testimoni

testimoni

Pemkab Lebak akan Merealisasikan Re-aktifasi Rangkasbitung-Bayah

Stasiun Saketi
Wikipedia
[11/4/16]. Ada kabar gembira nih buat railfans Lintas Kulon. Pemerintah Kabupaten Lebak akan merealisasikan re-aktifasi jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah. Seperti dikutip dari laman okezone.com, Kabag Administrasi Pembangunan Sekretariat Kabupaten Lebak Ajis Suhendri mengatakan bahwa Pemkab Lebak menyatakan siap membantu re-aktifasi jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah.

Pemkab akan mengawal proses re-aktifasi dengan melakukan sosialisasi tentang kepada masyarakat yang menempati kawasan di sekitar jalur ini. Ajis berharap re-aktifasi berjalan lancar dan berharap masyarakat mau meninggalkan tanah bekas jalur rel tanpa meminta ganti rugi.

Kahumas PT KAI Daop 1 Jakarta Bambang Setiyo Prayitno mengatakan bahwa pihaknya siap untuk melaksanakan re-aktifasi jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah. Re-aktifasi jalur ini dinilai sangat penting untuk untuk menunjang transportasi masyarakat dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar jalur ini.

Masyarakat Kabupaten Lebak juga mendukung re-aktifasi jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah ini. Saepul Hadi, warga Rangkasbitung ini berharap dengan diaktifkannya kembali jalur ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi di Kabupaten Lebak sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lebak.

Jalur Rangkasbitung-Saketi-Bayah sendiri memiliki panjang 150 kilometer menghubungkan Stasiun Rangkasbitung dengan Stasiun Saketi dan Stasiun Bayah. Jalur ini dibangun pada tahun 1943-1944 pada masa kolonial Jepang untuk memasok batubara pada masa Perang Dunia II.

Akibat kekejaman Jepang, pembangunan jalur ini memakan korban jiwa romusha yang sangat banyak pada saat itu. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak romusha yang tewas saat pembangunan jalur ini. Diperkirakan puluhan ribu romusha tewas akibat pembangunan jalur ini. 

Namun sayangnya jalur ini berumur sangat pendek. Pada masa kemerdekaan jalur ini seperti saklar lampu yang dicetak-cetek alias hidup-mati. Pada masa kemerdekaan taun 1945-1946 pengelolaan jalur ini diserahkan pada Djawatan Kereta Api (DKA). Belum setahun berpindah tangan jalur ini sempat tak beroperasi pada 1946-1947 akibat kekacauan politik dan agresi militer pada saat itu. Jalur ini kembali aktif pada 1948 sebelum akhirnya ditutup total pada tahun 1951 akibat merugi.

Sudah 65 tahun jalur bersejarah ini mati. Seluruh lapisan masyarakat di Banten dan railfans menantikan aktifnya kembali jalur bersejarah ini. Kita lihat saja keseriusan dari Pemkab Lebak, Pemprov Banten, DirjenKA, dan PT KAI untuk mengaktifkan kembali jalur ini.

RE Digest | Bayu Tri Sulistyo


About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment