testimoni

testimoni

Rangkaian KRL Diputar Secara Reguler, Untuk Apa?

Rangkaian 205-17F dengan formasi 10 kereta sebagai KLB putar rangkaian di Stasiun Jatinegara
Beberapa minggu belakangan ini, anda yang sering berada di lintas lingkar mungkin akan mendengar pengumuman "KLB KRL melintas langsung", dengan rangkaian yang acak, tidak tentu apa yang lewat. KLB KRL yang melintas itu merupakan KLB putar rangkaian dengan rute seperti yang dulu menjadi rute pengoperasian KRL Ciliwung, yaitu Manggarai-Tanah Abang-Kampungbandan-Jatinegara-Manggarai. Sebagian besar anda pastinya penasaran, untuk apa KRL itu diputar posisinya, bener ga?

Sebenarnya, pemutaran rangkaian KRL secara reguler ini bukanlah hal yang baru di ranah perkeretalistrikan Jabodetabek. Hal ini sudah dilakukan sejak zaman KRL ekonomi masih berjaya di lintas. Pada masa itu, KRL yang akan diputar secara bergantian mengisi perjalanan reguler dengan rute Depok-Kampungbandan-Bekasi PP.  Pada saat itu, setidaknya ada 1 kali PP Depok-Bekasi untuk KRL ekonomi dan 1 kali PP Depok-Bekasi untuk KRL AC yang melingkar melewati Kampungbandan.

Di masa kini pun, sebenarnya ada cara reguler untuk memutar rangkaian KRL, namun hanya bisa dilakukan oleh rangkaian dengan formasi 8 kereta, yaitu didinaskan sebagai KA 1500 relasi Manggarai-Jatinegara yang nantinya akan menjadi KA 1503-1504 relasi Jatinegara-Kampung Bandan-Bogor. Sedangkan KRL-KRL dengan formasi 10 atau 12 kereta hampir tidak mungkin terputar kecuali ada keadaan darurat di lintas layang yang mengharuskan perjalanan dialihkan melalui lintas lingkar. Untuk mengatasinya, maka kini setiap akhir minggu dijalankan KLB untuk memutar rangkaian-rangkaian dengan formasi tersebut, meskipun rangkaian formasi 8 kereta yang belum sempat berdinas KA 1500 juga dijadikan KLB untuk diputar.
Rangkaian 205-19F+205-28F sebagai KLB putar rangkaian memasuki Stasiun Jatinegara
Guna dari memutar rangkaian KRL secara reguler ini adalah untuk memaksimalkan kinerja roda kereta sebelah kiri dan kanan. Roda kereta itu setiap berjalan akan bergesekan dengan rel. Misalkan posisi roda A itu awalnya berada di sebelah kanan, dan roda B ada di sebelah kiri. Ketika roda A setiap hari bertemu tikungan dengan radius 120 meter ke arah kiri, dan roda B bertemu tikungan dengan radius 150 meter ke arah kanan, tentu roda yang akan aus lebih cepat adalah roda A, karena saat roda A berbelok ke kiri, roda tersebut akan lebih bergesekan dengan rel ketimbang roda B. Saat posisi sudah diputar, maka roda B-lah yang akan bertemu dengan tikungan ke kiri tersebut.

Apabila rangkaian tidak diputar, maka roda harus lebih sering dibubut karena ukuran kanan-kiri yang tidak sama yang diakibatkan oleh pengolahan aus yang tidak merata tadi. Dan bubut sendiri mungkin dapat mengurangi diameter roda lebih cepat sehingga umur pakai roda menjadi kurang maksimal.

RE Digest | MPSCLFJRN
Foto oleh: Enrico Perdana Putra

About Muhammad Pascal Fajrin

Just a kid from yesterday, today. An early "two-headed age" young man with big dreams, and still trying to make those dreams come true. A romantic, loving, and caring person. Likes nasi goreng so much.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment