testimoni

testimoni

Mengenang Rangkaian Tokyo Metro 6113F: Hidupmu Tak Lama, Terlupakan Pula

KRL Tokyo Metro 6113F semasa masih dapat berdinas bersama KCJ|Foto: Satoshi Takagi
Tentu semua rangkaian KRL yang berdinas di Lintas Jabodetabek pernah mengalami cerita yang pahit. Namanya juga barang buatan manusia, tentu saja tidak mungkin semasa beroperasi mulus melulu. Akan tetapi, ada satu rangkaian KRL yang ceritanya benar-benar mengenaskan di sini.

Bagaimana tidak, dinasnya hanya sebentar sekali sebelum tiba-tiba mati karena kerusakan kritis pada komponen SIVnya sehingga ia tak dapat diselamatkan. Bahkan setelah kematiannya pun ia berjasa untuk menyelamatkan rangkaian 6115F setelah kebakaran dengan merelakan dua kereta tengahnya dipakai rangkaian tersebut, dan lagi-lagi sejarahnya dihapus karena nomor aslinya diubah dan nomor Menhubnya dibuat mengikuti rangkaian 6115F

Dan rangkaian tersebut adalah rangkaian Tokyo Metro 6113F...

Awal kehidupan

Rangkaian 6113F adalah rangkaian angkatan pertama dari KRL TRTA (Sekarang dan juga selanjutnya dalam artikel ini disebut Tokyo Metro) seri 6000 yang dibuat pada tahun 1972. Sesuai dengan rangkaian KRL Tokyo Metro 6000 angkatan pertama lainnya, KRL ini dibuat dengan sistem traksi thyristor chopper.

Sistem traksi ini pada masanya adalah sistem yang paling canggih di dunia. Bahkan KRL jenis ini adalah yang pertama di dunia yang menggunakan perangkat traksi seperti ini, di mana pada saat itu perangkat traksi resistor control (Di kalangan railfans Indonesia populer dengan istilah rheostatik) masih umum dipakai.

Seperti pada KRL Tokyo Metro seri 6000 sebelum rangkaian 6133F, rangkaian ini memiliki formasi awal di mana unit kereta pertama (6100) memiliki perangkat traksi dan pantograf, sehingga mempunyai kode CM1 (Kereta kabin masinis bermesin) dengan formasi berikut:

Tabel formasi rangkaian Tokyo Metro 6113F sebagaimana diproduksi
Di antara tahun 1997-2003, KRL Tokyo Metro seri 6000 antara 6102-6132F, termasuk 6113F dimodernisasi dengan pelepasan peralatan traksi dan pantograf dari ujung 6100, menjadikannya kereta berkabin masinis tanpa mesin dengan kode CT1 dengan formasi berikut:
Tabel formasi rangkaian Tokyo Metro 6113F setelah modernisasi
Selain itu, dilakukan penyegaran yang dilakukan pada tahun 1989-1991 di mana KRL ini mengalami modernisasi yaitu B-Refurbrishment.

Dari segi interior, modernisasi yang dilakukan yaitu perubahan pada pelapis kursi dari warna merah (Seperti pada rangkaian 6126F, 6133F, dan 6134F) menjadi warna coklat, sebelum akhirnya diubah lagi menjadi warna pink (Seperti semua rangkaian sebelum 6115F serta 7117F). Selain itu lapisan veneer diubah dari warna krem (Seperti rangkaian 6123F, 6125F, 6126F, 6127F) menjadi warna putih. Akan tetapi, warna veneer pada pintu dan dinding tetaplah krem kehijauan, tidak putih (Seperti beberapa kereta pada rangkaian 7117F). Dan bentuk persambungan KRL ini diubah dari bentuk sambungan jamur (Seperti rangkaian 6106F, 6107F, 6111F, 6115F) menjadi sambungan tertutup (Seperti rangkaian 6105F, 6112F).
Interior pada salah satu unit rangkaian 6113F
Dari segi eksterior, KRL ini mengalami perubahan pada display penunjuk arah dari tipe roller blind (Rangkaian 6123F ke atas) menjadi tipe LED (Semua rangkaian sebelum 6115F yang ada di Jabodetabek). Akan tetapi, pada jendela hanya ada perubahan sedikit pada mekanisme, namun selebihnya masih mengadopsi model two-step (Dua daun)

Dari segi traksi, KRL ini mengalami penggantian unit Chopper dari sistem AVF (Automatic Variable Field control) menjadi GTO (Gate Turn Off) tipe Mitsubishi, serta perubahan sistem kelistrikan dari konverter DC-DC menjadi SIV (Static Inverter). 

Semenjak tahun 2003, rangkaian KRL ini tidak mengalami banyak perubahan sampai akhirnya pada Agustus tahun 2012, rangkaian ini sudah dianggap terlalu tua oleh Tokyo Metro, dan penggantinya yaitu KRL seri 16000 telah mencukupi untuk menggantikan beberapa rangkaian KRL seri 6000, sehingga mereka kemudian dipensiunkan.

Kehidupan Baru yang Singkat
Rangkaian Tokyo Metro 6113F dan 6111F ketika baru tiba di Indonesia, masih dengan livery aslinya|Foto: Okezone.com
Catatan: Demi kemudahan, nomor Kemenhub yang digunakan di artikel ini adalah sistem penomoran lama dengan tahun yang digunakan adalah tahun dinas di Indonesia.

Rangkaian KRL ini termasuk beruntung untuk ikut bersama rangkaian 6111F, 6133F, 6134F, 6105F,  dan 6127F untuk dikapalkan ke Indonesia. Rangkaian ini tiba pada akhir 2012 di Tanjung Priok, sebelum kemudian dikirimkan ke Dipo Depok. Formasi lengkap dengan nomor Kemenhub teoretisnya adalah:
Formasi asli rangkaian 6113F dengan nomor Kemenhub teoretis
Setelah serangkaian uji jalan, rangkaian KRL ini mulai didinaskan pada pertengahan 2013 dengan formasi 8 kereta, dengan unit 6813 dan 6913 dilepas, dengan formasi sebagai berikut:
Formasi rangkaian 6113F semasa beroperasi reguler di Jabodetabek dengan nomor Kemenhub teoretis
Akan tetapi, dikarenakan suatu kerusakan fatal pada komponen SIV hanya dalam hitungan pekan setelah dinas pertama, dan tidak seperti 6105F, rangkaian ini tidak dapat diselamatkan, sehingga akhirnya mangkrak menyusul rangkaian 6112F yang telah lebih dulu menemui nasib serupa. Oleh karena itu juga, sangat sedikit publikasi yang tersedia dari rangkaian KRL ini, bahkan lebih sedikit dari rangkaian 6112F.

Hal ini tentu memicu kontroversi yang sekarang pun masih sesekali diungkit oleh railfans, karena bagaimana bisa kejadian dua rangkaian Tokyo Metro 6000 yang hitungannya masih baru datang tau-tau rusak SIVnya, padahal seharusnya telah dilakukan pengecekan ekstensif sebelum dikapalkan ke Indonesia?

Menjadi Separuh Jiwa 6115F

Akan tetapi, mangkraknya rangkaian ini ternyata bukan akhir dari cerita rangkaian 6113F. Pada Januari 2015, terjadi peristiwa pahit yang menimpa saudaranya rangkaian 6115F. Dikarenakan pantograf tersangkut LAA, maka rangkaian tersebut mengalami kebakaran di dekat Stasiun Tanah Abang. Sebagai akibatnya, kereta 6315 dan 6515 mengalami kerusakan parah.
Rangkaian 6115F terbakar di dekat Tanah Abang|Foto: KRL-Mania
Berbeda dengan kasus 6105F, dikarenakan cadangan dari rangkaian 6115F tidak lagi tersedia, maka pada akhirnya digunakanlah kereta tengah dari rangkaian 6113F, yaitu kereta 6313 dan kereta 6513. Sehingga formasi rangkaian 6115F berubah menjadi:
Formasi sebenarnya rangkaian 6115F setelah pertukaran unit kereta dengan nomor Kemenhub teoretis
Perubahan ini sendiri menimbulkan keunikan pada rangkaian 6115F karena perbedaan keadaan kedua rangkaian.

Dari segi eksterior, karena rangkaian 6115F telah dimodifikasi jendelanya menjadi jendela daun tunggal, sedangkan 6113F belum, maka rangkaian ini menjadi gado-gado karena ada unit kereta yang punya jendela dua daun, dan ada yang punya satu daun
Penampilan gado-gado pada rangkaian 6115F. Kereta 6315 sesungguhnya adalah kereta 6313|Foto: Lucius Juan Halim
Dari segi interior, makin terasa bedanya. Karena rangkaian 6115F sambungan jamurnya tidak dimodifikasi sedangkan 6113F iya, maka pada kereta 6313 dan 6415 terjadi ketidakcocokan sambungan, yang menimbulkan penampilan yang amat aneh sebagai berikut
Karena ketidakcocokan sambungan, sambungan jamur pada kereta 6415 bertemu dengan dinding pada kereta 6513
Perhatikan warna veneer dinding dan pintu serta bentuk jendela pada kereta 6513 (kanan, sisi penulis) dan 6415 (kiri jauh) yang berbeda
Dari segi traksi, timbul perbedaan sistem Chopper yang digunakan, karena rangkaian 6115F menggunakan sistem traksi merk Mitsubishi, sedangkan rangkaian 6113F menggunakan sistem traksi merk Hitachi. Meski demikian, tidak ada masalah berarti pada performanya.

Dan hal yang memilukan, plat nomor pada kereta yang berasal dari 6113F baik luar ataupun dalam ditukar sehingga kereta 6313 dan 6513 menyandang plat nomor 6315 dan 6515, dan bahkan nomor Kemenhubnya mengikuti nomor Kemenhub rangkaian 6115F, bukan rangkaian 6113F, yang tampak seusai perawatan akhir lengkap pada rangkaian 6115F di awal 2016, dengan formasi berikut:
Formasi rangkaian 6115F setelah PAL dengan penyesuaian nomor kereta.


Nomor kemenhub dan plat nomor pada kereta 6513 menjadi sama dengan 6515
Sementara sisa kereta yang tidak cukup beruntung untuk dimanfaatkan kembali kemudian dirucat pada tahun 2016 dengan ditumpuk di samping "jalur kematian" Dipo Depok, setelah sekitar 3 tahun teronggok di sana menjadi suku cadang bagi armada yang masih beroperasi, sedang beberapa kereta lainnya sudah duluan dirucat di Stasiun Cikaum.

Rangkaian 6113F beberapa lama sebelum dirucat. Tampak kereta 6013 dengan kepala rangkaian Toei 61xx di belakang.
Dengan dirucatnya sisa dari rangkaian 6113F, kisah hidupnya yang singkat telah usai, tapi jiwanya akan selalu ada di rangkaian 6115F, yang dengan pengorbanannya masih tetap hidup hingga hari ini. Semoga KRL Tokyo Metro 6000 VVVF yang ketika artikel ini dituliskan akan segera tiba di Jakarta bisa mengabdi lama, seperti rekan-rekannya yang sudah lama berdinas di sini.

Referensi:
Wikipedia Jepang
Wikipedia Indonesia
All About Japanese Trains

Railway Enthusiast Digest|ARGO SAKURAI/IKKO HAIDAR FAROZY

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: