mengapa tiketnya bisa semahal itu, ternyata keretanya datang dari 张家界 (Zhangjiajie, 2 jam dari Changde) dan langsung menuju 广州 (Guangzhou, 3 hari dari Changde) sangat jauh sekali. 
Changde Railway Station, Hunan China.

Tiket perjalanan Changde - Changsha.
Tepat jam 6.15 penulis sudah sampai di stasiun dengan harapan bisa melihat banyak kereta sebelum berangkat. Keamanan disini cukup bagus, tiket disesuaikan dengan nomor ID, tas dan barang bawaanya di scan seperti di bandara. Setelah masuk lobby stasiun langsung menunggu ruang tunggu dan ternyata terpisah dengan peron dan artinya penulis tidak bisa melihat kereta secara langsung dari peron, karena peron hanya boleh dimasuki pada saat kereta telah tiba. 


Ruang tunggu stasiun Changde.
Ruang tunggunya cukup nyaman dan hangat karena cuaca sangat dingin sekali di Changde. Kereta yang penulis naiki ternyata telat 20 menit, jadi ada extra time lagi untuk menunggu hehehe. Tak terasa waktu berlalu akhirnya kereta yang penulis naiki akan tiba dan para penumpang dipersilakan memasuki peron. Dagdigdug jantung terasa, karena pertama kali penulis melihat kereta China di dunia nyata yang sebelumnya hanya melihat dari simulator saja. Klakson kereta yang sama dengan di simulator sudah terdengar, rasanya seperti mimpi. Akhirnya terlihat dari kejauhan sorot lampu kereta semakin dekat dan akhirnya melewati penulis, dalam batin penulis "DF 11 !" sanking takjubnya penulis tidak sempat mengambil foto karena kereta berlalu begitu cepat. 


Sorotan cahaya lokomotif DF11 dari peron nomor 1
Kalau di Indonesia, penulis biasa naik kereta paling banter di kereta nomor 3, itu pun jarang sekali. Tetapi di China penulis mendapatkan nomor kereta yang spektakuler, yaitu 15 dengan nomor tempat duduk 111. Ya stamformasi kereta di China itu satu setnya sekitar 22 kereta. 1 kereta pembangkit, 1 kereta makan, 2 kereta bagasi, dan 18 kereta penumpang yang terdiri dari kereta kelas 1 duduk dan tidur, kereta kelas 2 duduk dan tidur. Setelah kereta berhenti sempurna penulis langsung masuk kedalam kereta, karena mengantisipasi tempat duduk ditempati orang lain yang munkin akan susah diminta untuk pindah apalagi foreigener yang meminta.

Wussss DF11 melintasi peron dengan cepat.


YZ25K 345486 硬座车 (pinyin : Yingzuoche) / Seat Car
Setelah memasuki kereta ternyata benar saja, sudah ada yang menempati tempat duduk. Penulis pun bingung bagaimana cara memintanya, untung saja tidak lama ada kondekturnya, lalu penulis berusaha menjelaskan ke kondekturnya dengan bahasa belepotan mandarin campur inggris, dan kondekturnya pun mengerti akhirnya kondekturlah yang meminta mereka pindah dan berpesan "坐在那里,直到长沙!" (Duduk disitu sampai Changsha!). Setelah mendengar pesan kondektur, kereta pun berangkat. Tarikannya pun halus sekali, hampir tidak terasa. Interior kereta ekonominya pun lebih bagus daripada di Indonesia dan lebih lebar tentunya. 1 kereta ekonomi ini mampu memuat sampai 120 orang dan formasi tempat duduknya sama seperti kereta ekonomi di Indonesia. AC di kereta pun hangat dan nyaman untuk cuaca dingin seperti ini. Ada yang penulis suka dengan kereta ini, yaitu kereta ini tidak mempunyai pintu sekat dengan bordes tetapi tidak ada suara bogie kereta, bahkan guncangan pun hampir tidak terasa. Jalur kereta pun cenderung datar dan lurus, sedikit sekali berbelok.

Interior kereta kelas ekonomi.

Ada yang menarik lagi dari kereta ini, yaitu petugas kereta berjualan berbagai macam dagangan. Persis seperti di Indonesia pada saat masa sebelum reformasi kereta api hanya saja disini yang berjualan adalah petugas kereta yang tentunya resmi. Mereka mempromosikan barang dagangan mereka selama perjalanan panjang ini. Penulis berusaha untuk melihat kereta makan, tetapi karena banyaknya petugas yang nongkrong di kereta makan, maka penulis mengurungkan niat, soalnya kamera segede gaban ini sangat menarik perhatian orang sekitar hehehe

CA25G 892385 餐车 (pinyin : Cānchē) / Dining Car.



Lorong menuju kereta makan.
3 jam kereta berjalan tidak terasa sudah sampai di Changsha. Kereta tiba sekitar jam 11 malam. Penulis pun turun dari kereta dan langsung menuju pintu keluar karena peron harus steril dari penumpang secepat munkin. Pada saat keluar, tiket kereta pun harus diperlihatkan kembali kepada petugas agar jika ada yang ngambing bisa ketauan. Setelah keluar stasiun penulis pun langsung menuju ke loket reservasi tiket untuk membeli tike kembali ke Changde pada besok lusa. Beruntung sekali petugas loketnya bisa berbahasa Inggris, jadi tidak perlu menggunakan mandarin belepotan lagi hahaha. Kali ini penulis mendapatkan tiket kembali dengan harga yang cukup berbeda jauh yaitu hanya 29.5 RMB atau sekitar Rp 61K karena awal mula stasiun tepat dari Changsha dan hanya sampai Changde.


Tiket Changsha - Changde.
Tiket sudah didapat, maka selanjutnya ialah menuju hotel dan saatnya kita berpisah kembali, 再见 !!.



Changsha Railway Station.
Foto : Panoramio
Gallery.


Changde - Shenzhen, very very long distance train.


RW25G 552273 软卧车 (pinyin : Ruanwoche) / Executive Sleeper Train


YW25G 670417 硬卧车 (pinyin : Yingwoche) / Economi Class Sleeper Train.
IRINTRIS, Changde, Hunan, China | RE Digest

About Ibnu Rashyd

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment