testimoni

testimoni

Menanti KRL Beroperasi di Koridor Solo-Jogja-Kutoarjo

Rute Solo-Jogja-Kutoarjo merupakan rute komuter paling ramai di Provinsi Jawa Tengah. Setiap harinya, banyak sekali para penglaju yang bepergian menuju Yogyakarta dari Kutoarjo maupun Solo, ataupun dari Yogyakarta menuju Solo dan Kutoarjo. Para penglaju itu terdiri dari berbagai macam golongan, di antaranya adalah pekerja kantoran, dosen, pedagang, maupun orang yang hanya ingin sekedar refreshing dari rutinitas.
KRDE AC yang digunakan untuk KRD Prameks
Ada beberapa moda transportasi yang digunakan oleh para penglaju di rute Solo-Jogja-Kutoarjo ini, yaitu kendaraan pribadi, bus dengan tarif antara 10-15 ribu rupiah, travel dengan tarif yang cukup mahal antara 40-55 ribu rupiah, dan tentu saja kereta api, yaitu KRD Prambanan Ekspres (Prameks) dengan tarif 8 ribu rupiah. Ada pula KA Joglokerto dengan perjalanan yang lebih sedikit dari Prameks dan tarif yang lebih mahal.
KRDE non AC
KRD Prameks memang memiliki tarif yang paling murah di antara moda-moda lainnya. Namun, KRD Prameks, bagi sebagian orang, tidak memberikan layanan yang lebih baik daripada moda lainnya. Untuk jarak Solo-Kutoarjo yang cukup jauh, dalam satu hari hanya diisi oleh 4 rangkaian KRD saja. Itupun tidak semua perjalanan KRD Prameks sampai Kutoarjo, beberapa perjalanan hanya sampai di Yogyakarta, sehingga jarak antara kereta yang satu dan yang lainnya jauh. Selain itu, KRD Prameks biasanya hanya menggunakan rangkaian Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) non AC rekondisi dari KRL Holec dengan formasi 5 kereta per rangkaian, itupun kapasitasnya tidak maksimal karena salah satu keretanya digunakan untuk tempat menaruh mesin diesel, dan mesin diesel tersebut memakan 2/3 bagian dari kereta tersebut. Bahkan jika salah satu KRDE sedang perawatan, akan digantikan dengan KRD MCW302 yang hanya membawa 3-4 kereta saja. Memang sejak beberapa tahun yang lalu KRD Prameks akhirnya mendapatkan armada KRDE AC. Namun, KRDE AC ini spesifikasinya tidak cocok untuk komuter, karena sejatinya spesifikasi KRDE AC yang digunakan adalah spesifikasi suburban dengan bangku berhadapan untuk jarak menengah, sehingga KRDE AC ini tidak bisa maksimal dalam membawa penumpang, terutama untuk penumpang berdiri. Pun begitu KRD MCW302. Sedangkan KRDE non AC memiliki spesifikasi urban asli bawaan KRL Holec (karena sebelumnya memang juga digunakan sebagai angkutan urban di Jabodetabek) dengan bangku menyamping, sehingga kapasitas bisa lebih dimaksimalkan.
Kepadatan di dalam KRD Prameks non AC (foto: ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
Keadaan yang seperti ini membuat banyak penglaju yang akhirnya menggunakan moda lain seperti bus yang jaraknya lebih rapat ketimbang KRD Prameks. Terkadang, waktu tempuh menggunakan bus juga lebih cepat daripada kereta. Tapi, yang namanya jalan raya itu tidak mungkin tidak mengalami kemacetan, terutama saat musim liburan atau saat rush hour. Karena itulah penumpang Prameks tetap padat sehari-harinya, mengangkut sekitar 6000 penumpang dari sekitar 10000 penglaju.

Salah satu solusi menangani kepadatan di rute Solo-Jogja-Kutoarjo adalah dengan mengganti KRD Prameks menjadi KRL komuter. KRL komuter memiliki kapasitas yang lebih besar ketimbang KRD, dan juga lebih ramah lingkungan. Biaya operasional KRL juga lebih rendah dari KRD. Selain itu, armada KRD yang ada sekarang juga sudah tidak lagi efektif karena kapasitasnya yang tidak maksimal. Untungnya, ada angin segar dari pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang akan membangun elektrifikasi jalur kereta api di ruas Solo-Jogja-Kutoarjo. Proyek elektrifikasi ini memang sudah lama berhembus kabarnya, namun tidak kunjung dilaksanakan dan baru akan dilaksanakan tahun ini, dengan target akan rampung pada akhir tahun. Untuk progresnya, saat ini sudah ada sekitar 8.000 tiang beton di Solo Jebres yang akan digunakan untuk jaringan listrik aliran atas.
KRL AC yang beroperasi di Jabodetabek, pembelian era Divisi Jabotabek. Mungkinkah dioper ke Jogja?
Spesifikasi KRL yang akan digunakan di ruas Solo-Jogja-Kutoarjo juga tidak akan berbeda dengan spesifikasi di Jabodetabek, yaitu KRL dengan tegangan 1500 volt DC, sehingga untuk armada bisa didukung dari armada yang sudah ada di Jabodetabek, meskipun armada yang mungkin bisa dioper ke sana adalah armada KRL eks-Jepang yang dibeli sebelum tahun 2010, atau yang dibeli oleh Divisi Jabotabek. Selain itu bisa juga menggunakan KRL KfW dan KRL Holec AC yang dirakit oleh PT Industri Kereta Api di Madiun.

Dengan elektrifikasi ini, tentunya kapasitas penumpang yang dapat ditampung juga akan bertambah sehingga akan bisa mengangkut lebih banyak lagi penumpang setiap harinya. Juga, jadwal dan loop akan bisa ditambah, sehingga jarak antara satu rangkaian dengan rangkaian lainnya tidak terlalu jauh. Kenyamanan juga akan bertambah, dikarenakan KRL yang tidak bising dan tidak terlalu bergetar jika dibandingkan dengan KRD.

Pasti banyak yang sudah tidak sabar menanti kehadiran KRL di rute Solo-Jogja-Kutoarjo. Khusus untuk pecinta kereta api, khususnya yang lebih antusias dengan KRL dibandingkan kereta jenis lain, pastinya juga sudah penasaran armada apa yang akan digunakan di sana nanti. Jadi, kita nantikan saja.

RE Digest | MPSCLFJRN

About Muhammad Pascal Fajrin

Just a kid from yesterday, today. An early "two-headed age" young man with big dreams, and still trying to make those dreams come true. A romantic, loving, and caring person. Likes nasi goreng so much.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 komentar:

  1. jr 205 sebagian taro di jogja dong, kan bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Seri 205 adalah aset korporat milik PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek
      2. Seri 205 sangat dibutuhkan di Jabodetabek karena perawatan yang lebih mudah dan juga mudah untuk diacak-acak susunan rangkaiannya, sehingga dapat menolong kebutuhan KRL 10 kereta yang makin banyak
      3. Seri 205 kedatangannya ke Indonesia masih tergolong baru

      Jadi menurut saya, gak mungkin kalo JR205 yang dioper ke sana, karena meskipun PT. KCJ adalah anak dari PT. KAI, tapi PT. KCJ punya asetnya sendiri, dan aset tsb tidak menjadi milik dari induknya (CMIIW), makanya sya stated di atas kalo yang mungkin itu KRL eks Jepang pembelian Divisi Jabotabek PT. KAI, KRL Holec AC, atau KRL KfW. Bisa juga sih pake KRL yang bener-bener baru.

      Delete
  2. mungkinkah ini ada hubungannya dengan Tokyo Metro 6000 yang akan datang lagi? karena bisa jadi saja, seri 6000 ini didatangkan untuk menggantikan KRL-KRL Jabodetabek yang akan dipindahkan ke Sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mungkin aja sih, cuma kita ga tau apa yang akan KAI pakai di sana kan

      Delete
  3. Kirim semua toei 6000 yang ada di dipo Depok :v

    ReplyDelete