testimoni

testimoni

[Opini Penulis] Tiket Prameks Bisa Dipesan H-7, Memudahkan atau Menyulitkan?

Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) | Foto: Tubagus Gemilang Pratama
Belum lama ini, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memberlakukan kebijakan pemesanan tiket H-7 untuk kereta api Prambanan Ekspres (Prameks). Ya, itu berarti tiket Prameks bisa dipesan 7 hari sebelum keberangkatan. Sebelumnya, sistem yang sama juga diberlakukan untuk beberapa kereta lokal. Di antaranya adalah kereta api Penataran / Rapih Dhoho yang melayani rute Surabaya – Blitar lewat Malang atau Kertosono. Sayangnya, tiket hanya bisa dipesan/dibeli di stasiun-stasiun yang disinggahi kereta tersebut. Lantas untuk Prameks sendiri, apakah sistem ini cukup membantu penumpang? Atau jangan-jangan malah menyulitkan?

Pertama-tama, kita harus memahami karakteristik dari tiap-tiap kereta lokal. Aspek-aspek yang membangun karakteristik itu meliputi: panjang rute yang dilalui, kondisi jalur yang dilalui, kota mana saja yang dilayani, tingkat okupansi kereta, armada kereta yang digunakan, tinggi atau tidaknya mobilitas masyarakat, dan seperti apa tipikal penumpangnya. Berdasarkan karakteristik inilah, beberapa kereta lokal dapat digolongkan sebagai kereta api komuter.

Sekarang mari kita lihat Prameks. Prameks adalah kereta lokal yang melayani rute Solo – Yogyakarta – Kutoarjo. Jalur dari Solo hingga Kutoarjo menggunakan rel ganda dengan batas kecepatan 70 km/jam untuk Prameks. Armada yang digunakan untuk kereta api Prameks adalah 3 KRDE AC dan 1 KRDE non-AC yang terdiri dari 5 kereta per setnya. Sedangkan armada cadangannya adalah 1 set KRD hidrolik yang terdiri dari 3 kereta. Jadwal perjalanan terbanyak tersedia untuk rute Solo – Yogyakarta yang berjarak kurang lebih 60 km. Sementara itu perjalanan Solo – Kutoarjo dengan jarak tempuh sekitar 130 km dilayani sebanyak 3 perjalanan pulang pergi (PP). Solo dan Yogyakarta sendiri adalah kota-kota penting di lintas selatan Jawa Tengah. Keduanya merupakan kota wisata, kota pelajar, dan kota dagang. Pergerakan masyarakat dari Solo ke Yogyakarta ataupun sebaliknya tergolong tinggi, terutama pada pagi dan sore hari. Setiap harinya, para pekerja memanfaatkan Prameks untuk pergi dan pulang kantor. Di akhir pekan dan hari libur, Prameks dipadati oleh wisatawan dan mahasiswa. Dengan demikian, Prameks tergolong sebagai kereta api komuter. Pelayanan kereta api komuter, seperti yang diterapkan di Daop 1 Jakarta dan Daop 2 Bandung, idealnya adalah efektif dan efisien. Penumpang komuter menghendaki kecepatan, kemudahan, dan kepastian. Mereka tidak berlama-lama di stasiun, dan tidak membutuhkan fasilitas mewah seperti penumpang jarak jauh.

Pemberitahuan resmi dari PT.KAI tentang tiket Prameks yang bisa dipesan 7 hari sebelum keberangkatan.
Sebelum kebijakan pemesanan H-7 diberlakukan, tiket Prameks bisa dipesan 3 jam sebelum keberangkatan. Tiket dijual sebanyak 150% dari kapasitas kereta. Alhasil saat penumpang ramai, tiket sudah habis 1 jam sebelum keretanya datang. Penumpang yang sudah antre dan pada akhirnya tetap tidak mendapat tiket, mereka terpaksa menunggu sampai jadwal Prameks selanjutnya, atau menyerah dan memilih menggunakan transportasi lain. Bisa dibayangkan ketika tiket bisa dipesan 7 hari sebelum keberangkatan, dengan kapasitas kereta yang masih sama. Belum lagi, tiket hanya bisa dibeli di stasiun yang disinggahi oleh Prameks. Artinya, penumpang harus pergi ke stasiun beberapa hari sebelum keberangkatan sekedar untuk memesan tiket kereta komuter dengan waktu tempuh 1 jam, tanpa kepastian mendapat tiket atau tidak. Hal ini diperparah dengan tidak adanya website atau aplikasi online yang menampilkan ketersediaan tiket kereta lokal. Padahal dengan adanya website atau aplikasi semacam itu, penumpang bisa memastikan tiket Prameks masih ada atau tidak, sebelum mereka berangkat ke stasiun. Di sini, poin “kepastian” yang dikehendaki penumpang komuter sudah diabaikan oleh PT. KAI.

Kemudian, mayoritas penumpang Prameks adalah pekerja dan wisatawan. Bagi para pekerja, tentunya sangat merepotkan jika harus memesan tiket beberapa hari sebelumnya, hanya untuk perjalanan 1 jam yang mereka tempuh setiap hari. Jika dalam seminggu terdapat 5 hari masuk kerja, maka setidaknya ada 10 tiket Prameks yang disimpan di rumah, dengan kertasnya yang sangat tipis dan tintanya yang mudah hilang. Belum lagi saat ada rapat atau perubahan jam kerja yang sifatnya darurat, tiket yang sudah dipesan itu akan hangus. Sedangkan jika membeli dadakan, sangat mungkin tiket sudah habis. Sementara bagi wisatawan, terlebih yang jarang naik kereta atau mereka yang berasal dari luar kota, mereka mungkin tidak tahu bahwa tiket Prameks bisa dipesan 7 hari sebelumnya. Di sini, poin “kemudahan” yang dikehendaki penumpang komuter sudah diabaikan oleh PT. KAI.

Kebijakan ini juga tidak ramah bagi penumpang yang melakukan perjalanan jarak jauh secara estafet. Misalnya ada penumpang dari Jakarta menuju Solo yang kehabisan tiket kereta api langsung ke Solo, sehingga ia membeli tiket sampai Yogyakarta untuk selanjutnya menyambung Prameks sampai Solo. Tetapi berhubung tiket Prameks bisa dibeli 7 hari sebelumnya hanya di stasiun yang disinggahi Prameks, maka penumpang estafet itu kehabisan tiket Prameks untuk meneruskan perjalanan hingga ke Solo.

Penumpang Prameks | Foto: Semboyan 35
Ironisnya, PT. KAI memberikan solusi yang sangat tidak ekonomis dan sekali lagi, tidak memberikan kepastian. “Silakan naik kereta api tarif khusus, selama tiket masih tersedia,” begitulah jawaban KAI. Kereta api tarif khusus adalah kereta api jarak jauh yang memberlakukan tarif khusus untuk rute Solo – Yogyakarta dan Yogyakarta – Kutoarjo. Namun jangan berharap mendapat tarif Rp 8.000 seperti Prameks. Tarif khusus kelas ekonomi dipatok sebesar Rp 35.000, bisnis Rp 40.000, dan eksekutif Rp 50.000. Melihat gencarnya “solusi” yang ditawarkan oleh PT. KAI ini, tidak heran jika banyak kalangan menilai bahwa pemesanan tiket Prameks H-7 hanyalah akal-akalan untuk mendongkrak penjualan tiket kereta api tarif khusus dengan cara mempersulit pembelian tiket Prameks.

Banyak penglaju Yogya – Solo yang dikecewakan oleh Prameks, pada akhirnya beralih ke moda transportasi bus. Bus-bus Yogya – Surabaya yang melewati kota Solo menjadi pilihan utama. Jadwalnya yang fleksibel, armada yang banyak, dan semua busnya yang dilengkapi AC berhasil memberikan kemudahan dan kepastian kepada para penumpang. Meskipun harus membayar lebih mahal dari Prameks yaitu Rp 13.000 – Rp 15.000, namun waktu tunggu yang cepat dan selalu tersedianya bus untuk berangkat membuat rasa was-was yang selalu dirasakan saat mengantri tiket Prameks pun hilang. Tentu saja ini penting diperhatikan oleh PT. KAI, kalau mereka benar-benar serius mengelola kereta lokal atau komuter non-Jabodetabek. Kalau memang serius…

RE Digest | Tubagus Gemilang Pratama

About Tubagus Gemilang Pratama

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment