testimoni

testimoni

Tokyu 8007F, Perjalanannya Dari Masa ke Masa

31 Maret 1970. Jalur Toyoko, yang merupakan jalur kereta yang dikelola oleh Tokyu Corporation, menjadi saksi dari sebuah debut. Ya, KRL seri 8000 dengan nomor rangkaian 8007F yang merupakan set ke-4 dari keseluruhan seri memulai dinas perdananya di Jepang. Pada waktu itu, 8007F hanya terdiri dari 5 kereta dengan urutan stamformasi 8007-8107-8204-8108-8008, dan masih tanpa AC, dengan warna silver polos tanpa corak apapun.
Tokyu 8007F di tahun 1985 (sumber)
Pada tahun 1977, rangkaian Tokyu 8007F ini sempat dimutasi ke jalur Denentoshi, namun pada tahun 1979 dikembalikan lagi ke jalur Toyoko. Pada tahun 1981, rangkaian ini diperpanjang menjadi 7 kereta dengan menambahkan kereta 8245 dan 8304, serta pemasangan alat penyejuk ruangan juga dilakukan menyusul standarisasi armada KRL di Jepang yang sudah mengharuskan penggunaan alat penyejuk ruangan. Pada akhir tahun 1985, kereta 8304 diubah nomornya menjadi 8260. Dan pada tahun 1986, kereta 8137 ditambahkan sehingga formasinya menjadi 8 kereta dengan urutan:

8007-8245-8107-8260-8137-8204-8108-8008

Setelah menjadi formasi 8 kereta itulah 8007F mulai dipasangkan corak warna. Tahun 2003, 8007F mulai menggunakan corak pita merah di bagian muka kabin, yang kemudian menjadi warna baku jalur Toyoko dan juga Denentoshi.
Tokyu 8007F dengan livery pita di muka, 30 Juni 2004 (sumber)
Musim panas tahun 2005, Tokyu 8007F diberikan livery spesial oleh Tokyu Corporation, yang dinamakan 伊豆の夏 (Izu no Natsu, Summer of Izu). Kereta yang memakai livery ini setiap musim panas akan melakukan through service ke jalur milik perusahaan Izukyu.
Summer of Izu (sumber)
Namun ternyata, kereta ini hanya berdinas sebentar saja di Jepang dengan livery spesial tersebut. Pada tahun tersebut, rangkaian ini dibeli oleh PT. Kereta Api melalui Divisi Jabotabek, bersama dengan rangkaian 8003F.
Persiapan dikapalkan dari Pelabuhan Yokohama menuju Pelabuhan Tanjung Priok (sumber)
Setibanya di Indonesia, KRL ini diujicoba dan sempat dijalankan dengan keadaan sesuai di Jepang, tanpa cowcatcher, kawat ram, dan logo Divisi Jabotabek. Namun pada akhirnya, ketiga hal tersebut dipasang. Selama 5 tahun sejak kedatangannya sampai kedatangan rangkaian seri 7000, rangkaian ini selalu berdinas sebagai KRL Depok Ekspres/Bojonggede Ekspres dengan nomor loop 3-4. Penumpang setia loop 3 dan 4 pasti hafal bahwa keretanya akan memakai rangkaian ini, termasuk penulis yang menghabiskan masa kecilnya menaiki Depok Ekspres pemberangkatan Jakarta Kota pukul 16:24 atau 17:55 yang termasuk ke dalam loop 4 setiap akhir minggu, sehingga menjadikan rangkaian ini favorit penulis.
Masih dengan corak Summer of Izu, dengan tambahan kawat ram, cow catcher, dan logo PT KA, tahun 2007 (sumber: Asian Railway Plaza)
Setelah sekitar 2 tahun lebih berdinas di Indonesia, tibalah waktunya untuk rangkaian ini menjalani perawatan akhir lengkap. Livery Summer of Izu pun harus dilepas dari 8007F. Livery ini lalu tergantikan oleh livery kuning hijau yang saat itu sedang tenar dipasang di armada KRL Jabotabek. Memang livery baru yang dipasangkan ini tidaklah seindah livery Summer of Izu, namun livery ini membuat Tokyu 8007F selalu terlihat seperti sedang tersenyum ketika melayani penumpang.
Selepas dinas KA 286 Depok Ekspres, dengan livery hijau kuning tersenyum, 31 Januari 2009
Pada tahun 2011, seiring mulai berdinasnya KRL seri 7000 dari Tokyo Metro yang didatangkan setahun sebelumnya dan langsung mengisi loop-loop Depok Ekspres, membuat Tokyu 8007F terpinggirkan dari dinasan Depok Ekspres dan seketika itu juga rangkaian ini jadi sering berdinas sebagai KRL Ekonomi AC, yang kadang membuat pintunya diganjal oleh penumpang usil atau atapnya diduduki peumpang yang ingin cepat sampai ke rumah namun tidak kebagian tempat di ruangan dalam kereta sehingga mereka tidak lagi memedulikan keselamatan mereka. Rangkaian ini juga pada tahun-tahun itu mulai sering dioper ke jalur Bekasi dan mengisi loop perjalanan Bekasi Ekspres maupun Ekonomi AC Bekasi.

Pertengahan 2011, rangkaian ini menjalani perawatan akhir kedua yang menyebabkan liverynya menjadi biru kuning, namun kini tanpa logo KAI dan sudah memiliki corak kereta khusus wanita. Livery ini bertahan sampai dengan akhir 2015 yang lalu meskipun mengalami satu kali lagi perawatan akhir pada tahun 2013, sebelum akhirnya berganti menjadi corak baru.
Livery biru kuning yang bertahan sampai 2015
Pada perawatan akhir ketiga yang dilaksanakan tahun 2013, rangkaian ini kini menggunakan penomoran baru Kemenhub, dengan urutan sebagai berikut:
Penomoran Jepang
Penomoran Kemenhub
8007
K1 1 05 08
8245
K1 1 05 07
8107
K1 1 05 06
8260
K1 1 05 05
8137
K1 1 05 04
8204
K1 1 05 03
8108
K1 1 05 02
8008
K1 1 05 01

Pada masa penggunaan livery biru kuning ini juga Tokyu 8007F sempat dikorbankan untuk menghidupkan rangkaian lainnya, Tokyu 8039F, yang mengalami kerusakan. Kereta 8007 ditukarkan dengan kereta 8039, dan plat nomor masing-masing kereta juga diganti, sehingga kereta yang aslinya bernomor 8007 jadi menggunakan nomor 8039, sedangkan kereta yang aslinya bernomor 8039 menggunakan nomor 8007.
8039F dengan kereta 8007 bertindak sebagai 8039
8007F dengan kereta 8039 bertindak sebagai 8007
Karena pertukaran tersebut, rangkaian 8007F sempat mangkrak cukup lama di Dipo Depok, sedangkan rangkaian 8039F bisa berdinas dengan tenang. Namun pada akhir triwulan pertama 2015 yang lalu, akhirnya rangkaian ini berdinas kembali, namun dengan formasi yang sudah tidak asli lagi.

Kereta 8107, 8260, dan 8137 ditukar dengan kereta 8711, 8832, dan 8735 dari Tokyu 8611F yang merupakan seri 8500. Dengan formasi seperti ini maka rangkaian ini sekarang terdiri dari 3 rangkaian berbeda yang disatukan menjadi satu rangkaian dengan formasi 8 kereta.

Formasi Tokyu 8007F dan 8039 setelah pertukaran-pertukaran itu adalah:

Penomoran Jepang
Penomoran Kemenhub
Keterangan
8007
K1 1 08 09
Eks 8039
8245
K1 1 05 07
8711
K1 1 07 02
Eks 8611F
8832
K1 1 07 04
Eks 8611F
8735
K1 1 07 05
Eks 8611F
8204
K1 1 05 03
8108
K1 1 05 02
8008
K1 1 05 01
8039
K1 1 05 08
Eks 8007
8248
K1 1 08 10
8158
K1 1 08 11
8218
K1 1 08 12
8164
K1 1 08 13
8249
K1 1 08 14
8159
K1 1 08 15
8040
K1 1 08 16

Namun setelah pertukaran tersebut pun sayangnya 8039F akhirnya harus mendekam lama juga di Dipo Depok, entah kerusakan apa yang menghinggapinya. Sedangkan 8007F yang meskipun formasinya tidak asli lagi namun masih bisa berdinas melayani penumpang di Jabodetabek.

Akhir 2015 kemarin, rangkaian Tokyu 8007F menjalani perawatan akhir keempat selama di Indonesia.. Awalnya mungkin semua mengira bahwa rangkaian ini akan kembali menggunakan warna biru dan kuning. Tetapi nyatanya tidak.
Dengan livery merah-kuning khas PT. KCJ (foto oleh Bayu Sulistyo)
Ternyata, rangkaian ini malah menggunakan livery khas PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), yaitu merah dan kuning, seperti pada seri 103 kemarin. Ini tentunya mengagetkan banyak pihak, baik itu pecinta kereta maupun penumpang kereta yang di hari-hari lalu terbiasa dengan kehadiran KRL Tokyu 8613F "JALITA" yang kini sudah dipensiunkan. Terbukti pada ujicoba yang dilaksanakan kemarin, banyak sekali pecinta kereta yang ikut ambil bagian dalam mengabadikan momen yang mungkin suatu saat akan jadi momen bersejarah ini, baik penduduk lokal maupun penduduk mancanegara yang tinggal di Jabodetabek. Berita bahwa telah merahnya Tokyu 8007F yang terdengar sampai ke Jepang ini juga membuat para pecinta kereta api di Jepang menjadi antusias dan banyak yang ingin melihat secara langsung JALITA kedua ini.

Tanggal 31 Maret tahun ini, umurnya akan menginjak 46 tahun. Umur yang sudah sangat tua kalau diukur dengan ukuran umur manusia. Umur di mana daya tahan akan menurun sehingga akan mengalami banyak penyakit. Ditambah dengan kedatangan 476 unit KRL seri 205 sejak akhir 2013 sampai awal 2016, ditambah lagi dengan rumor akan datangnya 60 unit KRL seri 6000 berteknologi VVVF pada tahun ini, serta kedatangan-kedatangan KRL lain mulai 2017 sampai entah kapan, plus rencana standarisasi formasi kereta menjadi minimal 10 kereta di setiap lintas yang ramai penumpang, membuat Tokyu 8007F dan rangkaian-rangkaian peninggalan Divisi Jabotabek yang lain kian terjepit, tergusur oleh kehadiran KRL yang lebih baru dan lebih muda, setelah pada awalnya sudah sempat tergusur dengan KRL-KRL eks Tokyo Metro (seri 05, 6000, dan 7000) yang didatangkan oleh PT. KCJ dari tahun 2010 sampai 2012. Berhentinya seri 103 dari kedinasan adalah salah satu contoh dari tergusurnya KRL era Divisi yang tua oleh modernisasi dengan KRL yang dianggap lebih baik. Sampai kapankah Tokyu 8007F akan tetap berdinas di Indonesia? Tidak ada yang tahu. Hanya sang waktu yang mengetahui jawabannya.

Photos not belongs to me are credited to their sources and owners respectfully.
Photos without credit were created by me. I, the copyright holder of those work, hereby publish it under the Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International License.

RE Digest | MPSCLFJRN

About Muhammad Pascal Fajrin

Just a kid from yesterday, today. An early "two-headed age" young man with big dreams, and still trying to make those dreams come true. A romantic, loving, and caring person. Likes nasi goreng so much.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment