testimoni

testimoni

Mengenal Rangkaian KRL JR 205-143F: Absurditas Tiada Henti

Rangkaian 205-143F dengan formasi 12 kereta
Sekilas di kalangan railfans, rangkaian KRL 205-143F ini amat biasa, tidak seperti rekannya 205-142F yang secara harfiah menjadi bintang di lintas Jabodetabek. Bayangkan saja, dengan menjadi rangkaian pertama yang dilengkapi display LED lokal (Ketika artikel ini baru mulai ditulis akhir Oktober lalu, rangkaian 205-143F belum diaktifkan kembali display LEDnya-Penulis), menjadi yang pertama dipasangi TV di dalam rangkaian, dan menjadi langganan iklan tematik, kurang spesial apa si 205-142F dibanding 205-143F?

Akan tetapi, rangkaian ini sesungguhnya memiliki beberapa keistimewaan. Seperti urutan kereta motor yang acak-acakan dari Jepang, serta rangkaian ini menjadi rangkaian perdana yang berdinas menjadi rangkaian formasi 12 kereta tanpa kabin tengah (Rangkaian 205-120F berdinas dengan formasi seperti ini hanya saat ujicoba pertengahan tahun lalu, bukan secara operasional sehari-hari).

Selain itu, mungkin banyak yang tidak sadar, kereta motor yang amat tidak jelas asal-usulnya ini membawa suatu "pesan" yang penting di dunia KRL Jabodetabek. Penasaran mengapa ada kereta nomor 277 sendirian seakan tanpa alasan dan "pesan" apa yang dibawa? Simak terus saja artikel ini

Di Jepang
Rangkaian 205-143F di Jepang (rapid_trains @ ウィキ)
Sejarah rangkaian ini diawali ketika ia mulai berdinas bersama East Japan Railway Company (Selanjutnya disebut JR East) pada 3 Desember 1991 dengan nomor rangkaian HaE 24 (Rangkaian ke-24 Dipo Kawagoe). Rangkaian ini langsung didinaskan di lintas Saikyo untuk memenuhi kebutuhan rangkaian di lintas tersebut sebagai batch terakhir KRL seri 205 untuk lintas Saikyo, tidak terpaut jauh dari saudaranya 205-144F yang merupakan rangkaian 205 bermuka asli terakhir yang mulai dinas sepekan kemudian.

Aslinya, rangkaian ini berdinas tanpa menggunakan kereta tanpa penggerak 6 pintu, melainkan kereta tanpa penggerak 4 pintu biasa seperti pada stamformasi 205-42F, 205-137F, dan stamformasi asli 205-54F dengan formasi seperti berikut:
Formasi asli 205-143F sebagaimana keluar dari pabrik
Selain itu, rangkaian ini juga aslinya menggunakan penunjuk rute tipe roller blind, yang kelak baru akan diubah menjadi tipe LED oleh JR East memasuki era tahun 2000an. Akan tetapi, tidak seperti rangkaian di wilayah divisi Kamakura yang termasuk di dalamnya 205 lintas Nambu dan Yokohama, tidak dilakukan perubahan pada interior dan tipe pantograf, sehingga sampai akhir dinasnya di Jepang rangkaian ini menggunakan pantograf lengan ganda dan memiliki interior seperti aslinya. Sebuah ironi memang ketika rangkaian berusia muda tapi jadi tampak amat jadul dibanding yang jauh lebih tua.
JR205系埼京線色
Ilustrasi KRL seri 205 lintas Saikyo ketika masih menggunakan display roller (Orange Zero)
Pada tahun 2004, akibat dari penambahan kepadatan penumpang di lintas Saikyo serta terusirnya KRL seri 205 dari lintas Yamanote seiring dengan masuknya KRL seri E231-500, maka kedua kereta tanpa pengikut biasa milik 205-143F dipertukarkan dengan dua kereta 6 pintu yang berasal dari rangkaian seri 205 lintas Yamanote, serta susunan formasinya diatur ulang sehingga menjadi seperti berikut:
Formasi 205-143F setelah penambahan kereta 6 pintu, 2004-2007
Selain itu, kereta tanpa motor 6 pintu pada Lintas Saikyo dimodifikasi dengan menambahkan display rute LED pada salah satu jendelanya karena tidak adanya ruang untuk display pada pojok atas kereta, sehingga salah satu jendelanya ukurannya menjadi hanya setengahnya.

Kedua kereta pengikut tanpa penggerak ini kelak dimodifikasi menjadi kereta berkabin subseri -1100 yang melayani lintas cabang dari lintas Nambu.

Absurditas Stamformasi
Kecelakaan yang dialami 205-143F di Lintas Kawagoe (Redliner-Izayoi)
Seakan-akan perubahan stamformasi adalah akhir dari perubahan yang dialami oleh rangkaian KRL ini di Jepang, akan tetapi, semuanya akan seketika berubah.

Pada 21 Januari 2007, terjadi sebuah tragedi di mana terjadi kecelakaan di lintas Kawagoe. Rangkaian KRL 205-143F yang sedang berdinas ditabrak oleh sebuah mobil hingga terbakar hebat. Akibatnya, unit MoHa 204-388 hancur tersambar api, sedangkan unit MoHa 205-386 rusak parah akibat ikut terbentur mobil tersebut, dan pada akhirnya keduanya terpaksa dirucat.

Kereta 204-388 dan 205-386 yang hancur akibat tabrakan dengan mobil (jyoumato)
Bukan itu saja, ketika rangkaian ini ditarik oleh 205-137F (Yang kebetulan juga kelak akan berdinas di Indonesia), akibat sistem keselamatan ATS yang memaksa rangkaian 205-137F mengerem terlalu keras ketika menarik rangkaian 205-143F pulang dipo karena traksinya tidak dapat lagi difungsikan, terjadilah kecelakaan lagi di mana rangkaian kombinasi tersebut anjlok. Kedua insiden ini membuat lintas Kawagoe ditutup untuk hari itu.

Beruntung bagi 205-143F, setelah mangkrak beberapa bulan, ada dua unit kereta motor yaitu MoHa 204 dan 205-277 yang tersisihkan dari rangkaian 205-103F dari lintas Keiyo yang pada akhirnya digunakan untuk "menyelamatkan" 205-143F, dengan posisinya diletakkan pada kereta nomor 3 dan 4.

Selain itu, kereta MoHa 205-388 yang selamat dipindah pada posisi 9, dengan posisi aslinya ditempati oleh MoHa 205-277. Sehingga formasinya berubah menjadi:
Formasi 205-143F setelah kecelakaan di lintas Kawagoe
Rangkaian ini pada akhir tahun 2013 menjadi salah satu di antara 18 rangkaian 205 jalur Saikyo yang dipilih untuk diekspor ke Indonesia, dengan dinas terakhirnya tanggal 1 November di Jepang, dikarenakan penggantinya, yaitu KRL seri E233-7000 sudah mulai mencukupi untuk "mengusir" KRL seri 205 di lintas Saikyo. 

Di Indonesia
Rangkaian 205-143F dalam keadaan awal dinas di Indonesia




Setelah menempuh perjalanan dari Niigata menuju Pasoso, pada 3 Desember 2013, rangkaian ini tiba di Tanjung Priok bersama dengan rangkaian 205-121F. Setelah ujicoba adaptasi lintas, rangkaian ini mulai berdinas pada awal tahun 2014 dengan stanformasi sebagai berikut:
Stamformasi rangkaian 205-143F dengan nomor Kemenhub lama
Di Indonesia, rangkaian ini seakan membawa suatu pesan tersembunyi dari jalur Nambu. Kereta motor MoHa 204-277 dan 205-277 yang sebelumnya berada di lintas Keiyo sesungguhnya berasal dari lintas Nambu yaitu rangkaian 205-103F yang aslinya adalah NaHa 7, yang sekarang penomorannya diisi oleh 205-102F. Rangkaian ini pindah ke Chuo-Sobu pada tahun 1993, dengan empat kereta lainnya ditambahkan dari eks rangkaian 205-136F dari lintas Keihin-Tohoku, sebelum kemudian berpindah lagi ke lintas Keiyo dan kemudian Musashino, seperti yang disebutkan di atas, dengan kereta motor MoHa 204 dan 205-277 dipindahkan ke rangkaian 205-143F dan ikut ke Indonesia.

Tidak banyak yang menyangka, seakan membawa pesan tersembunyi untuk memanggil rekan-rekannya, hanya terpaut sekitaran dua tahun setelah dua kereta motor ini ikut "nyasar" bersama 205-143F, PT KCJ mengimpor 20 rangkaian dari lintas Nambu untuk menjadi 10 rangkaian formasi 12 kereta.

Meski berasal dari jalur Nambu, oleh karena kereta bermotor ini tidak pernah diremajakan interiornya oleh JR East karena KRL seri 205 dari lintas Nambu sendiri baru diremajakan sekitar pertengahan 2000an oleh Divisi Kamakura, maka kereta ini punya interior biasa tanpa sandaran transparan di ujung baris kursi, serta pantografnya tetap menggunakan pantograf lengan ganda.

Pada pertengahan 2016, sesuai dengan PM54/2016, penomoran Kemenhub pada rangkaian 205-143F berubah menjadi seperti ini:
Stamformasi rangkaian 205-143F dengan nomor Kemenhub baru
Absurditas Stamformasi... Lagi

Seakan belum cukup dengan stamformasinya yang sudah absurd berkat campur tangan pihak JR East di Jepang, setelah dua tahun lebih beroperasi di Indonesia, dengan siap operasi kembalinya rangkaian 205-64F yang sudah mangkrak tidak tentu arah berbulan-bulan di Dipo Depok, takdir rupanya memilih 205-143F untuk menjadi jauh lebih absurd dari keadaan aslinya di Indonesia yang sudah absurd.

Kereta tengah dari 205-64F, yaitu MoHa 205-188 dan 204-188 disisipkan di antara kereta 204-277 dan 204-41, sehingga formasinya berubah menjadi:
Stamformasi rangkaian 205-143F sejak 30 September 2016
Alhasil, tercipta rangkaian berstamformasi 12 tanpa kereta tengah berkat penambahan kereta motor ini, yang mulai pertama kali berdinas dalam konfigurasi ini pada 30 September 2016. Akibat adanya kereta yang berasal dari lintas lain yaitu lintas Yokohama, timbullah perbedaan yang signifikan pada interiornya.

Rangkaian 205-143F dengan formasi 12 kereta

Karena kereta MoHa 205 dan 204-188 berasal dari rangkaian jalur Yokohama yang telah diremajakan interiornya, kereta ini mempunyai sandaran transparan di ujung baris kursinya yang tidak dimiliki oleh kereta lain pada rangkaian ini, yang merupakan suatu keunggulan karena sandaran seperti ini menawarkan privasi (Tidak untuk buka yang enggak-enggak tentunya!) yang lebih baik dan (agak) bih nyaman disandari dibandingkan sandaran polos seperti kereta lain pada rangkaian ini.

Selain itu, pada barisan tempat duduk prioritas (kursi berwarna merah), handgrip pada kereta MoHa 205 dan 204-188 menggunakan handgrip bentuk baru yaitu segitiga panjang berwarna kuning, sedang pada kereta lainnya, handgrip pada kursi prioritas memiliki bentuk konvensional.

Pada November 2016, ketika display LED pada KRL seri 205 mulai diberdayakan kembali dengan perubahan program dari program asli Jepang ke program lokal, rangkaian 205-143F menjadi salah satu yang cukup cepat untuk mendapat pemberdayaan kembali display LED. Tidak hanya display LED asli pada muka rangkaian serta samping badan kereta 4 pintu saja yang diaktifkan, tetapi unit roller asli pada MoHa 205 dan 204-188 juga diganti oleh LED, sehingga seluruh rangkaian kecuali kereta 6 pintu sudah aktif kembali display LEDnya.
Rangkaian 205-143F pasca-pengaktifan kembali display LED
Tidak terasa, sudah hampir 26 tahun rangkaian ini berdinas termasuk hampir 3 tahun di Indonesia, menjadikannya rangkaian termuda keempat di KRL Jabodetabek setelah 205-144F, 05 110F, dan 05 112F ini sedikit lebih tua. Semoga saja dengan tantangan operasional yang makin berat, terlebih karena badannya sekarang sedikit memanjang, rangkaian ini selalu prima dalam waktu yang mendatang...

Rerferensi
Raillab.jp
Chiyonosawa7change
Redliner Izayoi
KRL Jabodetabek-Cocolog

Railway Etnhusiast Digest|Ikko Haidar Farozy

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
    http://grosirsponmandi.klikspo.com/

    ReplyDelete