testimoni

testimoni

Warga Tolak Reaktivasi Jalur KA Semarang-Rembang-Bojonegoro

Tampak depan Stasiun Jatirogo yang berada di Jalur Bojonegoro-Jatirogo-Rembang-Semarang
Alonbiker

[12/2/17]. PT KAI bersama Kementerian Perhubungan saat ini tengah berusaha mere-aktivasi sejumlah jalur mati yang ada di Jawa dan Sumatera. Re-aktivasi ini dilakukan untuk mempermudah akses menuju tempat tersebut menggunakan kereta api, mempermudah arus barang dan penumpang, serta mengurangi kemacetan lalu lintas. Namun sayangnya, rencana aktivasi ini seringkali mendapat pertentangan dari sejumlah pihak. Termasuk warga yang mendiami lahan bekas jalur tersebut.

Seperti yang terjadi di Bojonegoro, Jawa Timur. Ratusan warga tiga kelurahan di Bojonegoro melakukan aksi protes di Pendopo Pemkab Bojonegoro pada Jumat (10/2) kemarin. Dilansir dari Okezone, ratusan warga tersebut berasal dari Kelurahan Ngrowo, Karangpancar, dan Banjarejo yang berada di Kecamatan Bojonegoro, serta Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur.

Warga yang datang dengan membawa spanduk penolakan reaktivasi jalur Bojonegoro-Rembang-Semarang
Okezone

Warga yang datang membawa spanduk berisikan penolakan terhadap rencana re-aktivasi Jalur Bojonegoro-Jatirogo-Rembang-Semarang. Warga keberatan dengan rencana re-aktivasi tersebut karena sudah puluhan tahun tinggal di lahan bekas jalur tersebut. Selain itu, warga yang tergabung dalam Pangguyuban Pewaris Bangsa ini juga membubuhkan tanda tangan pada petisi yang menolak rencana re-aktivasi ini.

Ketua Pangguyuban Pewaris Bangsa Bojonegoro Alham M Ubey menjelaskan bahwa lahan jalur itu sudah lebih dari 10 tahun mangkrak. Dia menjelaskan juga bahwa dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria atau UUPA mengatakan bahwa apabila tanah aset BUMN mangkrak lebih dari 10 tahun maka tanah tersebut statusnya kembali menjadi tanah milik negara. 

Kemudian dalam UU juga dijelaskan bahwa siapapun yang menempati lahan tidur selama 20 tahun berhak untuk mengajukan sertifikasi tanah. Hal tersebutlah yang diharapkan bisa direalisasikan oleh Pemkab Bojonegoro. Wakil Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro Anam Warsito mengatakan bahwa pihak Kemenhub saat ini tengah melakukan fisibility study yang nantinya akan dilanjutkan dengan penyusunan engineering design.

Jalur kereta api Rembang-Bojonegoro pertama kali dibuka tahun 1919 dan Jalur Semarang Tawang-Demak-Kudus-Rembang pertama kali dioperasikan pada tahun 1900. Keduanya dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Semarang-Joana Stoomtram Maatschapij. Jalur Rembang-Bojonegoro hanya bertahan selama 70 tahun dan ditutup pada 1989, sedangkan Jalur Semarang-Rembang berumur sedikit lebih panjang yakni 75 tahun namun ditutup lebih awal yakni pada 1975. Kedua jalur yang saling terhubung tersebut ditutup karena alasan yang sama yakni kalah bersaing dengan moda angkutan darat lainnya seperti mobil dan bis.



RE Digest | Bayu Tri Sulistyo 


About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment