testimoni

testimoni

Mengenal Rangkaian Tokyo Metro 7117F: Sang Pembawa Perubahan

Rangkaian 7117F di Stasiun Duri
Masih ingat suasana di lintas Jabodetabek sebelum tahun 2010? Dengan KRL yang hampir semua berbodi baja (Baik mild steel ataupun stainless steel) dengan muka yang cenderung kotak dengan kesan yang datar, lintas KRL kala itu mungkin terasa menjemukan. Sampai suatu ketika datanglah jenis KRL baru di lintas Jabodetabek dengan material bodi dan muka yang amat radikal, berbeda dari KRL-KRL yang umum beredar pada saat itu.

KRL tersebut adalah Tokyo Metro seri 7000 , dengan rangkaian pembuka jalannya adalah 7117F. Meskipun umur rangkaian ini tidak berbeda jauh dengan rangkaian-rangkaian yang terlebih dahulu tiba seperti Tokyu 8000 dan Tokyu 8500 (Bahkan 7117F lebih tua setahun-dua tahun dari semua rangkaian KRL Tokyu 8500 yang berdinas di sini, dan hanya 2 tahun lebih tua dari KRL Ekonomi Rheostatik angkatan pertama, percaya atau tidak!), namun bentuk dan material yang berbeda membuatnya lebih terkesan modern sehingga membawa angin segar perubahan di lintas Jabodetabek.

Selain itu, rangkaian ini dulu sempat tenar karena menjadi rangkaian yang menjadi "muka" perusahaan dengan tampil di kartu pembayaran KRL, bersama 8613F meresmikan kereta khusus wanita, serta memiliki keunikan yang tidak dimiliki bahkan oleh sesama KRL seri 7000 lain yang berdinas di sini.

Oleh karena segala keunikan dan ketenaran terutama ketika bersama PT KCJ yang ia miliki, tentu saja menarik rasanya untuk membahas rangkaian ini. Yuk langsung saja kita mulai!

Kehidupan di Jepang
Rangkaian Tokyo Metro 7117F dalam keadaan aslinya, dengan stamformasi sudah 10 kereta | Foto: 246.ne.jp
Kisah hidup rangkaian ini dimulai di Jepang pada tahun 1974. Pada saat itu, TRTA (Sekarang Tokyo Metro) baru saja membuka jalur terbarunya yaitu jalur Yurakucho yang saat itu baru jadi pada petak Ikebukuro-Ginza Itchoume. Demi memenuhi kebutuhan armada di jalur baru mereka tentu saja diperlukan KRL seri baru untuk melayani jalur tersebut.

Maka dibuatlah KRL seri 7000 yang menggunakan desain mengikuti kakaknya, seri 6000 yang memiliki desain yang amat mirip (Hanya berbeda pada kaca di atas jidad untuk seri 7000 yang pada awalnya difungsikan untuk display layanan ekspres pada jalur Seibu Yurakucho, tetapi dalam perkembangannya tidak lagi difungsikan) dan material konstruksi yang sama yaitu aloi aluminium, serta teknologi traksi AVF Chopper yang juga digunakan KRL seri 6000. Ketiga hal tersebut pada eranya, 1974, masih merupakan hal yang tidak umum di Jepang di mana sebagian besar operator masih berkutat pada konstruksi muka mengotak dengan bodi baja, serta teknologi traksi rheostatik.

Rangkaian 7117F ini adalah salah satu dari 19 rangkaian angkatan pertama dari KRL seri 7000 yang dibuat pada tahun 1974, dengan keunikan bahwa mereka pada awalnya dibuat sebagai rangkaian berstamformasi 5 kereta dengan formasi berikut:
Formasi asli rangkaian 7117F. Warna ungu menandakan kereta buatan 1974.
Baru pada tahun 1983 ketika jalur ini diperpanjang sampai Eidan Narimasu (Sekarang Chikatetsu Narimasu) rangkaian angkatan pertama dan kedua (7101F-7120F) dibuat stamformasinya menjadi lengkap 10 kereta dengan penambahan unit kereta lainnya mengikuti rangkaian angkatan ketiga (7121F-7126F) yang dibuat pada tahun 1983, sehingga formasinya menjadi:
Formasi rangkaian 7117F setelah menjadi 10 kereta. Warna ungu menandakan kereta buatan 1974, warna marun menandakan kereta buatan 1983
Karena perbedaan tahun pembuatan 5 unit kereta awal (Buatan 1974) dan 5 unit kereta terakhir (buatan 1983) yang jauh, maka rangkaian KRL seri 7000 angkatan pertama dan kedua, termasuk 7117F dalam keadaan baru memiliki keunikan tersendiri.

5 Kereta buatan 1974 aslinya mempunyai kaca jendela dua panel (Seperti semua KRL seri 6000 angkatan pertama hingga ketiga dalam keadaan asli) dan kaca pintu berukuran kecil (Seperti semua rangkaian seri 6000 yang belum sempat mendapat peremajaan oleh Tokyo Metro). Selain itu, interiornya memiliki sambungan berbentuk jamur, serta memiliki kipas angin di langit-langit (Seperti pada KRL seri 6000 angkatan pertama hingga ketiga).

Sementara 5 kereta buatan 1983 telah memiliki jendela panel tunggal dengan ukuran besar (seperti KRL seri 6000 angkatan keempat hingga ketujuh) dan jendela pintu berukuran besar (seperti KRL seri 6000 angkatan akhir dan yang telah mendapat peremajaan oleh Tokyo Metro). Selain itu, interiornya memiliki sambungan sempit (Kecuali pada sambungan kereta 7600-7700 dan 7100-7200 karena menyesuaikan bentuk persambungan asli yang berbentuk jamur), serta telah memiliki perangkat ventilasi Mitsubishi Linedlier sebagai persiapan pemasangan AC yang dilakukan bertahap pada KRL seri 7000 mulai tahun 1988 hingga 1994.
Perbedaan interior kereta buatan 1974 dan kereta buatan 1983 pada rangkaian 7117F (Tentu saja sudah mengalami perubahan yang akan diterangkan di bawah)
Pada tahun 1999, rangkaian ini menjalani peremajaan kembali (B-Refurbishment) dengan penggantian mocquette kursi dari warna merah-biru menjadi warna pink-biru, penambahan ruang kursi roda pada kereta 7917 dan 7217, perubahan tipe kaca jendela asli pada kereta buatan 1974 dari dua panel menjadi panel tunggal seperti pada kereta buatan tahun 1983 (sehingga bentuk jendelanya menjadi seperti yang dimiliki rangkaian 6106F, 6111F, 6115F, dan semua rangkaian 6000 VVVF yang tiba di Indonesia selain 6108F pada saat penulisan artikel ini), penggantian veneer pada interior dari warna krem menjadi putih, pelepasan perangkat traksi dan pantograf pada kereta 7117 sehingga menjadi kereta pengikut tanpa mesin, penambahan sistem pengumuman otomatis, serta perubahan display penunjuk rute dari tipe rol gulung menjadi tipe LED triwarna. Akan tetapi, bentuk persambungan jamur tidak diganti menjadi sambungan sempit.
Keadaan terakhir rangkaian 7117F sebelum diekspor ke Indonesia | Foto: VVVF 136
Lucunya, veneer pada pintu kereta buatan 1983 tetap mempertahankan veneer lamanya, sehingga pintu kereta dan dindingnya menjadi belang, di mana warna pintu kereta krem sedangkan warna dinding keretanya putih.
Perbedaan warna veneer pada pintu dan dinding di kereta buatan 1983
Meski demikian, tidak seperti sebagian KRL seri 7000 angkatan pertama dan kedua, KRL ini tidak pernah tersentuh modifikasi traksi dari AVF Chopper menjadi VVVF-IGBT. Formasi akhir dari rangkaian 7117F di Jepang adalah sebagai berikut:
Formasi terakhir pada rangkaian 7117F sebelum diekspor ke Indonesia
Setelah perubahan ini, tidak ada lagi perubahan berarti sampai rangkaian ini ditarik dari peredaran pada tahun 2009. Dan karena rangkaian ini tidak mengalami retrofit persiapan operasional penuh jalur Fukutoshin, maka sambungan tipe campuran rangkaian ini tetap bertahan, tak seperti rangkaian lain yang tidak dirucat yang sambungan campurannya telah distandardisasi menjadi sambungan tipe sempit, sehingga menjadikannya satu-satunya rangkaian 7000 dengan sambungan campuran yang masih dinas hingga kini.

Hidup di Indonesia

Rangkaian 7117F ketika dilangsir di Dipo Shin-Kiba untuk persiapan diangkut. Terlihat jelas perbedaan jendela yang dimiliki | Foto: Kereta dan Kucing
Rangkaian 7117F adalah salah satu rangkaian yang terpilih untuk menjadi rangkaian yang diekspor oleh Tokyo Metro pada tahun 2009, yang kelak menemani tiga rangkaian KRL seri 7000 yang merupakan trio dari angkatan ketiga (7121F, 7122F, 7123F). Rangkaian ini dikirim bersama dengan 7121F pada pertengahan Maret 2010, dan setelah menempuh perjalanan panjang, maka tibalah rangkaian KRL ini di Jakarta pada bulan April 2010.

Stamformasi awal rangkaian 7117F ketika datang adalah sebagai berikut:
Stamformasi awal rangkaian 7117F ketika tiba dan diujicobakan di Indonesia
Kereta 7117F ketika baru tiba di Tanjung Priok | Foto: KRL Mania
Setelah untuk beberapa waktu mendekam di Dipo Depok dan menjalani modifikasi dengan penambahan cowcatcher dan step pada pintu, pada tanggal 20 Mei 2010, KRL ini menjalani ujicoba pertamanya di lintas Jabodetabek dengan rute Manggarai-Bogor-Manggarai dengan livery yang amat "hebat" yang harus dilihat agar dapat dipercaya.
Rangkaian 7117F menjalani uji jalan perdana di lintas Jabodetabek dengan livery yang amat "hebat": Striping belum lengkap, dan muka 7117 belum dicat, tetapi muka 7017 sudah dicat | Foto: Yuza Ramadhan, via Semboyan35.com
Setelah berbagai penundaan, KRL ini menjalani debut pertamanya di lintas pada tanggal 19 Agustus, meskipun hanya sebagai perjalanan luar biasa dalam rangka peresmian kereta khusus wanita dan penggunaan pendingin udara hidrokarbon yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta direktur utama PT KAI dan PT KCJ. Rangkaian 7117F dijalankan dari Dipo Depok hingga Stasiun Gambir sebelum kemudian kembali menuju Stasiun Depok. Baru mulai esok harinya, rangkaian KRL ini secara reguler melayani penumpang di lintas Jabodetabek.

Sesuai dengan keterbatasan prasarana pada saat itu, rangkaian 7117F dijalankan hanya dengan formasi 8 kereta secara reguler di mana kereta 7717 dan 7817 dilepas dengan stamformasi dan nomor Kemenhub format lama:
Formasi rangkaian 7117F ketika berdinas reguler di Jabodetabek
Ironisnya, rangkaian ini sudah sempat disiapkan untuk dijalankan 10 kereta, bahkan pada tahun 2010 bekas angka 10 ini masih jelas kelihatan. Meskipun kemudian ketika rangkaian ini menjalani proses PAL (Pemeliharaan Akhir Lengkap), maka bekas angka ini kemudian menghilang. "Impian" ini tidak akan pernah terwujud karena kereta 7717 dan 7817 dirucat di Stasiun Cikaum pada tahun 2014 karena komponen pentingnya telah dikanibal sebagai suku cadang.
Bekas angka 10 pada kereta 7117, yang diganti menjadi 8 ketika operasi reguler hanya bisa memuat 8 kereta | Foto: 2427 Junction
Rangkaian 7117F dalam keadaan awal ia berdinas di Indonesia, 2010 | Foto: 2427 Junction
Dalam dinasannya sebelum perubahan pola operasi PT KCJ pada tahun 2011, rangkaian ini sering dinas sebagai Bekasi Ekspres maupun Depok Ekspres. Meski terkadang KRL ini juga berdinas sebagai Bojonggede Ekspres. Akan tetapi semenjak ada perubahan pola operasi, maka rangkaian ini jadi dapat berdinas di mana saja, suatu hal yang bertahan hingga kini.

Pada November 2012, rangkaian ini menjalani proses PAL yang pertamanya di Balai Yasa Manggarai, tanpa mengalami banyak perubahan yang berarti selain perubahan warna teralis dari putih menjadi hitam.
Rangkaian 7117F di Stasiun Tebet pasca-PAL 2012, September 2014
Meskipun KRL seri 7000 sendiri telah tenar sejak tahun 2010 dengan meresmikan kereta khusus wanita serta tampil di berbagai media PT KCJ, antara tahun 2012-2013lah, rangkaian ini mengalami titik puncak ketenarannya ketika ia menjadi rangkaian yang membintangi kartu COMMET, single trip, dan multi trip, dan fakta bahwa sebagian signage baru yang muncul semenjak tragedi Bintaro II tahun 2013 pun kemudian menggunakan KRL seri 7000 sebagai ilustrasi seakan menguatkan bahwa pamor KRL seri 7000 sedang tinggi-tingginya, dan baru pudar mulai ketika banyak KRL seri 6000 dan KRL seri 205 yang beredar luas di lintas. Meski demikian, di kalangan railfans dan pelanggan yang pernah mengalami era ini, apalagi yang beruntung untuk mengoleksi tiket jenis ini, pamor rangkaian ini tidak akan pernah pudar.
Kartu Multi Trip dan Single Trip untuk KRL Commuter Line bergambarkan Tokyo Metro 7117F
Dan pada Januari 2015, rangkaian ini kembali menjalani proses PAL yang kedua di Dipo Depok. Sesuai dengan standar rangkaian seri 6000/7000 yang menjalani PAL Dipo Depok, penomoran rangkaian menjadi putih serta ditambahkan lis putih di bawah bagian muka rangkaian di atas cowcatcher
Rangkaian 7117F setelah menjalani PAL pada Januari 2015 di Stasiun Serpong, Juni 2015
Di awal bulan Ramadan tahun 1436H/2015, sebuah insiden yang cukup konyol menimpa rangkaian ini. Ketika memasuki Stasiun Manggarai, rangkaian ini tertabrak copet yang berusaha melarikan diri dari kejaran petugas. Sontak, copet malang yang menabrak rangkaian ini meninggal dunia di tempat kejadian. Untung saja copet ini memang tidak lompat indah dan keretanya berjalan pelan. Karena bisa saja hal yang memalukan seperti yang terjadi dengan kakaknya pada tahun 2016 juga dialami oleh rangkaian ini setahun lebih dulu (Yang untungnya tidak terjadi).

Pada bulan Mei hingga Juli 2016, rangkaian 7117F mengalami masalah pada roda sehingga terpaksa mangkrak dikarenakan menunggu proses penggantian roda yang telah tipis. Rangkaian ini kemudian kembali diujicobakan pada 25 Juli 2016 setelah tuntasnya penggantian roda dan langsung berdinas pada sore harinya, seakan siap menyambut kakaknya 6117F yang kelak datang pada tanggal 30 Julinya, dengan menggunakan format nomor Kemenhub yang baru sebagai berikut:
Formasi rangkaian 7117F dengan format penomoran Kemenhub yang baru sesuai PM54/2016
Menariknya, tidak seperti kebanyakan rangkaian KRL yang nomor Kemenhub baru berdasarkan tahun pembuatannya terdapat kesalahan, rangkaian 7117F adalah sedikit dari rangkaian KRL yang mempunyai nomor Kemenhub format baru yang benar-benar akurat sesuai kenyataan lapangan bahwa terdapat dua angkatan kereta yang ada pada rangkaian 7117F.

Tanpa terasa sudah 6 tahun lebih rangkaian ini berdinas di Indonesia, dan juga 42 tahun kalau dihitung dari umur dinasnya di Jepang, dengan mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya rangkaian 7000 angkatan awal dengan sambungan campuran yang tersisa di dunia. Hidupnya pun sudah lebih lama dari rangkaian 7121F yang datang berbarengan ke Indonesia akibat hancur bertabrakan dengan truk tangki pada tanggal 9 Desember 2013 lalu.

Tentu dengan semakin bertambahnya umur, tantangan yang dihadapi oleh rangkaian ini semakin meningkat. Semoga rangkaian ini dapat menghadapi tantangan tersebut dengan baik, dan tetap dapat berdinas di tahun-tahun mendatang, hingga waktunya pensiun kelak.

Referensi:
KRFJ
Wikipedia Jepang

Wikipedia Inggris
All About Japanese Trains

IKKO HAIDAR FAROZY/ARGO SAKURAI-Railway Enthusiast Digest

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment