testimoni

testimoni

6105F, Sang Tetua dari Jalur Chiyoda

6105F sedang dicuci di Dipo Depok
Siapa yang tidak kenal dengan 6105F? Rangkaian ini merupakan rangkaian tertua dari grup KRL seri 6000 eks Tokyo Metro (ya, di Indonesia ada 2 seri KRL yang menggunakan angka 6000 sebagai klasifikasi serinya, yaitu 6000 eks Toei Subway dan 6000 eks Tokyo Metro), dimana rangkaian ini terkenal merupakan salah satu rangkaian paling unik di antara semua 6000 Tokyo Metro yang diboyong oleh PT. KAI Commuter Jabodetabek (selanjutnya disebut KCJ) ke Indonesia. Namun sebelum membahas keunikan tersebut, ada baiknya kita melihat ke belakang untuk mengetahui sejarah 6105F.
6105F dengan skema sebelum PAL di Pondok Cina
Sejarah dari 6105F sendiri berawal di kota Kobe (prefektur Hyogo) pada tahun 1971 (Showa 46), tepatnya yaitu di dalam area bengkel produksi milik Kawasaki Heavy Industries. Rangkaian ini merupakan bagian dari pembelian seri 6000 batch 1 oleh pendahulu Tokyo Metro, yaitu Teito Rapid Transit Authority (disebut sebagai TRTA atau Eidan Subway). Spesifikasi 6000 batch 1 sendiri dapat dikatakan mengikuti desain dari 6000 rangkaian pra-produksi kedua (yaitu 6101F), dengan detail dari spesifikasinya sendiri sebagai berikut (detail dibatasi pada yang ditemui di 6000 batch 1):

· Panjang bodi : 20.000mm
· Tinggi bodi : 4.135mm
· Lebar bodi : 2.800mm
· Perbandingan gir : 98:15 (6.53)
· Maxspeed : 100km/h
· Akselerasi : 3,3km/h/s
· Deselerasi : 3,7km/h/s (maksimum), 4,7km/h/s (darurat)
· Sistem Traksi : Automatic Variable-Frequency Thyristor Chopper
· Sistem Pengereman : Rem udara terkontrol elektris dan rem regeneratif
· Sistem Pengaman : CS-ATC, D-ATS-P, OM-ATS
· Bogi : FS-378 dan FS-378A (tipe S-Minden)
· Bobot kereta : 22,5 ton (batas bawah) hingga 33,3 ton (batas atas)
· Kapasitas : 136 orang (kereta ujung), 144 orang (kereta tengah)
· Formasi : 10 kereta
Bogi Tokyo Metro 6000
Builder plate 6105F
Pada awalnya, 6105F dioperasikan dengan formasi sebagai berikut (1976 – 1997):
Formasi awal, perhatikan kereta 6105 masih menjadi driving motor car
Keterangan: 
· CH : Chopper 
· P : Pantograf (x2 menandakan bahwa pantografnya ada 2 unit) 
· MG : Motor Generator 
· CP : Kompresor 
· SIV : Static Inverter (dipasang pasca pembaruan) 

Formasinya terbilang cukup unik, karena semua KRL seri 6000 awalnya memiliki kereta ujung nomor 1 (yaitu kereta tipe 6100) yang dibuat sebagai kereta bermotor traksi dan memiliki 1 unit pantograf (dikodefikasikan oleh TRTA sebagai CM1). Namun pada periode 1997 hingga 2003, pantograf dan peralatan traksi pada kereta 6100 di semua rangkaian seri 6000 dari 6102F hingga 6132F dilepas (tentunya yang ada di 6105F ikut dilepas juga. 6133F-6135F kereta 6100nya dari awal dibuat kereta 6100nya adalah kereta pengikut berkabin biasa, jadi tidak ada pantograf dan perangkat traksi untuk dilepas), mengakibatkan kereta tipe 6100 berubah dari kereta berkabin dengan motor traksi (driving motor car) menjadi kereta berkabin tanpa motor (driving trailer car), yang pada akhirnya kodefikasi TRTAnya berubah menjadi CT1. Formasinya sendiri kemudian menjadi:
Perhatikan kereta 6105 menjadi driving trailer car
Pada periode 1989 hingga 1991, 6105F mendapat jatah pembaruan dari TRTA untuk menyegarkan kembali tampilan interior maupun teknologi traksinya. Prosesnya sendiri di antaranya terdiri dari:

1. Penggantian sarung jok untuk kursi non-prioritas dari jok warna merah ke jok warna coklat.
Jok kursi berwarna coklat
2. Penggantian jendela samping ke tipe balancer-equipped (walaupun pada dasarnya konstruksi jendelanya tetaplah jendela 2 bilah, seperti ketika awal beroperasi). 
3. Penyempitan dinding persambungan antar kereta demi mengurangi kebisingan dari luar kereta, serta memasang pintu gangway pada ujung tiap kereta (dalam 1 rangkaian) yang menghadap ke arah Yoyogi-Uehara. 
4. Pemasangan alat pengumuman otomatis dan penggantian display dari jenis roller blind ke jenis LED tri-warna (merah, oranye dan hijau), serta pemasangan display petunjuk stasiun berikutnya dan speaker doorchime di interior kereta (dengan posisi displaynya diletakkan di atas pintu).
LED display di atas pintu seperti pada Tokyo Metro seri 05 (Meski terdapat perbedaan mendasar yaitu ukuran perangkat yang jauh lebih besar dari seri 05)
5. Perbaikan pada struktur bodi, frame, pipa-pipa kelistrikan dan rem, serta mengganti kabel-kabel kelistrikan dengan kabel yang baru. 
6. Penggantian pintu kabin masinis dan pintu otomatis. 
7. Pemasangan unit pendingin ruangan (air conditioner), dengan kipas angin aslinya tetap dipergunakan sebagai penyebar aliran udara dari lubang udara ke dalam interior. Jumlah kipas anginnya sendiri adalah 6 unit (sebelum modifikasi: 7 unit. Kipas yang berada di posisi tepat di bawah mesin AC dilepas). 
8. Pemasangan Static Inverter (SIV) untuk suplai arus listrik bagi AC, sekaligus membantu suplai listrik untuk sistem listrik sekunder (penerangan, pengumuman, dan sebagainya) dari motor generator. 
9. Penggantian unit traksi chopper dari tipe Automatic Variable Frequency (AVF) ke tipe Gate-Turn Off (GTO). 
10. Pemasangan anti-fall board di ujung bodi (dekat persambungan antar kereta di tengah rangkaian) untuk mencegah orang terjatuh ke celah di persambungan antar kereta. 
11. Pemasangan ruang untuk kursi roda di sudut interior kereta tipe 6200 (kereta nomor 2) dan 6900 (kereta nomor 9), dengan melepas salah satu kursi non-prioritas (posisi arah Ayase) di kereta 6200 dan salah satu kursi prioritas di kereta 6900.

Lalu pada September 2012, Tokyo Metro menghentikan operasional 6105F (dan digantikan oleh seri 16000) karena umurnya yang semakin menua (pada tahun 2013 umurnya 6105F sendiri sudah mencapai 42 tahun, 6 tahun mendekati batas maksimum umur KRL di Tokyo Metro yaitu 48 tahun). Namun 6105F rupanya berhasil dibeli oleh KCJ untuk menambah armada KRL di wilayah Jabodetabek. Dengan kata lain, 6105F ”berpindah kependudukan” dari Jepang ke Indonesia. 

Pengiriman 6105F ke Indonesia sendiri dilakukan bersama dengan pengiriman adiknya dari 6000 batch 4 (yaitu 6127F), dan secara resmi memegang nomor urut Kemenhub yaitu K1 1 13 41 – K1 1 13 50 (walaupun penulis lebih senang menyebutnya dengan nomor aslinya). Setiba di Indonesia, 6105F pun menjalani proses yang sama dengan rangkaian 6000 lainnya yang terlebih dahulu tiba di Indonesia, yaitu pengubahan warna striping bodi dari hijau Chiyoda Line ke warna standar KCJ, pemasangan cowcatcher dan tralis, pelepasan berbagai plat, stiker, karton, dan iklan berbahasa Jepang yang ada di interior kereta, dan sebagainya. 

Awalnya rangkaian ini sempat mendekam cukup lama di dalam dipo Depok setelah menjalani proses adaptasi dan ujicoba lintas utama akibat kerusakan SIV, namun pertengahan tahun 2013 rangkaian ini secara resmi memulai dinasnya di KCJ sebagai rangkaian 8 kereta (kereta 6705 dan 6805 dilepas karena panjang peron di semua stasiun pada waktu itu hanya cukup untuk 8 kereta saja) pasca perbaikan komponen SIV, dan rangkaian ini didinaskan di berbagai jalur, mulai dari jalur Bogor hingga jalur Serpong. Formasinya setelah adaptasi wilayah adalah (kereta yang dilepas diwarnai merah):
Formasi 6105 ketika dioperasikan di Indonesia, 6705 dan 6805 dilepas
Sayangnya pada suatu hari di periode akhir 2013 – awal 2014 ketika 6105F sedang berdinas di jalur Bekasi, kereta 6305 mengalami kerusakan berupa terbakarnya area sekitar pantograf akibat ketidakstabilan arus LAA saat KRL akan memasuki stasiun Klender Baru dari arah stasiun Cakung. Untuk menghindari risiko yang lebih besar (sekaligus menekan biaya untuk perbaikan kereta yang mengalami kerusakan akibat terlalu mahalnya harga suku cadang), dipo Depok terpaksa menukar kereta 6305 dengan kereta 6705, karena kondisi kereta 6705 masih cukup bagus dan layak untuk dapat dipergunakan kembali. Alhasil formasinya 6105F berubah menjadi:
Kereta 6305 bertukar tempat dengan 6705
Namun anehnya, pada saat 6105F secara resmi diberi cap nomor Kemenhub pada sisi samping bodinya, nomor yang dialokasikan ke kereta 6705 (pasca menggantikan kereta 6305) justru adalah nomor yang seharusnya dialokasikan ke kereta 6305, dimana kedua tabel di bawah ini secara sederhana menjelaskan keanehan dari urutan nomornya (kereta yang dilepas diberi tanda warna merah pada tabelnya):
Formasi asli di Indonesia dengan penomoran Kemenhub (Pada 6705 dan 6805 adalah teoretis)
Setelah pertukaran tempat dengan penomoran Kemenhub (Pada 6305 dan 6805 adalah teoretis)
Bahkan hingga 6105F menerima perawatan akhir lengkap (PAL) di dipo Depok pada tahun 2015 pun nomor Kemenhubnya tetap dibiarkan seperti yang ada di tabel kedua (tentunya kereta 6805 dan kereta 6305 sendiri secara fisik tidak menyandang nomor Kemenhub, karena statusnya sebagai kereta lepasan). Dengan kata lain, dalam daftar nomor yang ada di Kemenhub sendiri kereta 6705 menyandang nomor yang sebenarnya untuk kereta 6305, begitu pula dengan kereta 6305 yang jika dioperasikan justru akan menyandang nomor milik kereta 6705.

Selain itu, plat nomor bodidan interior di 6705 ditukar dengan milik 6305, sehingga kereta 6705 memiliki nomor 6305 sehingga urutan rangkaiannya menjadi "urut" kembali. Hal yang sama dilakukan pada kereta  6313 dan 6513 yang menggantikan 6315 dan 6515 pada rangkaian 6115F pasca mengalami kerusakan di Tanah Abang awal 2015, dan juga pada kereta 6506 dan 6507 yang saling bertukar tempat, 6506 di rangkaian 6107F memakai nomor 6507, dan 6507 di rangkaian 6106F memakai nomor 6507.
Pelat nomor 6305 pada interior 6705
Formasi 6105 setelah pertukaran pelat nomor
6105F sendiri selain mengalami pertukaran kereta tengah secara terpaksa karena kebakaran pun juga pernah menabrak kendaraan bermotor di jalur Serpong pada tahun 2014, yang dimana salah satu kereta ujungnya (penulis lupa apakah ujung yang dimaksud adalah ujung 6105 atau 6005) mengalami kerusakan di pipa MR (Main Reservoir, alias reservoir rem utama). Akibatnya, masinis tidak bisa mengoperasikan kereta dari kabin yang mengalami kerusakan tersebut (alias terpaksa menggunakan kabin ujung belakang), dan rangkaian harus ditarik pulang ke dipo Depok untuk menjalani perbaikan pipa MR sebelum kembali dapat beroperasi di KRL Jabodetabek. 

Namun di balik ”ruwet”nya perjalanan hidup 6105F, tersimpan berbagai keunikan yang banyak di antaranya dapat ditelusuri dari proses pembaruan yang diberikan terhadap 6105F. Ada beberapa keunikan yang dibawa oleh 6105F, 5 di antaranya yaitu: 

1. 6105F merupakan satu-satunya rangkaian 6000 eks Tokyo Metro di KCJ yang sarung jok kursi non-prioritasnya menggunakan sarung berwarna coklat polos tanpa pola motif apapun. Tentunya ini sangat unik, karena kebanyakan rangkaian 6000 eks Tokyo Metro yang dimiliki KCJ menggunakan sarung jok kursi non-prioritas berwarna pink dengan pola. Selain itu, kursi prioritasnya 6105F pun masih menggunakan jok dengan pola yang lama (biru agak pudar dengan garis putih agak krem, bukan biru berpola seperti di rangkaian lainnya).

2. Dalam proses pembaruannya, 6105F (bersama dengan adiknya yang dibuat oleh Kisha Seizo Kaisha yaitu 6112F dan 6113F) menerima proses perbaikan desain gang persambungan antar kereta, yang dimana dimensi lebar dari gang persambungan aslinya (alias disebut sebagai ”gangway jamur”, karena bentuknya yang mirip jamur) dipersempit menjadi ukuran standar (seperti yang ada di 6000 batch 4 ke atas), dan juga penambahan pintu gang persambungan. Sayangnya, hanya 6105F yang sampai saat ini masih bertahan di jalur KCJ dengan persambungan modifikasi seperti ini, karena 6112F dan 6113F usianya tidak lama akibat kerusakan SIV. 6112F sendiri telah dirucat di Cikaum, dan 6113F dirucat di Dipo Depok.

3. 6105F merupakan satu-satunya rangkaian 6000 eks Tokyo Metro milik KCJ yang menggunakan display LED petunjuk stasiun berikutnya dan speaker doorchime yang sejenis dengan yang dimiliki oleh seri 05 (yang dimana doorchimenya sendiri adalah standar TRTA). Hanya saja, posisi displaynya sendiri agak lebih miring dibandingkan yang ada di seri 05 dan ukuran unit display dan alarm jauh lebih besar sampai menggunakan ruang untuk peta (Oleh karena itu peta pada 6105 berbeda sendiri daripada peta pada KRL Tokyo Metro seri 6000 lainnya)

4. Ketika menjalani proses pembaruan, seluruh panel dinding interior yang ada di 6105F diganti ke panel dinding yang warnanya mendekati warna panel dinding lama (yaitu warna krem), termasuk pula untuk panel dinding pintu sisi dalam. Namun khusus untuk panel dinding yang ada di sisi persambungan, warna panel dindingnya justru berwarna putih. Panel dinding warna putih sendiri merupakan ciri khas interior rangkaian seri 6000 yang menjalani pembaruan periode berikutnya (yaitu periode 1995-2000, 2003-2004 dan 2005-2007). Gambar berikut adalah bukti dari digunakannya panel dinding putih di sisi persambungan kereta.
Contoh dinding persambungan jamur yang dipersempit pada KRL Tokyo Metro 6000 (6513; nomornya ditukar sehingga menjadi 6515)
5. Berdasarkan builder platenya, 6105F dibuat pada tahun 1971, yang artinya pada tahun 2016 ini 6105F resmi berulang tahun ke-45 (alias hanya tersisa 3 tahun sebelum mendekati batas kadaluarsa yang ditetapkan Tokyo Metro untuk daur hidup rangkaian, yaitu 48 tahun). Namun karena rangkaian ini menggunakan bodi yang dibuat dari aluminium, dapat dikatakan tanda-tanda penuaan pada bodinya sendiri hampir tidak terlihat secara kasat mata (penuaannya sendiri lebih terlihat dari sisi komponen traksinya). 

Namun ironisnya, meskipun 6105F dinyatakan telah menjalani pembaruan pada traksi choppernya, kenyataannya hanya unit utama dari traksi choppernya saja yang benar-benar diganti dengan yang baru (tentunya 6000 batch 1 milik KCJ yang lainnya juga mengalami hal yang sama). Ini dikarenakan pada periode akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an TRTA memprioritaskan pemasangan AC di seluruh rangkaian milik TRTA yang masih berdinas (termasuk pula seluruh seri 6000) untuk meningkatkan kenyamanan penumpang, yang berefek pada kebutuhan untuk menekan pengeluaran dari pembaruan komponen traksi. 

Dengan alasan di atas inilah, maka hanya unit utama dari traksi choppernya saja yang diperbarui. Peralatan traksi lainnya seperti line breaker, konverter arus, motor traksi, motor generator, electrical switch dan komponen lainnya hanya diperbaiki saja, lalu kemudian dipergunakan kembali. Inilah mengapa rangkaian 6000 batch 1 yang dimiliki oleh KCJ tergolong sangat rawan mengalami gangguan traksi, karena selain akibat dari kekurangan suku cadang yang tepat, komponen motor traksinya juga terbilang sudah cukup tua (dan umur memang tidak bohong kok)

Pada pertengahan 2015, 6105F telah menjalani PAL di dipo Depok, yang dimana pada bagian anticlimber di tiap kereta ujung diberi garis warna putih, sebuah ciri khas dari rangkaian eks Tokyo Metro yang menjalani PAL di dipo Depok. Selain itu, font nomor Kemenhub yang dituliskan di bodi pun diubah menjadi font roman yang mirip dengan font roman pada sistem nomor Kemenhub yang lama, yang inipun adalah ciri khas dari PAL dipo Depok.

Dengan 6105F menjalani PAL, maka "musnahlah" seluruh Tokyo Metro 6000 di KCJ yang nomor mukanya menggunakan warna asli hijau tua asal jalur Chiyoda. Kecuali tentu saja 6112F dan 6113F yang akan "selamanya" mengenakan penomoran hijau
6105F pasca-PAL di Stasiun Depok (Ikko Haidar Farozy)
Selama ini penulis merasa begitu sangat ”nyaman” ketika menaiki 6105F, karena rangkaian ini memang benar-benar unik (bahkan penulis sendiri pernah mengunduh video 6105F saat masih berdinas di Tokyo Metro dari YouTube), walaupun sayangnya penulis melihat bahwa speaker pengumuman yang ada di dalam kereta agak kurang bagus (alias suara yang dihasilkan cenderung terputus-putus), serta suspensinya yang agak kurang nyaman dan sering berderit (sebagai akibat dari desain bogi yang kurang cocok untuk kontur rel Indonesia yang cenderung lebih mudah mengalami perubahan drastis). Namun penulis berharap rangkaian ini dapat terus beroperasi di KRL Jabodetabek, setidaknya sampai 10 tahun ke depan.

**Mau berbagi informasi seputar perkeretaapian, bis, maupun travel bersama RED Citizen Journalist? Caranya bisa dilihat di sini!

Sumber:
ja.wikipedia.org
www.krfj.net/hatenaki/
3rd.geocities.jp/kura_1987/
Catatan: sebagian foto pada artikel ini berasal dari Wikipedia dan penulis lainnya, sedangkan foto lainnya merupakan hasil jepretan penulis sendiri.
RED Citizen | Arya Dwi Pramudita

About Gerakan Muda Penggemar Kereta Api

Selamat datang di official Google+ dari komunitas Gerakan Muda Penggemar Kereta Api. Mari bersama kita bangun kereta api Indonesia yang lebih baik!
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment