testimoni

testimoni

Sebuah Pagi Kelabu di Pondok Betung (Mengenang 2 Tahun Tragedi Bintaro 2)



Senin, 9 Desember 2013. Adalah sebuah pagi yang normal di Stasiun Serpong. Semua orang bergegas meninggalkan rumah guna mencari nafkah di ibukota. Masinis Darman Prasetyo, asisten masinis Agus Suroto, dan teknisi kereta Sofyan Hadi menyiapkan rangkaian KRL Tokyo Metro 7121F yang terparkir di jalur 1 Stasiun Serpong dan akan digunakan sebagai 1131 relasi Serpong-Tanah Abang.

Tokyo Metro 7121 sebelum kecelakaan

Tak ada yang berbeda pada hari itu. Semuanya berjalan normal seperti biasanya. KA 1131 berangkat dari Stasiun Serpong pada pukul 10.30, tak ada yang berbeda. Di saat yang bersamaan, sebuah truk tangki BBM berisi Premium berangkat dari Depo Pertamina Plumpang untuk mendistribusikan BBM ke wilayah Bintaro. Tak ada yang berbeda.

Sesampainya di Sudimara kereta memang mengalami sedikit gangguan sehingga kereta mengalami keterlambatan sebanyak 20 menit dari yang seharusnya berangkat dari Sudimara pukul 10.38 namun baru berangkat pukul 10.50. Di saat yang bersamaan, truk tangki BBM itu melintasi perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Tangerang Selatan. Di saat truk melintas di perlintasan, palang berbunyi dan mesin truk mati.

Sang supir berusaha menghidupkan lagi truk tangki itu, namun usaha itu gagal. Penjaga PJL yang saat itu berjaga berusaha menghubungi Stasiun Sudimara untuk menunda keberangkatan KA 1131. Terlambat, kereta sudah terlanjur berangkat. Penjaga PJL berusaha menghentikan kereta dengan memberikan semboyan 4 (bendera merah yang dikibarkan) tanda kereta harus berhenti.

Itu pun juga percuma, karena perlintasan berada di tikungan sehingga semboyan 4 tidak terlihat. Darman yang saat itu membawa kereta sontak terkejut melihat ada truk tangki yang merintang di tengah rel. Dia bisa saja menghentikan kereta dengan menarik rem darurat, namun ia tidak melakukan itu.

Alih-alih menarik rem darurat, dia berusaha menghentikan kereta dengan pengereman normal. Mungkin dia tau konsekuensi yang ia hadapi apabila dia menarik rem darurat. Kereta melaju 70 km/jam di tikungan. Apabila dia menarik rem darurat yang akan menghentikan kereta secara mendadak, mungkin kereta akan anjlok dan terguling. Yang itu artinya, mungkin ada lebih banyak korban jiwa.

Sofyan yang berada di kabin depan, berusaha menyelamatkan penumpang alih-alih menyelamatkan dirinya sekalipun ia memiliki kesempatan itu. Dia memberitahu penumpang yang ada di kereta depan bahwa kereta akan bertabrakan dan penumpang di minta lari ke belakang. Alih-alih dia menggunakan interkom dan berteriak dengan panik, ia justru memberitahukannya dengan membuka pintu dan memberitahukannya dengan nada yang tenang tanpa rasa panik.

Mungkin ia tau konsekuensi yang ia hadapi apabila ia menggunakan interkom dengan panik. Mungkin saja penumpang akan lari dan terjadi kepanikan di dalam kereta. Yang itu artinya, mungkin saja jumlah korban jiwa lebih banyak.

Setelah mengumumkan kereta akan bertabrakan, ia bisa saja lari ke belakang dan menyelamatkan dirinya. Namun ia tidak mengambil kesempatan itu. Dia kembali masuk ke kabin dan mengunci pintu yang menghubungkan kabin dengan ruang penumpang. Bahkan sebelum ia menutup pintu dan masuk ke kabin, ia masih sempat memberikan senyuman kecil kepada seorang penumpang. Seolah itu adalah kali terakhir dia tersenyum. Tak lama kemudian...

DUAR!!!

Suara ledakan besar memecah hiruk pikuk masyarakat yang baru memulai aktifitas. Kereta pertama terguling dan api membakar seisi kabin masinis dan truk. Asap membumbung tinggi dari perlintasan. Penumpang berusaha keluar dari dalam kereta baik lewat kaca jendela yang dipecahkan maupun lewat pintu yang di buka lewat katub darurat.

Para pemadam berusaha memadamkan api yang berkobar hebat. Tak lama, hujan turun dengan sangat lebat. Menyingkap tabir kengerian dari peristiwa itu.

7121 sehabis bertabrakan dengan truk tangki
credit to: Andi Ardiansyah

7 orang tewas termasuk ketiga kru itu dan 4 orang penumpang. Nama mereka abadi sebagai seorang pahlawan. Mereka mati dalam keadaan syahid. Kisah kepahlawanan mereka tersiar di seluruh negeri.


Air mata dan doa dari penjuru negeri mengiringi kepergian mereka. Dedikasi dan tanggung jawab mereka menjadi cerminan tentang betapa besarnya makna dari sebuah amanah. Pita hitam disematkan di bahu kanan para masinis dan pecinta kereta, tanda berduka.

Kepada Darman Prasetyo, Agus Suroto, Sofyan Hadi, dan keempat penumpang yang tewas dalam peritiwa itu, semoga amal ibadah kalian di terima di sisi Allah Swt. Dan memperoleh tempat terbaik di sisi Sang Khalik. Amin amin ya robbal alamin.



Bayu Tri Sulistyo | RE Digest
dan seluruh penggemar kereta api di Indonesia






About Bayu Tri Sulistyo

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Tetapi orang tak akan pernah belajar, dan tiga hari lalu, meski tanpa menimbulkan kebakaran dan hancurnya sebuah rangkaian (That is, jika H27 bisa dibenerin lagi, tapi semestinya bisa) justru menimbulkan korban jiwa dua kali lipat lebih banyak...

    ...Mari kita peringati Desember sebagai bulan keselamatan ber-PJL. Lambat 5 menit saja daripada mati berantakan

    ReplyDelete