testimoni

testimoni

[Opini] 71 Tahun KAI, Mau Dibawa Ke Mana?

Lokomotif CC2061346
71 tahun yang lalu, Rikuyu Sokyoku direbut oleh Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Perusahaan kereta api Indonesia semasa penjajahan Jepang itu dinasionalisasi menjadi Djawatan Kereta Api (DKA). Berbagai hal telah dilewati selama 71 tahun itu. Beragam jenis kereta api telah dioperasikan, dari lokomotif uap Belanda hingga kereta listrik Nippon. Berkali-kali nama telah diganti, dari Djawatan Kereta Api (DKA), Perushaan Negara Kereta Api (PNKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA), PT Kereta Api (PT KA), hingga sekarang PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

Reformasi besar-besaran di tubuh kereta api Indonesia telah dibawa oleh pak mandor, Ignasius Jonan. Dari mulai sterilisasi stasiun, penghapusan KRL Ekonomi dan peleburan KRL Express dan Ekonomi AC menjadi Commuter Line, hingga perombakan birokrasi di tubuh KAI. Semua hasil keringat dan darah itu telah membawa kereta api Indonesia ke era yang baru. 

Namun sayangnya, setelah KAI ditinggal Jonan yang menjadi Menteri Perhubungan hingga dicopot dan digantikan oleh Budi Karya Sumadi, terjadi banyak sekali penurunan kualitas hingga masalah-masalah baru, baik masalah internal maupun eksternal. Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi itu, mau di bawa ke mana kereta api kita?

Harga Tiket Selangit Hingga Makanan Basi 


Pernahkah anda berpikir bahwa anda membuang uang terlalu banyak hanya untuk sekedar naik kereta sekali jalan? Pernahkah anda berpikir untuk menghabiskan uang sejumlah Rp 500.000 untuk melakukan perjalanan semalam Jakarta-Malang padahal anda bisa memangkas biaya hingga 100.000 dengan pesawat yang hanya memakan waktu 2 jam? Atau menggunakan bis yang bisa memangkas harga hingga 200.000 dengan pelayanan lebih baik namun sedikit lebih lama? 

Dengan harga semahal itu, anda mendapatkan punggung pegal, kedinginan, serta kelaparan karena tidak dapat makanan gratis. Tapi naik Citilink kan juga gak dapet makan. Iya emang gak dapet makan tapi perjalanan kan cuma 2 jam. Bis juga kan lebih lama perjalanannya. Iya tapi setidaknya naik bis bisa duduk selonjoran plus dapet makan. Gak duduk tegap sepanjang Jakarta-Malang. 

Kalau kita bandingkan dengan pesawat oke memang agak timpang karena levelnya berbeda. Kita bandingkan dengan yang selevel, yakni bis. Sebenarnya perbandingan antara bis dan kereta sudah pernah dibahas dalam artikel yang bertajuk "Kereta Api vs Bus Malam, Perang Inovasi dan Nilai Tambah" yang ditulis oleh redaktur RED Tubagus Gemilang Pratama pada Mei lalu.


Dengan kita membaca itu saja sudah terlihat perbedaan yang mencolok antara kualitas pelayanan bus dan kereta api. Sebagai contoh, anda naik kereta api Argo Lawu, anda hanya bisa mendapatkan kursi reclining dengan footrest saja, sedangkan dengan bis setara PO Mulyo Indah kelas Eksekutif anda bisa mendapatkan tempat duduk reclining dengan sandaran kaki sehingga anda bisa selonjoran selama perjalanan, persis seperti Bima jaman dulu. Selain itu, dengan menggunakan bis anda mendapatkan layanan ekstra yang tak bisa anda dapatkan di kereta api seperti snack dan makanan berat gratis. Dan luar biasanya, harga tiket PO Mulyo Indah sama seperti kereta api Senja Utama Solo. Yang artinya, anda membayar harga lebih murah namun dengan pelayanan maksimal.

Kursi PO Mulyo Indah kelas Eksekutif | Foto: Jermanies dalam Kaskus
Ngomong-ngomong soal makanan, kalau anda mau bilang judul sub-artikel ini terkesan mencemarkan nama baik atau apalah sebutannya, kami sih legowo aja toh realitanya juga demikian. Apakah anda masih ingat drama makanan basi yang terjadi pada Bulan Juli lalu? Kalau anda ingat selamat anda telah menjadi penonton drama yang sangat baik.

Sebagian dari anda pasti ingat drama yang terjadi di wall Facebook railfans tentang munculnya makanan basi dan tak layak makan yang dijual oleh Reska di atas kereta. Tak tanggung-tanggung, kejadian ini terjadi sampai pada kereta kelas argo yang notabenenya merupakan kelas termahal! Tentu hal ini menjadi permasalahan serius.

Bukan cuma masalah kepercayaan costumer, tapi juga menyangkut masalah kesehatan. Bukan karena apa ya, tapi kalau seandainya mereka mengalami diare setelah memakan makanan itu siapa yang bertanggungjawab? Ingat, naik kereta saat diare itu tidak enak karena di toilet kereta airnya cuma sedikit dan tidak kencang seperti air PAM (pengalaman pribadi). Selain itu harganya mahal pula.

Makanan basi pada KA Argo Lawu
Penurunan kualitas Restorasi KA

Setelah drama yang menghebohkan itu, Reska memang melakukan perbaikan besar-besaran dalam hal kualitas makanan, yakni dengan menggandeng sejumlah franchise fast food terkemuka seperti D'Cost, Solaria, bahkan McDonald. Namun sayangnya harga mahal dan porsi sedikit masih menjadi kendala bagi para penumpang untuk membeli makanan melalui Reska sehingga mereka lebih memilih membeli makanan dari luar atau bahkan membawa bekal dari rumah. Mungkin saya sedikit memodifikasi lawakan ala Meme Segar Indonesia, "Padang gak pro! Nasi banyak lauk dikit" menjadi "Reska gak pro! Nasi dikit, lauk dikit, mahal pula!"


Keretaku Cepat Sekali ....... Masa?

Stasiun Manggarai
Detik
Ketika anda naik kereta api apa yang anda harapkan? Kecepatan? Ketepatan waktu? Atau apa? Semua itu memanglah hal yang diinginkan oleh setiap insan yang naik kereta api, baik pertama kali ataupun sudah sering. Namun selayaknya memandang bintang di langit yang begitu berkilauan dan indah namun sudah hancur jutaan tahun yang lalu, kedua hal itu menjadi hal yang sulit diwujudkan.

Kenapa? Pernahkah anda terpikirkan kereta masuk stasiun dengan kecepatan hanya 20 km/jam dan bahkan sudah direm 1 km sebelum merapat peron? Belum lagi antrian kereta yang hampir terjadi di setiap stasiun transit di Jabodetabek. Antrian yang sudah masuk tahap kronis ini terkadang memakan waktu yang tak sebentar, paling cepat anda tertahan selama 10 menit, itu pun anda sudah sangat bersyukur. Bahkan tak jarang kereta bisa tertahan hingga 1 jam lamanya di sinyal masuk hanya untuk menunggu kereta masuk stasiun. Hal itu tentu menyiksa terutama bagi mereka yang punya batu ginjal dan dia kebelet kencing.

Permasalahan taspat dan kereta tertahan ini bukan lagi menjadi masalah serius, melainkan sudah masuk tahap kronis. Beragam faktor menjadi penyebab mengapa masalah taspat dan tertahan ini seolah-olah menjadi masalah abadi di perkeretaapian kita terutama di ibukota. Dari mulai padatnya jadwal perjalanan, wesel yang "rapuh", hingga masinis yang ketakutan dengan speedometer.

Oke anda boleh bilang faktor yang terakhir terdengar aneh di telinga, tapi memang begitu realitanya. Nanti kita bahas kenapa masinis bisa ketakutan dengan speedometer. Pertama yang kita bahas adalah masalah padatnya jadwal perjalanan. Tidak dipungkiri jadwal perjalanan kereta api terutama di Stasiun Manggarai sangatlah padat. Bayangkan saja, ada ratusan perjalanan KRL Bogor dan Bekasi yang melintas Manggarai. Belum di tambah perjalanan kereta api jarak jauh dan KLB-KLB yang biasanya lewat di Manggarai.

Dengan perjalanan sebanyak itu dan jalur yang tak pernah bertambah sejak jaman Hindia Belanda, wajar saja terjadi antrian yang mengular bahkan sampai Pasar Minggu atau terkadang sampai Universitas Indonesia. Sejumlah solusi ditawarkan untuk mengatasi masalah antrian ini. Termasuk rencana membangun jalur 2 lantai di Manggarai serta proyek double-double track yang saat ini tengah dikerjakan. Namun anda harus bersabar karena proyek tersebut baru tuntas beberapa tahun lagi.

Lalu yang kedua, wesel yang sangat "rapuh". Bagi anda yang pernah merasakan era KRL Ekonomi, Ekonomi AC, Semi Express, dan Express, apakah anda merasa perjalanan KRL saat ini jauh lebih lambat ketimbang jaman dulu ketika keempat elemen perjalanan KRL tersebut masih beroperasi? Ya selamat, anda mendapatkan 5 juta Rupiah dipotong pajak!!

Sadarkah anda kalau kereta api, apapun itu yang melintas di Manggarai dikenai batas kecepatan ketika melintasi wesel? Lain dengan jaman dulu yang terkadang KRL Express pun masih bisa digeber 50 km/jam ketika melintasi wesel Manggarai. Tapi saat ini paling banter kereta melintas wesel rata-rata hanya 30 km/jam. Okelah kalau belok harap maklum dia lambat, lah ini di wesel lurusan saja kena taspat. Lu bercanda apa ngajak ribut?   

Dan yang lebih lucunya, para pejabat cenderung menyalahkan wesel ketimbang menggantinya. Ini ibarat kata anda tersandung batu tapi anda menyalahkan batunya alih-alih menyingkirkan batu itu agar tidak tersandung. Yang ada mereka malah menurunkan batas kecepatan dan menganggapnya sebagai solusi. Yaelah bro. dengan batas kecepatan segitu aja masih sering kecengklak.

Intinya hanya satu solusi batas kecepatan yang gila ini. Ganti weselnya dan naikkan batas kecepatan. Bahkan dengan menaikkan batas kecepatan, mungkin saja masalah antrian yang ada di poin pertama juga bisa teratasi. Perlu diketahui, wesel yang ada di Stasiun Manggarai masih menggunakan sistem lama yang bahkan sudah beroperasi sejak dibangunnya jalur ganda Jakarta-Bogor dan masih belum diganti hingga saat ini.

Yang terakhir adalah speedometer. Sebenarnya memang sudah lama speedometer digital dipasang di lokomotif dan mulai tahun ini KRL juga mulai dipasangi speedometer digital. Permasalahannya adalah, pertama, speedometer asli di lokomotif sudah banyak yang rusak memang sebagai hasil peninggalan budaya jaman dulu yang ajrut-ajrutan, sedangkan speedometer asli KRL untuk KRL AC rata-rata masih berfungsi dengan baik, tapi malah dibuang juga itu speedometer aslinya, sehingga tidak meninggalkan backup. Kedua, speedometer digital ini bukan menggunakan sensor yang mengukur kecepatan putaran roda, tetapi menggunakan sistem GPS. Meski memang hal ini memudahkan integrasi dengan pelacak Loko Track, tetapi kelemahan speedometer GPS adalah sangat tidak stabil. Menariknya, tampaknya speedometer digital KRL memiliki lebih banyak masalah dibanding speedometer digital lokomotif
Apa yang salah di sini? Ini KRL diam sempurna kenapa speedometernya 0,7?!


Bayangkan saja begini, KRL diam sempurna dari 0,0 tiba-tiba bisa 0,7 bahkan bisa 1 jika benar-benar parah. Ataupun ketika masinis menjalankan KRL dalam kecepatan katakan 62 km/jam dan speedometernya berfluktuasi wajar 60-61-62-61-63-64-61-62, tiba-tiba saja melonjak jadi 74 selama sedetik. Permasalahannya adalah, dengan batas kecepatan maksimal KRL 70 km/jam dan sistem pelacak tidak dapat membedakan pelanggaran kecepatan akibat lompatan error ataupun memang akibat masinis melanggar batas kecepatan, tentu saja sebagian masinis jadi khawatir untuk membawa kereta dengan kecepatan normal sekalipun. Ditambah dengan tidak ada meteran pada speedometer digital membuat masinis sulit mendapat feel seberapa cepat keretanya berjalan

Selain itu, tidak jarang karena speedometer yang tersedia hanya speedometer digital, ketika terjadi gangguan speedometer, satu-satunya pilihan adalah pulang dipo karena speedometer dalah no-go item, yang selain membuang-buang waktu karena harus bertukar sarana, juga membuat banyak keterlambatan.

Sebenarnya solusi yang tepat adalah, jika memang bisa, dibuat sistem speedometer dan pelacak sarana yang memang bisa mendeteksi kecepatan dari putaran roda, dan bisa diintegrasikan dengan speedometer asli. Kalaupun keukeuh mau menggunakan speedometer digital, harus ada algoritma yang bisa membedakan loncatan kecepatan akibat error yang seringkali sifatnya sekejap, berbeda dengan pelanggaran batas kecepatan yang lebih gradual naiknya.

Vandalisme, Ironi Fotografer dengan Objeknya, dan Komersialisasi 

Fotografi adalah salah satu aktivitas paling populer di kalangan railfans 
"Sudah ada ijin foto-foto?" Kalau Anda disapa dengan pertanyaan ini maka selamat ya. Anda sudah menjadi bagian dari ironi ini.

Permasalahan ini sebenarnya sudah mengakar sejak lama sekali, bahkan sejak pertama kali Ignasius Jonan menjabat sebagai Dirut PT KAI. Kalau anda melihat railfans sedang memotret kereta api apa yang anda pikirkan? Keren, biasa aja, atau aneh? Itu tergantung pada pendapat masing-masing. Banyak railfans saat ini mengeluhkan satu aturan yang bisa dibilang mengambang dan mengalir jauh seperti emas di Kali Ciliwung: aturan memotret di area stasiun dan lintas.

Mengapa tidak jelas? Karena seolah-olah setiap stasiun memiliki otonomi sendiri, tiap stasiun memiliki aturan yang berbeda mengenai aturan memotret ini. Ada yang membebaskan railfans untuk memotret, ada yang memperbolehkannya di area tertentu saja, ada pula yang melarang adanya aktifitas fotografi di area stasiun bahkan juga melarang penumpang untuk mengambil foto selfie (are you serious dude?).

Beribu alasan diberikan untuk melarang aktifitas hunting para railfans di stasiun, dari yang paling mainstream adalah mencegah komersialisasi hingga pelarangan untuk memotret bangunan cagar budaya. Sebenarnya kedua alasan ini agak kurang masuk akal bahkan tidak masuk akal apabila dipakai untuk melarang railfans memotret.

Andai kata alasan komersialisasi menjadi alasan untuk melarang railfans memotret di area stasiun, logikanya begini: apakah semua railfans berniat untuk menjadikan foto atau video mereka sebagai media iklan produk tertentu? Tidak juga. Kalau seandainya KAI merasa kesal pada railfans karena foto dan video mereka dipakai untuk iklan, harusnya railfans lah yang merasa kesal karena hasil karya mereka dibajak dan dikomersilkan tanpa izin.

Lalu alasan kedua yang lebih tidak masuk akal adalah bangunan cagar budaya tidak boleh dipotret. Kasus ini bisa dibilang masih baru dan segar belakangan ini. Beberapa stasiun melarang adanya pemotretan bangunan stasiun yang masuk dalam bangunan cagar budaya. Bahkan Stasiun Tanjung Priok pun menampilkan aturan larangan memotret di dinding stasiun. What the hell

Larangan memotret di Stasiun Tanjung Priok
Sekarang begini, adakah peraturan baik Permenhub, Permendikbud, Permenpar, Perda, ataupun Undang-Undang yang melarang adanya pemotretan bangunan cagar budaya? Kami rasa tidak. Lalu hadirnya bangunan cagar budaya sendiri untuk apa? Pajangan? Bukan! Bangunan cagar budaya itu ada untuk memberikan edukasi tentang sejarah masa lalu kepada khalayak publik. Jadi wajar apabila ada yang memotret bangunan cagar budaya entah itu untuk pembelajaran maupun untuk mengenang kunjungan itu belaka.

Tak hanya itu, terkadang para railfans pun sering melaporkan tindakan kasar dari oknum petugas yang entah itu membentak, memarahi, menarik mereka ke kantor, hingga mengusir mereka dari stasiun. Namun ironisnya dibalik pelarangan memotret itu PT KAI masih saja menggunakan foto-foto hasil karya para railfans untuk digunakan sebagai media promosi mereka. Satu pertanyaan kami, Maulu apa hah

Kalau boleh cerita ya, salah satu anggota tim REDaksi pada tahun 2014 pernah menerima perlakuan kasar oleh seorang penjaga perlintasan di Lempuyangan, di mana ia dan rekannya dihardik oleh penjaga perlintasan karena memotret KA menggunakan kamera DSLR mereka sampai diancam dipolisikan, padahal banyak warga sekitar yang memotret dan merekam aktivitas KA dengan HP. Akhirnya pecah keributan karena warga yang menggunakan HP lantas bangkit dan membela anggota tim REDaksi tersebut dan melawan argumennya dengan kata "Kalau mereka gaboleh foto kenapa bapak nggak usir kita?!" dan petugas perlintasan tersebut langsung tidak bisa membalas. Demi menjaga kondusivitas pun akhirnya ketiga belah pihak kemudian undur diri.

Terkait dengan isu vandalisme, sampai ada dugaan dari sebagian orang karena terlalu sibuk dengan mengusir fotograferlah pihak keamanan kemudian kecolongan akan adanya vandalisme. Tapi sekali terjadi vandalisme, justru jadi kesannya parno dan railfans kena getahnya. Padahal seperti yang dijelaskan sebelumnya, kalau memang niat, perusahaan bisa bekerjasama dan memanfaatkan railfans untuk membantu dalam pengamanan...

Vandalisme pada kereta, masalah lama yang belum kunjung selesai dari jaman bapak kalian semua masih SMA
Belakangan ini sedang booming dan jadi trending topic baik di kalangan penumpang maupun railfans mengenai insiden vandalisme yang menimpa rangkaian 6011F pada tanggal 19 September 2016 lalu. Hanya selang hari setelah insiden serupa pada salah satu rangkaian kereta api jarak jauh yaitu Argo Jati dan Tegal Bahari pada 18 September lalu. Bahkan di luar dua insiden itu, sudah tidak jarang terjadi vandalisme terhadap sarana-prasarana KA.

Bukan hanya aksi corat-coret saja, sejak dulu kala tidak jarang KA, baik KA komuter maupun KA jarak jauh terkena lemparan batu. Salah satu yang paling (tidak) terkenal adalah ketika KA yang ditumpangi oleh Mentri Perhubungan 2014-2016 Ignasius Jonan dilempar batu, yang untungnya tidak nembus

Akan tetapi, tidak jarang kasus serupa berakhir dengan korban luka, bahkan tidak jarang yang sampai cacat permanen. Banyak kasus di mana seorang masinis ketika lokomotifnya dilempar batu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang mengakibatkan matanya buta sebelah sehingga ia tidak bisa lagi berdinas sebagai masinis.

Kedua hal tersebut tentu saja menimbulkan suasana paranoid karena tentu saja sulit membedakan oknum yang berniat jahat untuk melakukan vandalisme, apalagi terkadang para vandal ketika bertemu petugas berbohong dengan mengatakan mereka adalah pecinta kereta. Tentu saja hal ini akan membuat rusak citra railfans, yang tentu saja tidak ada yang suka dengan hal itu. 

Padahal sebenarnya jika memang mau railfans justru bisa diberdayakan untuk membantu dalam pengamanan, karena bisa saja orang-orang yang berniat jahat yang tidak terdeteksi oleh petugas keamanan bisa segera dideteksi dan dilaporkan oleh railfans ke pihak yang berwenang. Win-win kan?

Kesimpulan

71 tahun PT KAI berdiri. Banyak aral lintang telah dilalui dalam waktu nyaris seabad itu. Perubahan besar telah dibawa Ignasius Jonan ketika menjabat sebagai Dirut PT KAI. Membangun PT KAI dari image sebelumnya "tumpangan orang miskin" menjadi "tumpangan bergengsi" memang dibutuhkan banyak pengorbanan, keringat, darah, bahkan tak jarang air mata, namun mempertahankan semua itu dibutuhkan lebih dari sekedar pengorbanan itu.

Penurunan kualitas serta kapitalisasi menjadi musuh utama yang harus dihadapi PT KAI saat ini. Bukan karena pelayanan sudah sangat baik jadi semuanya bisa ongkang-ongkang kaki di belakang meja, tidak! Perjuangan KAI masih sangat panjang bahkan tanpa akhir. Karena tugas KAI sekarang bukan hanya sekedar membangun sebuah jaringan transportasi, melainkan juga turut membangun negeri serta membangun karakter manusia, baik penumpang maupun pegawainya.

Kami sadar semua perubahan itu tak terjadi secara instan sembari membaca sim salabim abrakadraba, semua memerlukan proses yang panjang dan lama. Jatuh bangun itu hal biasa, namun semangat untuk bangkit kembali, itulah yang diperlukan saat ini. PT KAI saat ini sudah berdiri sangat tegap, jangan sampai KAI jatuh kembali ke lubang yang sama dan kembali seperti 1 dasawarsa lalu. 

Semoga PT KAI di masa yang akan datang akan jauh lebih baik ketimbang saat ini. Jika ada tulisan yang membuat pembaca merasa tersinggung, kami segenap tim REDaksi serta relawan RED Citizen Journalist yang menyusun opini ini, memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami mengeritik demi kebaikan bersama dan demi kereta api yang lebih baik.

Dirgahayu ke-71 kereta apiku! Jayalah selalu di bumi pertiwi dan jadilah lokomotif untuk kemajuan bangsa!


Tim REDaksi | RED Citizen Journalist

About Gerakan Muda Penggemar Kereta Api

Selamat datang di official Google+ dari komunitas Gerakan Muda Penggemar Kereta Api. Mari bersama kita bangun kereta api Indonesia yang lebih baik!
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment