testimoni

testimoni

Misteri Jalur Mati Duri - Pabrik Gas Ketapang

Di peta Batavia tahun 1928 yang secara tidak sengaja ditemukan oleh penulis di internet, terlihat sebuah jalur kereta api yang bercabang dari stasiun Duri menuju ke arah timur. Jalur itu berhenti di sebuah tempat tidak jauh dari jalan Gajah Mada saat ini. Penasaran dengan jalur yang misterius itu, penulis pun melakukan penelusuran informasi terkait jalur tersebut.
Peta Batavia 1928. Perhatikan jalur yang dilingkari.
Selidik punya selidik, ternyata jalur itu menuju ke pabrik gas milik NV Nederland Indie Gas Maatschappij yang berlokasi di sisi utara Gang Ketapang yang kini menjadi Jalan KH Zainul Arifin. Pabrik gas ini adalah yang pertama kali berdiri di Batavia (Jakarta), yaitu pada tahun 1859. Awalnya, pabrik ini dimiliki oleh perusahaan swasta LJ Enthoven & Co untuk menyediakan penerangan di Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara). Pada tahun 1864, pabrik diambil alih oleh perusahaan pemerintah Belanda, NV Nederland Indie Gas Maatschappij. Lokasi bekas pabrik gas ini sekarang menjadi komplek kantor Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Ketapang Business Center.
Komplek Kantor PGN, lokasi bekas pabrik gas NV Nederland Indie Gas Maatschappij pada masa lalu.
Dalam menjalankan fungsinya menyediakan gas kota, NV Nederland Indie Gas Maatschappij membutuhkan batubara sebagai bahan bakunya. Oleh sebab itu dibangunlah jalur kereta api menuju ke pabriknya di Gang Ketapang untuk kepentingan pengangkutan batubara. Meskipun hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer, jalur ini terbilang sangat penting kala itu. Jalur kereta api ini bercabang dari stasiun Duri ke arah selatan, belok ke timur melewati daerah yang sekarang menjadi Pasar Duri, kemudian menyusuri Jalan Duri Selatan dan lurus terus di samping Jalan KH Zainul Arifin hingga mencapai lokasi pabrik yang sekarang menjadi kantor PGN. Sampai awal 2000-an, masih terdapat jembatan kereta api yang melintas di atas kali Cideng. Bahkan tahun 2012, masih terlihat awal percabangan rel di selatan stasiun Duri. Meskipun demikian, tidak ada yang tahu pasti kapan jalur ini ditutup.
Gang yang sejajar dengan Jalan KH Zainul Arifin, dulunya adalah jalur kereta api (ditandai garis merah)
Gang yang sejajar dengan Jalan KH Zainul Arifin, dulunya adalah jalur kereta api (ditandai garis merah)
Jika dilihat baik-baik melalui Google Maps, terlihat bahwa Jalan Duri Selatan sendiri memang membentuk geometri tikungan seperti jalur kereta api. Hal ini dapat menjadi tanda kalau di sisi jalan itu dulunya terdapat rel kereta api, atau jalan itu sendiri dulunya adalah rel kereta api. Di sisi sebelah utara Jalan Duri Selatan itu sendiri terdapat lahan kosong berpasir yang sangat luas, seakan dulunya ada sesuatu yang terbentang di sana. Bergerak terus ke timur melalui perempatan pemadam kebakaran, terdapat gang berpasir yang berada tepat sejajar di sisi utara Jalan KH Zainul Arifin. Gang berpasir itu dibatasi kali kecil, dan semua bangunan resmi berada di belakangnya. Lebar gang tersebut sesuai dengan lebar area manfaat jalur kereta api. Di sebuah tempat di tepian gang itu, terdapat bantalan-bantalan kayu yang ditumpuk sebagai penguat tanggul kali. Berbagai keadaan tersebut adalah satu-satunya bukti dan petunjuk bahwa di sana dulunya terdapat jalur kereta api, karena sudah tidak ada lagi bekas rel yang tersisa. Sisa jalur yang masih utuh juga masih ada. Namun sayangnya terkubur di bawah peron 1 Stasiun Duri.

Susunan bantalan rel yang masih tersusun rapi terkubur di bawah peron 1 Stasiun Duri
picture by: Tamrin Yakhanu Tanjung


RE Digest | Tubagus Gemilang Pratama

Disarikan dari:
Semboyan35.com
Bandar Jakarta
Kompas.com

About Tubagus Gemilang Pratama

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment