testimoni

testimoni

Bagaimana Cara Mengembalikan Kereta yang Anjlok ke Rel?

Ilustrasi suatu peristiwa KA anjlok | Foto: Tempo
Ketika terjadi suatu anjlokan kereta api, tentu orang-orang penasaran "Bagaimana caranya bisa mengembalikan nih kereta singklek ke rel?" Tentu dengan bobot yang cukup berat tidak mungkin kereta bisa diangkat sembarangan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengevakuasi anjlokan tergantung keparahannya.

Dalam kasus anjlokan yang cukup ringan, cara yang paling umum digunakan untuk mengembalikan posisi kereta yang anjlok ke rel adalah didongkrak dengan dongkrak Lukas agar posisi roda yang di luar rel bisa dikembalikan ke atas rel. Selain itu bisa juga digunakan alat peluncur di mana kereta yang anjlok dinaikkan ke atas rel dengan cara "diluncurkan" kembali ke atas rel dengan bantuan alat tersebut.

Sementara jika anjlokan sudah parah sampai keretanya sampai terguling jauh dari rel atau tersangkut di posisi yang sangat aneh (Contoh: Tragedi Malabar, Cilebut), tentu tidak bisa hanya menggunakan dongkrak Lukas untuk mengembalikan rangkaian tersebut ke rel, tetapi sudah harus dibantu dengan menggunakan alat berat seperti derek.

Anjlokan ringan

Seperti yang disebutkan di atas, untuk anjlokan yang masih ringan, teknik evakuasi yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan dongkrak Lukas untuk mengembalikan roda yang keluar rel ke tempatnya. Dongkrak ini dinamakan demikian karena asal pabrikannya yaitu Lukas GmBH, Jerman.
Petugas PT KCJ mengoperasikan meja kendali dongkrak Lukas untuk mengembalikan rangkaian KRL seri 203 yang anjlok di Jakarta Kota, Rabu 31 Agustus 2016 lalu | Foto: Budi Surono
Sistem dongkrak ini terdiri atas pompa hidrolik dan selangnya, meja kendali, unit dongkrak, serta unit penggeser (Di sini dikenal dengan nama loneng) yang mirip dongkrak tapi penyangganya bisa bergerak di atas pelat baja. Cara kerja dalam skenario pada umumnya adalah, dongkrak yang telah terhubung dengan meja kendali dan pompa hidrolik diposisikan di bawah titik berat kereta/lokomotif (Biasanya ada marka ANGKAT DISINI) dan selanjutnya kereta diangkat dengan menggerakkan tuas pada meja kendali.
Perhatikan marka "ANGKAT DISINI" yang menunjukkan tempat untuk meletakkan dongkrak
Kemudian unit penggeser yang telah dihubungkan dengan meja kendali diposisikan di bawah bagian depan kereta yang telah diangkat dan penyangganya dinaikkan, sementara dongkrak diturunkan lalu dijauhkan. Selanjutnya kereta yang berada di atas unit penggeser tersebut digeser hingga berada di posisi yang tepat dan kemudian rangkaian yang berada di atas unit penggeser pun diturunkan perlahan dengan dikendalikan dari meja kendali sampai rodanya berada di atas rel lagi.
Evakuasi lokomotif CC 203 17 yang anjlok di Jatinegara. Tampak meja kendali beserta unit penggeser | Foto: Beritajakarta
Jika terjadi suatu masalah yang tidak memungkinkan pengunaan meja kendali maka dongkrak maupun unit penggeser bisa dioperasikan secara manual seperti menggunakan dongkrak mobil biasa dengan menggerakan tuas.

Contoh Proses penggunaan unit geser dapat dilihat di video di bawah:
Selain itu terdapat pula sistem berupa unit peluncur yang cara kerjanya lebih sederhana lagi, di mana unit peluncur ditempelkan ke roda yang anjlok, kemudian kereta yang anjlok tersebut ditarik lokomotif dengan tujuan agar roda yang anjlok menaiki alat peluncur dan kemudian bisa kembali ke atas rel dengan cara mengarahkan flensnya agar kembali ke posisi yang seharusnya.
Alat peluncur (Berwarna merah) digunakan dalam evakuasi anjlokan KA Penataran di Porong | Foto: Rio Prabowo
Anjlokan berat
Salah satu derek Kirow yang dioperasikan KAI | Foto: Railway.web.id
Derek Gajah Lampung milik Tanjung Karang | Foto: Imgrum
Akan tetapi jika anjlokan tersebut cukup berat hingga tidak bisa dievakuasi hanya dengan menggunakan dongkrak ataupun alat peluncur, maka sudah harus diturunkan alat berat berupa derek untuk dapat mengevakuasi kereta yang keluar rel tersebut. Meski demikian, terkadang anjlokan yang tidak terlalu berat pun dievakuasi menggunakan derek pada situasi tertentu.

PT KAI sendiri mempunyai lima unit kereta derek, dua derek buatan Kirow alokasi Bandung dan Solo, dua derek buatan Gottwald alokasi Cirebon dan Kertapati, serta satu derek yang dikenal sebagai Gajah Lampung alokasi Tanjung Karang. Selain itu terdapat beberapa unit derek uap tua yang sudah dipreservasi seperti Si Bongkok, Bala Dewa, dan Brotoseno.
Salah satu derek tua yang dipreservasi oleh unit heritage KAI, Brotoseno, yang sekarang ada di Jember | Foto: KAI Heritage
Khusus untuk Divisi Regional 1 dan 2, karena tidak mempunyai derek maka jika ada PLH yang memerlukan derek maka perlu menyewa derek ataupun meminjam Dishub.

Rangkaian KA yang anjlok dievakuasi dengan cara mengaitkan derek pada unit kereta/lokomotif yang berada di luar rel tersebut, dengan titik pengaitan yang sama dengan titik pendongkrakan (Lihat lagi foto "ANGKAT DISINI"). Derek tersebut kemudian mengangkat unit kereta yang di luar rel tersebut untuk kemudian diposisikan secara perlahan agar bisa kembali berada di atas rel.
Derek Kirow milik Bandung mengangkat bogie lokomotif CC 206 55 pada evakuasi KA Malabar | Foto: Analisis Daily
Terkadang, gabungan metode pendongkrakan dan pengangkatan dengan derek pun digunakan. Seperti misal pada anjlokan di Cilebut, karena kereta tengahnya tersangkut di peron maka diperlukan derek untuk mengangkat kereta tersebut, tetapi sebelum diangkat kereta tersebut diposisikan ulang dengan dongkrak Lukas terlebih dahulu.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat video di bawah:


Demikianlah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengevakuasi anjlokan. Meskipun kerumitannya jauh berbeda dan terkadang harus sampai menggunakan gabungan beberapa alat, tetapi semuanya mempunyai tujuan yang sama: mengembalikan kereta/lokomotif yang anjlok ke atas rel agar dapat dibawa ke dipo atau balai yasa terdekat untuk pengecekan dan perbaikan, atau bilamana kerusakannya sudah terlalu parah, untuk kemudian dirucat.

Sumber:
Lukas Rerailing
Kirow
Wikipedia Inggris

IKKO HAIDAR FAROZY/ARGO SAKURAI-Railway Enthusiast Digest

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment