testimoni

testimoni

Mengenal Lebih Dekat KRL 205-66F: Terkenal Karena Nestapa, Berakhir Acak-Acakan

KRL 205-66F. Hanya beberapa jam sebelum mengalami kecelakaan di Citayam, 3 April 2015.
205-66F, juga diketahui sebagai KuRa H6... Ah, para railfans di Daop 1, terutama yang sempat menikmati Joyride Nambo pada hari ketiga tidak akan melupakan rangkaian yang satu ini. Nasibnya menjadi terkenal di antara seri 205 eks Yokohama yang ketika itu masih baru bukan karena suatu hal yang baik, tetapi justru karena suatu hal yang tragis. Tidak hanya itu, sekarang pun ia menjadi acak-acakan karena semua keretanya sudah tersebar di berbagai rangkaian.

Baca juga: Yuk Kita Lihat Serunya "Joyride" Hari Ke-3 Pengoperasian Jalur Nambo
Rangkaian 205-66F ketika masih berdinas di Jepang pada tahun 2013 (Sumber)
Perjalanan hidup dari rangkaian ini bermula ketika East Japan Railway Company (JR East) memutuskan untuk mengganti armada seri 103 yang sudah mengabdi dari tahun 1972, sehingga dibuatlah satu batch KRL seri 205 yang semuanya ditugaskan untuk menggantikan KRL seri 103, dengan nomor seri 205-61 hingga 205-85. (H26-H28 bukan rangkaian asli Yokohama dan didatangkan kemudian)

Set 205-66F sendiri mulai berdinas di jalur Yokohama sejak 30 September 1988, dengan formasi awal tujuh kereta.
Formasi asli dari 205-66F dengan tujuh kereta
Dengan meningkatnya kepadatan penumpang di jalur Yokohama, maka semenjak tahun 1994, pihak JR East menambahkan sebuah kereta enam (12) pintu ke rangkaian seri 205 di jalur Yokohama, sehingga stamformasinya bertambah panjang menjadi 8 kereta, dan kemudian bertahan hingga akhir dinasnya tahun 2014.

Dimulai dari tahun 2006, KRL seri 205 di jalur Yokohama mulai dimodernisasi dengan penggantian penunjuk rute dari tipe rol menjadi tipe LED, serta dimulai dari tahun 2008, penggantian tipe pantograf dari pantograf lengan ganda PS21 menjadi pantograf tipe lengan tunggal PS33. Set 205-66F ini pun tak luput dari langkah modernisasi yang dilakukan oleh JR East.
Formasi dari 205-66F tepat sebelum dikirim ke Indonesia. 
Pada tahun 2014, sehubungan dengan kedatangan seri E233-6000 yang ditugaskan untuk menggantikan peran KRL seri 205 di jalur Yokohama, maka berakhirlah tugas KRL 205 di sana. Pada saat itu juga, PT KAI Commuter Jabodetabek memutuskan untuk membeli KRL dari jalur Yokohama sebanyak 22 set untuk memenuhi kebutuhan armada di lintas Jabodetabek dan menggantikan peranan armada yang lebih tua di sana.

Mulailah dilakukan pengirman rangkaian dari dipo Kamakura menuju pelabuhan Niigata sejak pertengahan 2014. Di antara 28 rangkaian yang ada di jalur Yokohama, set 205-66F/H6 menjadi yang beruntung untuk dikirim menuju Jakarta.

Pengiriman KRL 205-66F menuju pelabuhan Niigata menggunakan lokomotif listrik EF 64 1031, Mei 2014 (Sumber)
Menunggu giliran untuk diangkat ke atas kapal barang dari Niigata menuju Tanjung Priok. Mei 2014 (Sumber)
Formasi 205-66F di Indonesia, lengkap dengan nomor menhubnya
Setelah tiba di Indonesia dan menjalani proses uji coba, KRL rangkaian 205-66F ini kemudian menjalani dinas regulernya di Indonesia sebagai rangkaian asal jalur Yokohama yang paling pertama berdinas (Berdasarkan nomor urut Kemenhub. Karena rangkaian sebelumnya adalah K1 1 14 141-150 (205-123F) yang berasal dari jalur Saikyo)

Selama berdinas selama hampir setahun, rangkaian ini tidak terlalu dikenal oleh railfans, pun tidak pernah terlibat satupun kejadian serius.

Pada April 2015, sejak jalur Nambo dibuka kembali pada tanggal 1, rangkaian 205-66F mendapatkan "kehormatan" untuk menjadi yang pertama berdinas reguler di jalur tersebut. Penulis sendiri berkesempatan untuk menaiki rangkaian ini di jalur Nambo pada tanggal 2 dan 3 April 2015, dan menemukan keunikan:
Peta tahun 2012 yang tanpa diketahui mengapa dipasang di rangkaian 205-66F. 2 April 2015
Dan pada tanggal 3 April 2015, terjadi rentetan insiden yang akan mengubah reputasi rangkaian KRL ini untuk selama-lamanya. 

Pertama, rangkaian ini mengalami kecelakaan akibat tertabrak sepeda motor di Citayam yang menimbulkan korban pengendara sekarat (Dan menurut info yang beredar kemudian, menghembuskan napas terakhir pada malam harinya setelah penanganan di rumah sakit), dan menimbulkan kerusakan pada cowcatcher pada sisi 204-66, serta menambah keterlambatan perjalanan karena proses evakuasinya saja butuh satu jam.

Para Railfans memotret kerusakan cowcatcher yang dialami oleh 205-66F. Bandingkan dengan foto yang di awal artikel yang diambil tepat sebelum kecelakaan.
Kesialan berikutnya pun baru saja akan dimulai. Setelah mengalami keterlambatan parah karena tabrakan serta adanya gangguan operasional lain di Citayam yang menahan rangkaian ini di Nambo, ketika rangkaian KRL ini baru saja akan bergerak, tiba-tiba saja voltasenya mengalami drop sehingga kemudian rangkaian KRL tersebut tidak dapat bergerak. Rangkaian ini akhirnya terjebak di Nambo selama sekitar dua jam sebelum kemudian bisa diberangkatkan kembali sampai Stasiun Depok.

Suasana ketika rangkaian KRL 205-66F mati listrik
Tiga kesialan beruntun 205-66F dalam sehari ini mengakibatkan reputasinya sebagai "anak nakal" melekat di beberapa kalangan railfans, termasuk rekan-rekan Redaksi REDigest

Pengacakan Formasi

Hampir setahun tanpa mengalami tragedi apapun, tiba-tiba saja pada akhir Februari 2016, dengan kebijakan pengaturan ulang stamformasi KRL, maka secara berangsur-angsur banyak dari rangkaian asal Yokohama yang menjadi lebih panjang dengan stamformasi 10 kereta, atau justru menjadi tidak bisa dioperasikan karena kereta motornya habis dipakai rangkaian lain.

Rangkaian 205-66F menjadi salah satu rangkaian yang menjadi "tumbal" dalam perubahan stamformasi ini. Dengan rincian:

Unit モハ (MoHa) 205-191 dan モハ (MoHa) 204-191 diambil oleh rangkaian 205-62F (KuRa H2) yang menjadi stamformasi 10 kereta
Unit モハ (MoHa) 205-192 dan モハ (MoHa) 204-192 diambil oleh rangkaian 205-61F (KuRa H1) yang menjadi stamformasi 10 kereta

Sementara sisa empat kereta, yaitu クハ (KuHa) 205-66, サハ(SaHa) 205-126, サハ (SaHa) 204-106, dan クハ (KuHa) 204-66 tertinggal di dipo Depok, sebelum pada akhirnya diputuskan langkah yang lebih menakjubkan:

Unit SaHa 205 dan SaHa 204 pada rangkaian 205-66F ditukar dengan unit MoHa 205-361 dan 204-362 pada rangkaian 205-133F (NaHa 12). Sisa rangkaian 205-66F yang sudah berubah lagi formasinya kemudian digabung dengan rangkaian 205-68F sehingga menjadi rangkaian 12 kereta dengan stamformasi ajaib 8+4. 

Sedangkan unit SaHa 205 dan SaHa 204 dari 205-66F dipasang ke rangkaian 205-133F yang bergandengan dengan rangkaian 205-132F (NaHa 11) sebagai formasi 12 kereta juga, dengan rincian:
Stamformasi gabungan 205-68F dengan 205-66F dengan tambahan unit kereta bermesin dari 205-133F 
Unit SaHa 204 dan 205 dari 205-66F yang berada di rangkaian 205-133F
Sehingga pada praktiknya, hal ini menandakan akhir riwayat dari rangkaian KuRa H6 (205-66F) karena unit keretanya sudah tersebar semua ke rangkaian-rangkaian lain.

Demikianlah kisah dari rangkaian KRL 205-66F, yang menjadi terkenal karena nestapa, dan berakhir menjadi "korban" pengacakan rangkaian. Mari kita lihat apakah kelak ada rangkaian 205 yang menyusul nasibnya nanti seiring dengan perubahan formasi KRL di Jabodetabek.

Photos not belongs to me are credited to their sources and owners respectfully.
Photos without credit were created by me. I, the copyright holder of those work, hereby publish it under the Creative CommonsAttribution-Share Alike 4.0 International License.

RE Digest | ARGO SAKURAI/IKKO HAIDAR FAROZY

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

  1. Hmmm....

    Tapi masih beruntung sih bisa disambung sama set lain... :)

    ReplyDelete
  2. Hmmm....

    Tapi masih beruntung sih bisa disambung sama set lain... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, karena ternyata H27 lebih mengenaskan -_-

      Delete