testimoni

testimoni

Tanahnya Dipakai Jalur Kereta Api, Petani India Diberi Kereta

Youtube

[23/3]. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Perhubungan saat inui tengah melakukan pembangunan infrastruktur perkeretaapian besar-besaran di sejumlah wilayah. Pembangunan ini tentunya memerlukan lahan yang sangat panjang untuk membangun jalur. Biasanya pada pembebasan lahan untuk pembangunan jalur kereta api, si pemilik lahan sebelumnya akan diberikan kompensasi berupa uang senilai lahan tersebut atau relokasi jika memungkinkan.

Namun apa jadinya jika kompensasi yang diberikan bukanlah uang ataupun relokasi melainkan sebuah kereta? Inilah yang terjadi pada Sampuran Singh, seorang petani asal Ludhiana, India. Dilansir dari Tempo, Singh telah berjuang di pengadilan sejak 2015 melawan Indian Railway untuk bisa mendapatkan kereta atas lahannya yang dipakai untuk jalur kereta Ludhiana-Candhigar.

Stasiun Ludhiana Junction
Keyword Sugestion
Pihak pengadilan memenangkan Singh dalam tuntutan ini, namun Indian Railway menolak untuk membayar kompensasi tersebut. Singh pun akhirnya mengajukan banding pada Januari 2017 lalu dan kembali dimenangkan olehnya pada 17 Maret lalu. Pengadilan memberinya 1 unit kereta express sebagai pengganti kompensasi sebesar INR 10 juta atau setara dengan IDR 2 miliar.

Tak cukup sampai di situ, hakim juga memberikan hak atas kantor kepala stasiun di Ludhiana kepada Singh. Hakim juga menjelaskan apabila pihak Indian Railway tidak memberikan kompensasi maka Singh berhak untuk melelang kereta express tersebut. Seusai sidang, Singh dan pengacaranya pergi ke Ludhiana dan menunggu kereta datang untuk menyerahkan dokumen itu kepada masinis yang berdinas.

Indian Railway tentu tidak diam dengan keputusan ini. Kepala Divisi Utara Indian Railway Anuj Prakash mengatakan Kementerian Hukum India akan menyelidiki keputusan tersebut. Menurutnya keputusan tersebut tidaklah masuk akal mengingat apa yang akan dilakukan oleh Singh dengan kereta yang dimenangkannya itu.  


RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment