testimoni

testimoni

[Eksklusif] Underpass Stasiun Manggarai Mulai Dioperasikan

Underpass Stasiun Manggarai yang sudah dibuka untuk umum.
[09/12] Di balik kejadian gangguan dobel yang menimpa lintas lingkar Jabodetabek kemarin (8 Desember-REDaksi), sesungguhnya ada lagi satu kejadian yang tidak terduga, yaitu pengoperasian underpass Stasiun Manggarai secara darurat guna mengurangi dampak antrean kereta pada penyeberangan penumpang. Underpass ini sendiri sejatinya belum dibuka untuk umum karena kondisinya belum seluruhnya selesai karena belum dipasangnya eskalator dan masih belum rapi, meskipun signage sudah dilengkapi.

Penulis yang memergoki underpass ternyata sudah dibuka tentu saja langsung penasaran dan melakukan liputan sekaligus melihat kondisi di dalamnya. Penasaran? Simak terus liputan eksklusif hanya di Railway Enthusiast Digest!


Liputan diawali ketika Penulis yang sedang pulang dari liputan di Stasiun Jatinegara kemarin malam tanpa sengaja memergoki underpass di jalur 1 ketika akan menyeberang ternyata sudah dioperasikan. Lantas penulis yang penasaran kemudian bertanya pada salah seorang petugas Passenger service di gate Stasiun Manggarai.

Ternyata menurut keterangan petugas tersebut, underpass ini sudah dibuka sejak sore harinya karena adanya kabar gangguan, sehingga karena kondisi dianggap darurat dan untuk mengurangi dampak antrean KA terhadap penyeberangan, maka underpass yang sejatinya belum diresmikan ini dibuka untuk umum.

Menariknya, pada malam itu tidak ada pengumuman dari pengeras suara Stasiun Manggarai, hanya ada pemberitahuan secara lokal oleh petugas keamanan yang berada di dekat pintu akses terowongan. Mungkin karena inilah, pada saat Penulis mencoba menuruni tangga akses menuju underpass serta ketika mengamati keadaan di dalamnya, situasinya tidak terlalu ramai oleh pergerakan penumpang.
Tangga underpass pada jalur 1 Stasiun Manggarai
Signage pada akses keluar di tangga menuju gate jalur 1.
Dari pengamatan Penulis di terowongan, signage petunjuk arah pada underpass Manggarai, baik di akses terowongan ataupun di dalamnya sudah lengkap, begitu juga dengan ventilasi yang menggunakan kipas angin. Akan tetapi, masih terdapat peralatan konstruksi yang tergeletak dan fnishing yang memang belum sepenuhnya sempurna dan lantainya sendiri masih terlihat sangat tidak bersih. Lebar terowongan yang membentang di bawah jalur 1 sampai 5/6 ini terlihat cukup memadai untuk menampung jumlah penyeberang. Selain itu, karena keadaan underpass pada saat pengamatan tidak terlalu ramai, tampak beberapa pengguna jasa malah duduk-duduk untuk istirahat ataupun makan. 

Lantai pada underpass Stasiun Manggarai ini dilapisi menggunakan aspal untuk mencegah licin akibat hujan. Walau aspal memang terbukti mencegah licin, namun pemilihan bahan aspal ditambah pemilihan warna putih polos tersebut menimbulkan perdebatan di antara pengamat desain interior mengenai fungsionalitas dan keindahan desain.

Berlanjut dalam pengecekan kondisi tangga, Penulis menemukan bahwa tempat bakal eskalator sendiri masih belum ada tanda-tanda pemasangan, dan keadaannya masih terendam air, meskipun memang dipasang pompa untuk mengeluarkan genangan air yang ada nantinya. Selain itu, jika lebar terowongan terlihat memadai untuk mengakomodasi jumlah penumpang, lebar tangganya terutama pada tangga jalur 1/2 yang terlihat sempit sedikit-banyak menimbulkan pertanyaan akankah dalam keadaan jam sibuk yang sesungguhnya kelancaran penumpang akan tetap terjaga. Selain itu, dengan belum adanya eskalator, terasa penyempitan tangga pada peron jalur 3/4 dan 5/6 masih mengganggu.
Tangga menuju peron jalur 3/4, tampak tempat bakal eskalator masih tergenang air.
Tangga menuju peron jalur 2 yang terlihat sempit dan pada malam Penulis berada di tempat, juga tidak bisa dikatakan bersih.
Dari wawancara Penulis dengan salah seorang penumpang yang menggunakan underpass ini, ia mengaku terbantu dengan keberadaan underpass ini karena tidak khawatir terhadang kereta untuk transit. Selain itu, ia berpendapat bahwa terowongan ini lebarnya cukup memadai untuk menampung jumlah penumpang yang menyeberang di Stasiun Manggarai. 

Pengamatan oleh Penulis diakhiri dengan menaiki tangga peron jalur 5/6 untuk kemudian menaiki KRL tujuan Bogor. Tampak ujung underpass yang dibuat sedikit lebih panjang dari belokan ke tangga, yang tujuannya saat ini kurang jelas, tapi tidak menutup kemungkinan adanya perpanjangan underpass hingga jalur 7 di masa mendatang, yang tentu saja segalanya berada di tangan pihak yang berwenang.
Ujung dari underpass pada peron jalur 5/6
Tangga akses underpass sendiri cukup ironis karena menggunakan bahan ubin yang ujungnya sendiri belum diberi lapisan antilicin sehingga tangganya masih terasa licin, menambah satu lagi catatan dalam pengoperasian awal underpass Stasiun Manggarai ini.
Akses underpass pada peron 5/6
Pada keesokan harinya (hari ini-REDaksi) underpass Stasiun Manggarai pun masih dioperasikan, meskipun keadaan operasional sampai berita ini diturunkan lancar, dengan kondisi proyek yang masih seperti demikian, dan dengan sosialisasi yang lebih baik dengan penumpang yang terhadang rangkaian kereta memang diminta untuk memanfaatkan underpass  yang ada.

Terlepas dari beragam opini yang timbul serta ketidaksempurnaan pada underpass yang masih sangat tampak, tetapi setidaknya proyek yang memang sudah molor banget ini membuahkan hasil dan bisa mulai dimanfaatkan sesuai tujuannya untuk meningkatkan keselamatan penumpang yang menyeberang di Stasiun Manggarai. Semoga operasional underpass ini cepat disempurnakan terutama dengan jadinya penambahan eskalator untuk memperlancar arus penumpang dan membuat berkurangnya lebar tangga tidak sia-sia, serta nantinya diperpanjang ke jalur 7 karena saat ini penumpang transit dari jalur 5/6 ke 7 masih harus menggunakan penyeberangan biasa yang sering terhadang KRL di jalur 6 mengingat tingginya frekuensi KRL lintas Bogor.

Railway Enthusiast Digest|Ikko Haidar Farozy

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment