testimoni

testimoni

Jalur Kereta Api Babat-Tuban akan Diaktifkan Kembali

Bangunan eks. Stasiun Tuban
Ndeso94

[21/7/16]. Ditengah gencarnya pembangunan infrastruktur perkeretaapian yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, pemerintah dalam hal ini Dirjen Perkeretaapian juga berencana untuk menghidupkan sejumlah jalur mati yang dulu pernah beroperasi. Salah satunya adalah jalur kereta api Babat-Tuban yang ada di Jawa Timur. 

Dilansir dari laman Radar Jatim, re-aktifasi jalur kereta api Babat-Tuban ini dilakukan karena di Jombang berdiri sebuah kawasan industri baru dengan luas 900 hektare. Pengaktifan kembali ini dimaksudkan supaya distribusi barang dari Jombang ke Teluk Lamong, Tanjung Perak, dapat dilakukan melalui jalur rel.

Pasalnya selama ini distribusi barang dari Jombang ke Tanjung Perak dilakukan menggunakan truk melalui jalan raya. Yang itu artinya menambah parah kemacetan, polusi udara, serta pengeluaran perusahaan. Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan atau Dishub-LLAJ Jawa Timur Wahid Wahyudi berharap re-aktifasi jalur ini dapat meringankan beban jalan raya serta polusi udara.  

Selain Babat-Tuban, Pemprov Jatim juga mengusulkan re-aktifasi jalur kereta api Babat-Jombang. Nantinya setelah aktif kembali, kedua jalur ini tak hanya digunakan untuk angkutan barang saja, melainkan juga untuk angkutan penumpang. Selain rencana re-aktifasi kedua jalur ini, ada juga rencana elektrifikasi dan pembangunan jalur KRL Surabaya-Mojokerto-Jombang-Babat-Lamongan-Gresik-Surabaya.

Proyek re-aktifasi dan elektrifikasi jalur ini merupakan bagian dari pembangunan kawasan metropolitan Gerbangkertosusila Plus (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, plus Malang, Probolinggo, dan Tuban). Wilayah Gerbangkertasusila Plus ini nantinya akan sama seperti wilayah Jabodetabek di mana  akan dibangun kawasan industri, pusat bisnis, perdagangan, dan hunian selayaknya Jabodetabek di Jawa Timur yang saling terhubung satu sama lain.


RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment