testimoni

testimoni

Yuk Kita Lihat Serunya "Joyride" Hari Ke-3 Pengoperasian Jalur Nambo.



Sudah 1 tahun Jalur KRL Citayam-Nambo beroperasi. Aktifnya jalur ini sangat ditunggu tak hanya bagi railfans di Jabodetabek, tapi juga di seluruh Indonesia. Karena usia jalur ini masih sangatlah muda jadi aktifnya sangat ditunggu-tunggu. Hadirnya KRL di jalur ini, disambut dengan sangat meriah oleh para railfans dari seluruh penjuru Daop 1.

Berhubung hari pertamanya beroperasi di (1 April 2015) jatuh pada hari Rabu, jadi para railfans baru bisa melakukan joyride di hari ketiganya yakni pada tanggal 3 April 2015. Kereta yang digunakan adalah 2015-66F Kura H6. Semua railfans berbondong-bondong ke Lintas Selatan untuk naik KRL ini. Semua naik secara terpisah dari rumah terdekat. Ada yang naik dari Duri, Pasar Minggu, Depok, Universitas Pancasila, dan yang terbanyak dari Citayam.

Siapa yang menduga hanya dalam beberapa jam, penampilan KRL ini akan menjadi amat berbeda. (Ikko Haidar Farozy)
Para railfans yang naik dari Citayam
Awalnya ketika berangkat dari Duri, kereta tidak begitu ramai. Namun ketika sampai di Citayam kereta jadi sangat ramai karena para railfans yang sudah menanti meskipun kereta terlambat datang. Kereta berhenti agak lama di Citayam untuk menunggu wesel berpindah. Setelah wesel pindah dan aspek sinyal aman, kereta berangkat dengan perlahan untuk berbelok ke arah Nambo.

Keriuhan dari para railfans menyeruak di dalam ketika kereta berbelok ke Nambo. Semua stand by di kaca jendela sebelah kanan untuk merekam momen-momen ketika kereta keluar dari jalur utama dan masuk ke jalur cabang. Belum 10 menit kereta masuk jalur cabang, terdengar suara hantaman seperti menabrak sesuatu dan kereta langsung berhenti.

Warga langsung berkerumun di sekitar KRL yang dipenuhi oleh railfans itu. Tak disangka ternyata kereta menabrak sepeda motor di perlintasan Gg. Langgar, tak jauh dari percabangan. Tak tanggung-tanggung, motor yang ditabrak adalah Honda CBR 150R Repsol. Akibat tabrakan itu, sang pengendara masuk hingga ke kolong kereta 2, tepat di bawah six doors. 

Warga yang berkerumun di setelah seorang pengendara motor tertabrak KRL Nambo
Akibat kecelakaan itu, kereta yang sudah terlambat tertahan selama setengah jam karena mengevakuasi korban yang terjebak di kolong kereta 2 dan memotong cowcatcher sisi 204-66 karena motor tersangkut di cowcatcher kereta. Setelah proses evakuasi selesai, kereta baru bisa berjalan. Situasi pun kembali normal dan para railfans di dalam kereta membicarakan masalah itu.

Kereta berhenti di Stasiun Cibinong pada pukul 16.28. Kondisi di dalam semakin penuh sesak oleh warga sekitar yang ingin mencoba KRL sampai Nambo lalu kembali lagi ke Cibinong. Kereta yang sudah riuh oleh para railfans jadi semakin riuh oleh warga Cibinong yang didominasi oleh anak-anak dan remaja.


Pintu-pintu dan jendela kereta semakin ramai oleh warga dan railfans  yang ingin merekam saat-saat kereta melintas di atas Jembatan Kranggan dan Tol Jagorawi. Perjalanan dari Cibinong ke Nambo tidak memakan waktu yang lama karena kereta melintas langsung di Stasiun Gunung Putri. Hanya perlu sekitar 10 menit untuk sampai di Nambo.

Sesampainya di Nambo pada pukul 16.39, para railfan langsung berkerumun di depan kereta untuk melihat kondisi bagian depan pasca menabrak sepeda motor di Gg. Langgar. Cowcatcher kereta jadi groak akibat dipotong untuk proses evakuasi motor. Railfans berebut mengabadikan bagian depan kereta yang groak.

Cowcatcher yang patah akibat kecelakaan di Gg. Langgar
Setelah mengabadikan cowcatcher groak tak lupa mereka memotret daerah sekitar Stasiun Nambo seperti bangunan utama stasiun, loket, juga gerbong-gerbong datar yang stabling di jalur 3 sampai jalur 6 Stasiun Nambo. Dan tak lupa beberapa railfans berfoto bersama dan selfie untuk mengabadikan momen pertama mereka naik KRL ke Nambo.

Namun saat railfans dari komunitas RDOne berfoto bersama diwarnai dengan insiden terbantingnya kamera milik salah satu railfans yang kini menjadi anggota tim REDaksi. Kamera terbanting hingga mengalami LCD pada screen kamera pecah sehingga harus diganti.

Wajah sumringah peserta joyride
Kereta berhenti di Nambo cukup lama sekitar setengah jam. Kereta kembali menuju Duri pukul 17.05. Kalau anda berfikir "joyride" ini sudah selesai anda salah, "joyridenya" baru saja dimulai. Karena sinyal yang masih belum berfungsi dengan baik, KRL diberangkatkan menggunakan semboyan 40 yang diberikan oleh PPKA. 

Awalnya memang berjalan dengan normal. Tetapi belum sampai kereta pertama meninggalkan peron kereta mengalami mati listrik. Sontak hal itu mengejutkan para penumpang dan railfans yang ada di dalam kereta karena lampu yang mati saat hari menjelang sore sehingga menyebabkan kereta terasa gelap. Beberapa kali listrik nyala namun tetap saja mati.

"woi jangan ngecas laptop!", "yang bawa powerbank kumpulin biar keretanya bisa jalan!", "woi siapa nih yang kagak beli tiket? Ngaku!". Itulah celetukan yang dilontarkan penumpang ketika listrik di dalam kereta mati.

Kondisi kereta yang gelap akibat mati listrik
Kereta berhenti total bahkan sebelum kereta terakhir meninggalkan peron. Jumlah penumpang yang membludak menyebabkan kondisi di dalam kereta jadi panas dan hari yang semakin gelap, membuat beberapa railfans berinisiatif membuka katup pintu di dua kereta terakhir yang belum meninggalkan peron.

Prosedur evakuasi dadakan pun dilakukan. Hanya bermodal lampu flash dari handphone dan kamera, mereka berusaha menggiring penumpang di 6 kereta di depan untuk keluar dari dalam kereta melalui pintu di dua kereta belakang.

Penumpang yang telah dievakuasi keluar kereta
Kereta yang berhenti hanya setengah jam malah jadi 2 jam di Nambo. Listrik baru menyala sekitar jam setengah tujuh. Penumpang naik setelah mendapatkan pengumuman bahwa perjalanan kereta dapat dilanjutkan. Kereta berjalan dengan tertatih-tatih tanpa pendingin udara dan lampu menyala sampai Gunung Putri.

Kondisi kereta baru benar-benar normal pada saat kereta mencapai Stasiun Cibinong. Penumpang dari Cibinong yang terjebak di Nambo selama berjam-jam langsung berhamburan menuju gate untuk tap out. Banyak dari mereka yang kena pinalti karena tap out setelah tap in lebih dari sejam karena mereka berfikir tidak pergi ke Nambo sampai berjam-jam dan akan memanfaatkan free out yang pada saat itu masih gratis.

Karena keterlambatan yang sangat-sangat parah pada hari itu menyebabkan kereta memotong rute hanya sampai Depok dan tidak melanjutkan perjalanan sampai Duri. Raut muka mereka terlihat lelah namun puas karena bisa merasakan pengalaman yang cukup mengesalkan namun seru ini.

Sudah 1 tahun Jalur Nambo beroperasi. Jumlah penumpang di jalur ini tiap harinya terus bertambah. Aktifnya jalur ini memberikan harapan bagi masyarakat di sekitar jalur untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah akses untuk pergi bekerja yang cepat, aman, dan murah. 

Apalagi rencana KCJ untuk mengoperasikan feeder Nambo sangatlah dinanti masyarakat karena bertambahnya jadwal akan meningkatkan minat masyarakat untuk naik kereta api. Serta rencana re-aktifasi Stasiun Pondok Rajeg sangatlah dinanti masyarakat Pondok Rajeg karena akan mempermudah mobilitas mereka yang ingin naik kereta. Karena selama ini apabila mereka ingin naik kereta mereka harus ke Stasiun Citayam atau Stasiun Depok yang paling dekat dari Pondok Rajeg.

RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

  














About Bayu Tri Sulistyo

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: