testimoni

testimoni

[Opini Penulis] 2017, Kultur JR East Semakin Kuat di Tubuh PT. KCJ


Setiap memasuki awal tahun, beberapa orang memiliki resolusi tertentu untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Mungkin hal ini dilakukan pula oleh PT. KCJ selaku operator KRL Jabodetabek. PT. KCJ memang sudah bekerjasama dengan East Japan Railway Company (JR East) sejak 2015 dalam berbagai hal terkait pengelolaan transportasi KRL di Jabodetabek. Pegawai JR East pun ada yang ditempatkan di wilayah kerja PT. KCJ untuk memudahkan pelaksanaan program kerjasama ini. Tentunya kerjasama ini sedikit banyak menularkan pengaruh di tubuh PT. KCJ, sehingga di awal tahun 2017 ini berbagai aspek di PT. KCJ terlihat semakin ke-Jepang-Jepangan. Apa saja itu?

Keberadaan PPK
PPK di kabin belakang KRL | Foto: Tubagus Gemilang Pratama
Sebelum tahun 2015, kabin masinis belakang bisa dipastikan selalu kosong di setiap perjalanan. Masinis bertanggung jawab menjalankan kereta, tetapi juga bertanggung jawab dalam mengoperasikan pintu dan memberikan informasi seadanya. Pada zaman Divisi Jabotabek dan awal-awal KCJ berdiri masih ada tugas kondektur di dalam KRL, tetapi kondektur ini hanya menulis laporan dan memeriksa tiket. Tempat kondektur juga tidak diwajibkan berada di kabin belakang, sehingga kondektur lebih banyak berada di depan bersama masinis. Dianggap tidak efektif, kondektur ditiadakan dari layanan KRL Jabodetabek sekitar tahun 2012. Pada tahun 2015, PT. KCJ memperkenalkan Petugas Pelayanan KRL (PPK). PPK bertugas dari kabin belakang untuk membuka dan menutup pintu serta memberikan informasi kepada penumpang. Fungsi PPK ini sama dengan kondektur di Jepang, hanya saja PPK memiliki tugas lain yaitu menangani gangguan kecil pada KRL. Pada awal mula penerapannya, masih banyak PPK yang tidak mematuhi peraturan bertugas di kabin belakang. Namun di tahun 2017 ini, hampir tidak ada PPK yang bertugas di kabin depan.

Tunjuk Sebut
Tunjuk sebut dilakukan oleh masinis KRL | Foto: Detik.com
Sistem tunjuk sebut sebetulnya sudah diterapkan sejak zaman Divisi Jabotabek di awal 2000-an, akan tetapi sistem ini baru serius digalakkan pada akhir 2016. Sistem tunjuk sebut sendiri dalam sejarahnya memang berasal dari Jepang, pertama kali diperkenalkan di Jepang dan diresmikan sebagai peraturan wajib dalam operasional transportasi di Jepang pada tahun 1925. Tujuan dari tunjuk sebut adalah untuk meminimalkan kesalahan masinis saat bertugas. Saat ini, tunjuk sebut diwajibkan untuk seluruh masinis dan PPK (Petugas Pelayanan KRL) PT. KCJ. Meskipun dalam penerapannya masih ada pegawai operasional yang tidak melaksanakan tunjuk sebut, namun tunjuk sebut ini telah diajarkan secara resmi dalam pelatihan masinis dan pada tahun 2017 ini pengawasan pelaksanaannya semakin diperketat.

Atribut Masinis: Sarung Tangan dan Topi
Topi kini menjadi bagian dari seragam dinas masinis KRL | Foto: Kaszak
Di akhir tahun 2016, sarung tangan mulai diwajibkan penggunaannya bagi masinis KRL di Jabodetabek. Pemakaian sarung tangan ini sudah sejak lama diwajibkan dalam operasional transportasi di Jepang, termasuk kereta api. Memasuki tahun 2017, ada lagi pemandangan baru yang terlihat. Masinis KRL mulai mengenakan topi saat berdinas. Sebelum diterapkan oleh PT. KCJ, penggunaan topi dinas sudah diterapkan terlebih dahulu oleh PT. KAI untuk masinis lokomotif dan KRD. Bentuk topi dinas ini sama seperti yang dikenakan kondektur. Di Jepang, penggunaan topi dinas untuk masinis sudah diwajibkan sejak kereta api pertama kali hadir di negeri sakura itu. Namun seperti biasa, peraturan yang diterapkan belum dipatuhi secara maksimal oleh masinis di lingkungan PT. KCJ. Peningkatan pengawasan perlu dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan.

Penambahan Keramik Pemandu Tunanetra
Keramik pemandu tunanetra (jalur kuning) | Foto: Kompas.com
Kepedulian terhadap penyandang disabilitas khususnya tunanetra memang sudah sejak puluhan tahun yang lalu ditunjukkan di Jepang. Setiap bagian di lingkungan stasiun dipasangi keramik pemandu tunanetra. Keramik itu dipasang berjajar searah dengan jalur lalu lalang manusia, baik itu di pintu keluar-masuk, tangga, peron, dan sepanjang hall utama stasiun. Keramik ini memiliki tonjolan-tonjolan dengan bentuk yang berbeda-beda, yang dapat dipahami oleh penyandang tunanetra sebagai tanda untuk terus berjalan, berhenti, berbelok, dan sebagainya. Di tahun 2017 ini, semua stasiun yang melayani perjalanan KRL Jabodetabek sudah dipasangi keramik pemandu tunanetra. Tentu hal ini sangat membantu bagi penyandang tunanetra yang menggunakan transportasi publik khususnya KRL.

Dibukanya C-Corner
C-Corner, pusat suvenir resmi PT. KCJ | Foto: Bayu Tri Sulistyo
Di Jepang, kereta api bukan hanya sebagai moda transportasi, tetapi sudah menjadi kultur populer di tengah masyarakat. Tidak heran jika di Jepang sangat banyak orang yang menggemari kereta api, dan bisa dibilang bahwa Jepang adalah surganya para pecinta kereta api. Tidak hanya mereka yang mengakui dirinya sebagai pecinta kereta api, orang awam yang setiap harinya mengandalkan jasa kereta api pun sedikit sedikit memiliki ketertarikan terhadap kereta api. Hal ini dibuktikan dengan ramainya setiap event yang diselenggarakan oleh perusahaan operator kereta api, seperti event peresmian, last run, lelang suvenir, dan sebagainya. Tentu saja hal ini dilirik positif oleh perusahaan operator kereta api, karena dapat menyumbangkan keuntungan yang cukup besar bagi mereka. JR East misalnya, perusahaan rekanan KCJ ini mengelola museum kereta api di Omiya, dan di dalamnya terdapat toko suvenir. Museum ini tidak pernah sepi pengunjung, begitu pula dengan toko suvenirnya. Mungkin hal ini mulai disadari oleh PT. KCJ seiring dengan pesatnya pertumbuhan jumlah pecinta kereta api di Indonesia. C-Corner adalah toko suvenir KRL resmi dari PT. KCJ yang dibuka di stasiun Juanda pada akhir Januari 2017, bersamaan dengan peresmian kantor KCJ yang baru.


Rencana Penerapan Fare Adjustment
Mesin Fare Adjustment di Jepang | Foto: J-Journeys.com
Berbagai rencana yang tengah dipersiapkan oleh PT. KCJ juga terdengar "sangat Jepang". Salah satu yang sudah mencuat ke publik adalah akan diterapkannya sistem fare adjustment. Sistem ini sudah diterapkan di Jepang sejak puluhan tahun yang lalu. Konsep dari sistem ini adalah meniadakan ketentuan denda bagi penumpang yang membeli tiket lebih murah dari rute perjalanan yang akan ditempuhnya. Jadi, apabila penumpang kurang bayar tiket, ia tinggal bayar kekurangan biayanya saja di stasiun tujuan. Hal ini untuk mempercepat transaksi di loket atau mesin penjualan tiket, karena jaringan rute kereta api di Jepang sangatlah rumit dan membingungkan bagi penumpang untuk melihat daftar tarif yang harus dibayar. Maka dari itu dibuatlah suatu sistem sehingga penumpang dapat membeli tiket paling murah, kemudian masuk ke peron. Tujuan lain adalah untuk memberikan kesan "manusiawi" dalam pelayanan kereta api. Tentunya sistem ini akan disambut gembira oleh masyarakat pengguna KRL di Jabodetabek. Kita tunggu saja tanggal penerapannya.


Bagaimana sobat railfans, apakah sobat railfans juga merasakan pengaruh-pengaruh Jepang itu di tubuh PT. KCJ? Semoga dengan semakin kuatnya kultur JR East di tubuh PT. KCJ ini, dapat semakin meningkatkan pelayanan KRL kepada masyarakat. Tentunya sebagai pecinta kereta api, kita juga berharap kultur perkeretaapian juga dapat hadir di tengah masyarakat, seperti yang ada di Jepang.


RE Digest | Tubagus Gemilang Pratama

Isi dari opini penulis ini tidak mewakili pandangan resmi redaksi RE Digest.

About Tubagus Gemilang Pratama

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment