testimoni

testimoni

Jika Kalian Ingat Hal-Hal Ini, Kalian Railfans atau Roker era Divisi Jabotabek


Divisi Jabotabek, merupakan sebuah divisi di bawah PT Kereta Api Daop 1 Jakarta yang bertugas menjalankan operasional KRL Jabotabek. Divisi ini dibentuk pada tahun 1999 atas rekomendasi Bank Dunia dan eranya berakhir pada 2009 digantikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek. Meskipun pada era Divisi Jabotabek begitu banyak kekurangan di sana-sini, namun banyak hal yang seringkali membuat para Roker (rombongan kereta) dan railfans yang pernah merasakan era Divisi ini terkenang.

Dan mungkin saja, railfans di era sekarang maupun yang akan datang tidak dapat merasakan sensasi dari keterbatasan, kesederhanaan, dan sedikit "kegilaan" yang pernah terjadi di era Divisi. Apa saja sih hal-hal yang bisa membuat anda terkenang dengan era ini?

1.KRL Ekonomi
KRL Ekonomi Rheostatik saat masih berwarna oranye
Kalo yang ini gausah di tanya lagi deh. Karena KRL Ekonomi sudah menjadi "brand" dan "trademark" tersendiri di era Divisi Jabotabek. Operasionalnya yang ditandai dengan beroperasinya KRL Rheostatik Mild Steel pada tahun 1976, membuatnya menjadi "urban legend" di kalangan penumpang dan penggemar kereta api di era Divisi.

Pelayanan yang seadanya menjadi kenangan bagi penumpang dan railfans. Pintu yang tak pernah bisa di tutup, bangku plastik/kayu yang bikin sakit pantat, suspensi yang luar biasa "halus", vandalisme, juga jangan lupa pengamen, pengemis, dan pedagang asongan yang seolah-olah menghidupkan suasana di dalam kereta.

sekelompok pengamen yang sedang beraksidi dalam KRL
sumber foto
KRL Ekonomi sendiri biasanya dilayani oleh empat seri KRL. Yakni Rheostatik (mild dan stainless), BN Holec, Hitachi, dan ABB Hyundai. Namun di antara keempat KRL ekonomi, yang paling terkenal dan melegenda adalah KRL BN Holec.

KRL BN Holec saat mogok di Stasiun Bogor
KRL buatan Belgian-Netherland Holland Electric dan di rakit oleh PT INKA Madiun ini sangat melegenda di kalangan penumpang. KRL ini sangat terkenal sebagai KRL yang paling gampang mogok, akselerasinya lambat, dan performanya yang lemah. Bahkan sampai ada ungkapan "Jika di jaman divisi KRL sampai tiap 10 menit ada, artinya habis ada Holec gangguan di depan!". Namun ada satu hal yang menjadi ciri khas dari KRL ini, yakni suara dinamo VVVFnya saat berakselerasi ketika berangkat dari stasiun.

Karena suaranya itulah yang membuat KRL ini mendapatkan banyak julukan dari kalangan penumpang. Seperti Holec, Gimbot, bahkan ada yang menyebutnya F1 karena suaranya terdengar mirip dengan suara mesin mobil balap Formula 1.

2.KRL Express, Semi Express, dan Ekonomi AC.
KRL seri Toei 6000 di Dipo Bukit Duri
sumber foto
KRL Express, solusi tepat bagi anda yang terburu-buru atau butuh waktu cepat ke tempat tujuan. Ya, KRL ini hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Tak hanya itu, KRL ini juga memiliki pelayanan selayaknya kereta eksekutif jarak jauh walaupun hanya sebagai kereta komuter. Kereta ber-AC walaupun bekas Jepang, bangku empuk, dan kepastian mendapatkan tempat duduk karena dulu KRL Express itu menggunakan sistem penomoran tempat duduk selayaknya kereta api jarak jauh.

Penomoran tempat duduk ini seringkali menyebabkan perdebatan hingga perkelahian di dalam kereta karena salah nomer tempat duduk atau salah gerbong. Selain itu, seri KRL yang digunakan pun bermacam-macam seperti Toei 6000, JR 103, Toyo Rapid 1000, Tokyo Metro 5000, duo Tokyu 8000 dan 8500, juga KRL-I Prajayana. Uniknya lagi beberapa seri KRL biasanya menjadi simbol KRL Express yang dilayaninya.

Contohnya seperti Toei 6000 yang menjadi maskot KRL Pakuan Express dan Ciujung Express, Tokyu 8000 dan 8500 yang menjadi maskot Bekasi Express, dan JR 103 yang menjadi maskot Benteng Express.

Selain seri KRL yang menjadi maskot, ada juga nomor rangkaian KRL yang menjadi maskot dari loop-loop KRL Express tertentu. Misalnya, Tokyu 8007F sejak 2005 selalu mengisi Depok Express dengan nomor-nomor KA pada Gapeka 2010 ini: 267, 306, 307, 286, 287, 290, 299, 294, menggantikan Toei 6161F yang juga sempat agak lama mengisi loop itu. Di lintas Bekasi sendiri ada satu loop yang selalu memakai Tokyu 8604F sebagai armadanya.

Untuk KRL Ekonomi AC, yang paling terkenal di antara kalangan railfans maupun Roker adalah KRL-I Prajayana yang selain dijadikan Pakuan Ekspres juga sempat dijadikan KRL Lingkar Ciliwung, serta Toei 6281F yang menjadi KRL Ekonomi AC Ciujung, yang menjadikannya satu-satunya KRL dari seri ini yang mengemban tugas menjadi KRL Ekonomi AC.  

3. Myriad Colors Divisi Jabotabek

Bukan, ini bukanlah judul serial animasi! Hal ini memang terjadi ketika di jaman Divisi Jabotabek ketika KRL baik non-AC ataupun AC untuk setiap seri memiliki corak warna yang berbeda-beda. Bahkan untuk rangkaian Tokyu 8000/8500 saja, KRLnya punya warna yang amat sangat beragam per rangkaian, seakan ada berjuta (myriad) warna! Sesuatu hal yang sekarang hanya bisa jadi kenangan ketika semua KRL mulai diwarnai kuning-merah yang membosankan, tapi apa boleh buat

Karena kalau dijabarkan untuk setiap seri dan untuk setiap periode masing-masing seri akan menjadi terlalu panjang, maka lebih baik nikmati saja gambar-gambar yang mewakli setiap seri saja ya.
Ragam livery milik KRL Tokyu di Divisi Jabotabek (Kebanyakan adalah livery pertama pada rangkaian tersebut). Sumber
KRL Tokyu 8611F dengan livery pertamanya, mewakili jutaan warna di Divisi Jabotabek (Sumber: 2427 Junction)

...Dan livery kedua dari Tokyu 8611F (Jayeng Rizky)
Livery asli Summer of Izu milik rangkaian Tokyu 8007F tahun 2007 (sumber: Asian Railway Plaza)
KRL 103 dengan corak warna biru. Ini adalah livery keduanya setelah menggunakan livery seperti jalur Musashino (Sumber: 2427 Junction)
KRL Toyo Rapid 1091F dengan corak warna aslinya dan logo Divisi Jabotabek (Sumber: 2427 Junction)
KRL Toyo Rapid 1060F dengan corak hijau sebagai livery keduanya (Nakano Irwansyah)
Skema dari KRL Rheostatik Catdog dengan warna oranye (2005-2009)... (Sumber: 2427 Junction)
...Dan dengan warna hijau susu (2009) (Sumber: Wikimedia)
KRL Toei 6000 dengan skema warna 2005-2007 yang berupa livery keduanya (Sumber: 2427 Junction)
Livery pertama rangkaian Tokyo Metro 5017F semasa Divisi (Sumber: 2427 Junction)
4. Atapers!

Railfans dan Roker tentu tidak asing lagi dengan yang namanya atapers. Ya bagaimana tidak, sejak jaman baheula hingga tahun 2013, setiap KRL yang beroperasi di jam kerja tidak pernah lepas dari serangan atapers


Atapers yang selalu memenuhi atap KRL setiap jam berangkat/pulang kerja
Atapers biasanya memenuhi atap KRL pada saat jam berangkat dan pulang kerja pada saat kondisi kereta sedang penuh-penuhnya. Bahkan ketika kondisi di dalam kereta kosong, masih saja ada penumpang yang naik di atap dengan beribu alasan. Banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat atapers yang terjatuh ataupun tersengat Listrik Aliran Atas atau LAA. Namun seolah hanya letupan petasan, mereka tidak pernah kapok untuk naik di atap.

Tak hanya KRL ekonomi yang menjadi korban keganasan para atapers. Kereta api ekonomi jarak jauh, kereta lokal, hingga KRL Ekonomi AC pun menjadi korban keganasan para atapers. Bahkan ketika era peralihan, KRL Commuter Line juga menjadi korban keganasan atapers.

Tokyo Metro 6125, salah satu armada Commuter Line yang pernah jadi korban keganasan atapers
Perlu diketahui, stasiun yang terkenal sebagai penyumbang atapers terbanyak adalah Bojong Gede, Citayam, Depok, dan Depok Baru. Beragam upaya dilakukan PT Kereta Api Divisi Jabodetabek pada saat itu untuk menghalau para atapers. Dari mulai memasang duri-duri di atap, kawat berduri, hingga membeton atapnya tapi tak ada satupun cara itu yang berhasil.

Aksi paling ekstrim untuk menghalau atapers dilakukan saat era peralihan ke Commuter Line tahun 2012. PT KCJ memasang palang penampar alias pintu koboi di Kalibata dan Pasar Minggu Baru serta semprotan cat di Duren Kalibata. Aksi ini ternyata mendapatkan perlawanan sengit dari para atapers. Palang penampar tersebut dirusak dan terjadi pelemparan batu ke PJL Duren Kalibata.

Bahkan PT KCJ pun menurunkan Marinir untuk menertibkan para atapers yang membandel serta mengamankan stasiun. Bahkan hingga hari ini para Marinir masih menjaga stasiun hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Palang penampar yang dipasang di Lenteng Agung
Kaskus
5. Kuliner era divisi

Ahh rasanya gak lengkap kalo ngomongin era divisi tanpa membicarakan kuliner khas era divisi. Beragam jenis street food ditawarkan di era divisi Jabotabek. Namun salah satu yang paling terkenal di kalangan railfans adalah soto betawi dan es selendang mayang Stasiun Jakarta Kota.

Gerobak pedagang soto betawi dan es selendang mayang di Stasiun Jakarta Kota

Es selendang mayang dan soto betawi ini dulu dijual di jalur 3 Stasiun Jakarta Kota. Soto betawi dan es selendang mayang ini cukup terkenal karena rasanya yang enak dan harganya yang murah. 

Bayangkan saja, anda bisa dapat 1 porsi soto betawi yang gurih dan lengkap isiannya hanya seharga 5000 Rupiah dan es selendang mayang yang dingin dan segar seharga 3000 Rupiah. Namun sayangnya, pada saat era peralihan pedagang soto dan es selendang mayang ini menghilang dari peron 3. Berdasar info yang kami peroleh dari informan kami, pedagang soto dan es di Jakarta Kota kini telah pindah ke Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

6. Balokan Manggarai


Railfans era Divisi pastinya tak asing apabila mendengar kata ''balokan''. Balokan Manggarai sendiri adalah sebuah warung kecil letaknya tepat berada di sebelah kantor PUK lama. Tempat ini disebut balokan karena banyaknya bantalan beton yang ditumpuk disini, karena itulah disebut balokan. Bantalan-bantalan tersebut biasa dipakai para railfans untuk duduk-duduk disini.

Disinilah para railfans era divisi yang biasa disebut "Balokan Squad" berkumpul dari hanya sekedar nongkrong, hunting, sharing, hingga jajan di warung. Kini balokan sendiri sudah tiada karena bangunan warung dan PUK lama digusur untuk pembangunan PUK yang baru. Seiring dengan menghilangnya balokan, seiring menghilangnya juga balokan squad karena mereka semua telah memiliki kesibukannya masing-masing.

Itulah beberapa hal yang mungkin bisa membangkitkan kenangan anda mengenai era Divisi Jabotabek. Seperti kata orang, era Divisi itu bisa dibilang "suram namun indah". Suram karena kebobrokan di sana-sini namun indah karena kenangan yang ditinggalkannya. Banyak hal di era Divisi yang tak bisa terulang kembali saat ini sehingga semua itu menjadi kenangan manis yang sulit untuk dilupakan.


RE Digest | Bayu Tri Sulistyo | Tubagus Gemilang Pratama 













About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment