testimoni

testimoni

40 Tahun Lokomotif CC201, Kuda Beban Terpopuler di Indonesia

Lokomotif CC2019205 milik dipo Bandung di Stasiun Kroya
Bila anda tinggal di dekat rel kereta api, anda tentunya tidak mungkin tidak mengenal jenis lokomotif yang satu ini. Dengan jumlah yang banyak dan tersebar di dua pulau utama Indonesia di mana ada jalur kereta api, lokomotif ini merupakan salah satu jenis lokomotif yang cukup mudah dilihat dan ditemukan. Selain itu, lokomotif ini juga memiliki bentuk yang khas dengan bagian yang paling menonjol yaitu hidung nongnong-nya.

Itulah lokomotif CC201. Lokomotif buatan General Electric dengan kodefikasi pabrik U18C dengan tenaga keluaran 1950 gross horsepower ini merupakan lokomotif dengan jumlah aktif kedua terbanyak saat ini, yaitu 131 unit dengan alokasi yang tersebar di seluruh dipo induk di tiap Daop dan Divre. Bandingkan dengan adiknya yaitu lokomotif CC206, yang meskipun memiliki jumlah terbanyak yaitu 150 unit namun alokasinya tidak tersebar di seluruh Daop dan Divre.

Saat ini, lokomotif CC201 telah mencapai usia 40 tahun (dari penanggalan pada builder date, bukan dari tanggal mulai dinas) dan telah menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia, sejak diperkenalkan pada tahun 1977 silam. Umur lokomotif ini mungkin seumur dengan bapakmu, ibumu, pamanmu, atau bibimu. Meskipun umurnya sudah berkepala 4, namun karena dukungan suku cadang yang masih tetap ada karena mesin yang digunakannya masih diproduksi hingga saat ini, lokomotif CC201 masih tetap tangguh di segala medan, indak ado matinyo mereka bilang. Bahkan hingga hari ini belum ada satupun lokomotif CC201 yang dirucat bukan akibat kecelakaan, mengalahkan beberapa jenis lokomotif diesel hidrolik yang meski usianya lebih muda, tetapi karena keterbatasan suku cadang justru sudah mati duluan.

Sejarah lokomotif CC201

Generasi I, 1977-1978

Lokomotif CC2017717 milik dipo Cirebon menghela KA 135 Fajar Utama
PJKA yang membutuhkan lokomotif baru untuk memperkuat armada lokomotif diesel yang ada dan memensiunkan lokomotif-lokomotif uap yang sudah mulai uzur akhirnya memesan lokomotif ini ke General Electric. Lokomotif CC201 pun akhirnya dibuat pada bulan April-September 1977 sebanyak 38 unit, yang kemudian tiba di Indonesia sebanyak 28 unit pada tahun 1977 dan 10 unit pada tahun 1978, yang kemudian mengisi slot nomor 1-38. Lokomotif-lokomotif generasi pertama ini memiliki beberapa cerita, di antaranya cerita terhimpitnya lokomotif CC2017701 (GE serial no. 41433) saat berada di dalam kapal kargo yang mengangkut lokomotif-lokomotif ini dari Erie, Pennsylvania ke Jakarta. Lokomotif ini mulai beroperasi pada November 1977, disalip oleh CC20103 (kini CC2040301) dan CC20107 (CC2017705) yang justru debut duluan sebagai pembuka bagi debut CC201 lainnya.
Lokomotif CC2017702 milik dipo Sidotopo menghela KA Penataran dengan posisi ujung panjang. Dikarenakan rusaknya CC2017701 pada saat itu, CC2017702 debut lebih dahulu dari CC2017701. Sedangkan CC2017705 merupakan CC201 yang pertama kali melakoni debut di Indonesia.
Selain itu, generasi pertama juga merupakan satu-satunya generasi yang mengalami mid-life overhaul dan 7 unit di antaranya dimodifikasi menjadi lokomotif seri baru, yaitu CC204. Lokomotif generasi pertama ini memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan generasi-generasi setelahnya, yaitu grill radiator berukuran besar, tidak terdapatnya port multiple unit, dan juga kunci alat perangkat yang berada di bawah knuckle. Lokomotif-lokomotif ini kini mayoritas berada di bawah naungan dipo lokomotif Sidotopo dan Cirebon, meskipun ada beberapa unit di antaranya yang tersasar di dipo lokomotif Medan dan Bandung.

2 unit lokomotif CC201 generasi pertama, yaitu CC20133 dan CC20135 yang memulai karir tahun 1978, kini sudah tidak dapat dilihat lagi wujudnya dikarenakan mengalami kecelakaan hebat di antara Stasiun Notog dan Stasiun Kebasen, sekitar 30 tahun silam sehingga terpaksa dirucat habis.

Mid-Life Overhaul dan Modifikasi Menjadi CC204 Generasi Pertama

Lokomotif CC2040305 milik dipo Yogyakarta, dulunya CC20132
Di medio 2000an, muncul sebuah ide untuk merehab beberapa lokomotif CC201 buatan tahun 1977 dan 1978 menjadi sebuah kelas lokomotif baru, yaitu CC204. Rehabilitasi dan modifikasi yang akan dilakukan pada lokomotif ini meliputi penggantian komponen mesin menjadi dengan komponen yang lebih baru, dan pemasangan komputer GE BrightStar Sirius™ pada lokomotif. Komputer ini dapat mendeteksi gejala kerusakan pada lokomotif 45 menit sebelum kerusakan tersebut benar-benar terjadi.

Pada awalnya, terpilihlah 3 lokomotif buatan 1977 dan 1 lokomotif buatan 1978 yang masuk program CC204 pada tahun 2003, yaitu CC20103 (CC2040301), CC20111 (CC2040302), CC20116 (CC2040303), dan CC20137 (CC2040304). Setelahnya, keempat lokomotif ini dialokasikan di dipo lokomotif Bandung.
Lokomotif CC2040304 milik dipo Yogyakarta, dulunya CC20137
Untuk tahap kedua, dipilihlah 2 lokomotif buatan tahun 1977 dan 1 lokomotif buatan tahun 1978, yaitu CC20132 (CC2040305), CC20106 (CC2040306), dan CC20112 (CC2040307), yang juga setelahnya dialokasikan di dipo lokomotif Bandung. Beberapa tahun kemudian, lokomotif-lokomotif ini disebar ke Jatinegara (2), Yogyakarta (4), dan Sidotopo (1). Ketika lokomotif CC206 datang, muncul rumor bahwa ke-7 lokomotif ini akan dimutasi ke dipo Kertapati, Sumatera Selatan. Namun, rumor tersebut tidak terbukti dan kini ke-7 lokomotif ini menjadi penghuni dipo Yogyakarta. Meskipun demikian, dalam praktiknya lokomotif CC204 generasi pertama ini justru lebih sering didinaskan untuk menghela kereta penumpang bendera lintas Pantura tujuan Surabaya, seperti Gumarang dan Sembrani, ketimbang kereta-kereta yang bertujuan ke Yogyakarta.

Sedianya, akan ada tahap ketiga dari program CC204 ini. Namun karena beberapa hal, selain karena adanya CC204 generasi kedua sejak 2006, program ini kemudian diganti menjadi mid-life overhaul. Proses yang dilakukan hampir sama dengan menjadikan 7 lokomotif CC201 menjadi CC204, namun minus pemasangan komputer pada lokomotif. Lokomotif yang masuk program tersebut adalah CC2017701 (CC20101), CC2017710 (CC20114), CC2017713 (CC20118), dan CC2017721 (CC20126). Setelah menjalani mid-life overhaul, keempat lokomotif ini kemudian menyandang gelar "R" di belakang nomor utama.

Generasi II, 1983

Lokomotif CC2018313 milik dipo Purwokerto menghela KLB kirim rangkaian KRL bukan baru dari pelabuhan Tanjung Priok
Kemudian, PJKA memesan lagi lokomotif CC201 pada bulan Maret 1983 sebanyak 34 unit dan mengisi slot nomor 39-72, yang datang di tahun yang sama. Ke-34 lokomotif generasi kedua ini memiliki 2 buah perbedaan yang cukup mencolok dari generasi sebelumnya, yaitu ukuran grill radiator yang lebih kecil dan juga terdapat port multiple unit bawaan pabrik. Purwokerto merupakan pemilik terbanyak lokomotif CC201 generasi kedua dengan jumlah 15 unit, disusul Yogyakarta dengan jumlah 6 unit, dan sisanya tersebar di Semarang Poncol (4), Medan (3), Jatinegara (2), Sidotopo (2), Jember (1), dan Padang (1).
Lokomotif CC2018307 milik dipo Yogyakarta, sang bader

Salah satu lokomotif CC201 generasi kedua, yaitu CC2018307 (GE serial no. 44103), dikenal sebagai lokomotif bader yang konon dipenuhi cerita mistis karena seringnya terjadi kecelakaan kerja saat pembuatan lokomotif ini. Akhirnya, lokomotif ini dilakukan ruwat yang berarti upacara menolak bala. Ruwat ini dilakukan dengan adat kejawen di Balai Yasa Yogyakarta, dengan menyepuh bagian walkway lokomotif dan pemberian tapal kuda yang disimpan di dalam lokomotif. Ajaibnya, setelah ruwat ini lokomotif CC2018307 tidak pernah lagi berulah.

Generasi III, 1991-1992

Lokomotif CC2019215 milik dipo Jatinegara selesai menghela KLB kirim rangkaian KRL bukan baru
CC201 untuk terakhir kalinya dipesan pada akhir tahun 1991 sebanyak 20 unit dan mengisi slot nomor 91-110, dengan pembuatan lokomotif sebanyak 14 unit pada bulan Oktober-November 1991, dan 6 unit pada bulan Maret 1992, yang keseluruhannya mulai berdinas di Indonesia pada tahun 1992. Memiliki fitur yang sama dengan lokomotif CC201 generasi kedua, bentuk kabin lokomotif CC201 generasi ketiga sedikit berbeda dengan bentuk kaca kabin masinis yang lebih membulat dan keberadaan lampu kabut bawaan pabrik. Hampir separuh dari lokomotif CC201 generasi ketiga ditempatkan di dipo lokomotif Jatinegara. Bandung menjadi pemilik kedua terbanyak, dan sisanya disebar di Jember dan Medan.
Lokomotif CC2019213 milik dipo Jatinegara menghela kereta api lokal Purwakarta
Sebagian lokomotif CC201 generasi ketiga kini menggunakan kabin dengan bentuk kaca yang mengotak seperti pada lokomotif CC201 generasi-generasi sebelumnya, setelah menjalani perawatan akhir atau perbaikan setelah kecelakaan di Balai Yasa Yogyakarta. Namun, masih ada beberapa unit yang tetap mempertahankan bentuk kabin asli dari General Electric.
Lokomotif CC2019212 milik dipo Jatinegara saat masih berseragam merah setelah mutasi dari dipo Kertapati
1 unit lokomotif generasi ketiga yaitu CC2019208 kini sudah tidak lagi beroperasi akibat mengalami laka saat berdinas kereta api angkutan batubara di Sumatera Selatan, yang mengakibatkan mesinnya terbakar dan sasisnya bengkok, sehingga sulit untuk diperbaiki.

Dari ketiga generasi tersebut, jumlah total lokomotif CC201 yang dipesan oleh PJKA adalah 92 unit, di mana 82 di antaranya masih beroperasi, sedangkan 7 unit berubah menjadi CC204, dan 3 unit lainnya sudah afkir.

Lokomotif CC201 Modifikasi dari BB203

Lokomotif CC2018344 saat masih dimiliki dipo Kertapati (sekarang Medan) dan CC2018355 milik dipo Tanjungkarang, dulunya BB20319 dan BB20309
Pada kurun waktu yang hampir bersamaan, PJKA juga memesan lokomotif dengan bentuk yang sama persis namun dengan susunan gandar yang berbeda yaitu A1A-A1A (enam gandar dengan empat gandar penggerak dan dua gandar mati) dengan kodefikasi pabrik U18A1, yang kita kenal sebagai BB203. Meskipun memiliki embel-embel "18" pada kodefikasi pabriknya, namun kenyataannya lokomotif ini hanya bertenaga sekitar 1500 gross horsepower. Lokomotif BB203 dibuat sebanyak 59 unit, dengan rincian 11 unit dibuat pada bulan November-Desember 1977 dan tiba di Indonesia pada tahun 1978, dan 48 unit pada bulan Maret-Juni 1983 dan tiba pada tahun yang sama.
Lokomotif CC2018901 milik dipo lokomotif Tanah Abang, mantan lokomotif BB20343 yang berkedudukan di Sumatera Selatan dan produk modifikasi oleh Balai Yasa Lahat sebelum pindah ke Jakarta
Pada awalnya, lokomotif BB203 ditempatkan di dipo lokomotif di wilayah yang belum bisa dilalui oleh lokomotif CC201, seperti di Semarang, Tanjungkarang, dan Kertapati. Namun seiring peningkatan prasarana jalan rel, dan dengan "bakat" yang dimiliki lokomotif BB203 karena spesifikasinya yang tidak jauh berbeda dengan lokomotif CC201, akhirnya muncullah ide kreatif untuk mengupgrade lokomotif BB203 menjadi CC201, dengan menambahkan dua buah traksi motor dan mengatur keluaran tenaga lokomotif.

Ide kreatif ini justru pertama kali dicetuskan oleh Balai Yasa Lahat, Sumatera Selatan pada tahun 1988, karena pada saat itu sebagian besar jalur kereta api di wilayah Sumbagsel sudah mampu menahan tekanan gandar hingga 18 ton setelah PJKA Eksploitasi Sumbagsel mengenalkan kereta api batubara rangkaian panjang pada tahun 1986. Awalnya, sebanyak 17 lokomotif BB203 dimodifikasi menjadi CC201 oleh Balai Yasa Lahat dan mulai beroperasi sebagai CC201 pada tahun 1989, yang kemudian 10 unit di antaranya dipindahkan ke pulau Jawa.

Balai Yasa Yogyakarta pun pada akhirnya juga kebagian memodifikasi lokomotif BB203 milik Semarang Poncol menjadi CC201. Modifikasi lokomotif BB203 menjadi CC201 berakhir setelah mencapai jumlah 52 unit, sehingga menyisakan hanya 7 lokomotif BB203 yang masih asli di Kertapati, yang kemudian digunakan untuk menghela kereta penumpang maupun barang ke arah Lubuklinggau. Kini, hanya 5 unit saja lokomotif BB203 yang masih beroperasi, dan keseluruhannya berada di Medan.
Lokomotif CC2018908, dahulu BB20356, saat masih dimiliki oleh dipo Jatinegara (sekarang Madiun) menghela kereta api angkutan batubara
Ke-52 lokomotif modifikasi ini kemudian mengisi slot nomor 73-90 dan 111-144. Saat peraturan baru untuk penomoran sarana perkeretaapian terbit tahun 2011 yang lalu, ke-52 lokomotif ini dikelompokkan dengan tahun dinas 1989 (17), 1993 (2), 1999 (2), dan 2004 (7). Namun, sebagian besar lokomotif modifikasi ini justru mengenakan nomor dengan tahun dinas 1983, yaitu sebanyak 23 unit. Entah darimana ilham untuk menomori ke-23 lokomotif ini dengan tahun 1983. Memang sebagian besar BB203 memulai karirnya pada tahun 1983, yang bisa jadi merupakan dasar menomori lokomotif CC201 baru ini dengan tahun 1983. Namun beberapa unit di antaranya seperti CC2018353 justru berasal dari lokomotif BB203 generasi pertama yang dibuat akhir 1977. Selain itu, juga terjadi lompatan penomoran pada CC2019901R, CC2018347R, dan CC2019902R yang memiliki nomor awal CC201126R, CC201127R, dan CC201128R.
Tabel modifikasi lokomotif BB203 menjadi CC201
Dari 52 unit lokomotif modifikasi ini, terdapat 3 unit yang sudah tidak beroperasi, yaitu CC2018911 (BB20351), CC20185R (BB20359), dan CC201121R (BB20317). 49 unit yang masih aktif tersebar di Kertapati (15), Medan (9), Madiun (5), Padang (4), Tanjung Karang (4), Jember (4), Tanah Abang (3), Semarang Poncol (3), dan Sidotopo (2). Pulau Sumatera menjadi pemilik terbanyak lokomotif modifikasi ini, yaitu 32 unit. Pulau Jawa hanya memiliki 17 unit.
Lokomotif CC2018354 saat masih dimiliki dipo Tanjungkarang melangsir rangkaian KA S1 Sriwijaya di Tanjungkarang, Bandar Lampung, 2012
Salah satu lokomotif modifikasi, yaitu CC2018354 (CC201135R) yang dulunya adalah BB20307, cukup dikenal karena pernah mengalami kecelakaan hebat di Stasiun Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, dan juga karena sudah 2 kali berpindah-pindah antara Jawa-Sumatera. Memulai karirnya di Sumatera, lokomotif ini pindah ke Semarang Poncol pada tahun 2000an dan mengalami laka di Stasiun Gubug melawan KA Sembrani yang dihela lokomotif CC2030202 (CC20339) saat menghela KA Kertajaya tujuan Surabaya Pasar Turi tahun 2006.

Akibat dari kecelakaan tersebut, CC2018354 mengalami rusak parah dan akhirnya di-rebuild di Balai Yasa Yogyakarta. Lokomotif ini kemudian dikembalikan ke tanah Andalas bersama CC2018355 (CC201136R, eks BB20309) pada tahun 2008, dan lalu menjadi punggawa dipo lokomotif Tanjungkarang. Lokomotif ini kemudian kembali lagi ke Jawa di tahun 2012, dan setelahnya menjadi punggawa dipo lokomotif Sidotopo, seatap dengan lokomotif yang dulu pernah menghajarnya di Stasiun Gubug. Mulai April 2017, lokomotif ini menjadi penghuni dipo lokomotif Jember.
Lokomotif CC2018354 saat masih dimiliki dipo Sidotopo, menghela KA 113 Matarmaja di Semarang Poncol, 2013

Lokomotif Widecab

Lokomotif CC2018356 (ex BB20304) saat masih dimiliki dipo lokomotif Kertapati (sekarang Tanjungkarang) menghela KA S8 Rajabasa. Di latar belakang terlihat lokomotif CC2018349 (ex BB20313) saat masih dimiliki dipo lokomotif Tanjungkarang (sekarang Sidotopo)
Lokomotif CC2018348 (ex BB20312) milik dipo lokomotif Sidotopo setelah perawatan akhir Balai Yasa Yogyakarta tahun program 2014 menghela KLB kirim gerbong kurs angkutan balas
CC2018913 (ex BB20342) yang disebut RF Sumbagsel sebagai "Palak Kucing" menghela KA 3154 Angkutan BBM Lubuklinggau-Kertapati memasuki Stasiun Simpang | foto: Rahman Syawal Magrisa
Di antara 52 lokomotif BB203 yang menjadi CC201 ini, 6 unit di antaranya memiliki kabin berjenis widecab seperti pada lokomotif CC203 dan CC204 generasi kedua. 6 unit lokomotif ini bernomor CC2018913 (BB20342), CC2019301 (BB20332), CC2018342 (BB20341), CC2018348 (BB20312), CC2018349 (BB20313), dan CC2018356 (BB20304).

Ke-6 lokomotif ini merupakan lokomotif hasil modifikasi oleh Balai Yasa Lahat. Ke-6 lokomotif tersebut pernah mengalami kecelakaan yang berat, dan pada saat yang bersamaan sudah ada lokomotif CC203 dan Sumbagsel belum memiliki lokomotif tersebut (meskipun pada tahun 2001 akhirnya Sumbagsel memiliki lokomotif CC203 yang bukan milik KAI), sehingga pada saat proses rehabilitasi bentuk kabin ke-6 lokomotif ini dibuat seperti CC203, namun dengan hanya 1 meja layanan kecuali pada CC2018913 yang sudah mempuyai 2 meja layanan sejak pertama direhab. Pada tahun 2013, 2 lokomotif yaitu CC2018348, dan CC2018349 meja layanannya dilengkapi menjadi 2. Kini, ke-6 lokomotif tersebut tersebar di Kertapati (2), Tanjungkarang (2), dan Sidotopo (2).
Lokomotif CC2018348 setelah perawatan akhir Balai Yasa Yogyakarta tahun program 2016 menghela KA 161 Bogowonto | foto: Lukman Awaludin Mukti
Namun dari 6 lokomotif berkabin widecab ini, hanya 2 lokomotif yang memiliki bentuk kabin yang benar-benar mirip dengan lokomotif CC203 dan CC204 generasi kedua, yaitu lokomotif CC2018342 milik dipo lokomotif Tanjungkarang dan lokomotif CC2018348 milik dipo lokomotif Sidotopo. Bahkan, bentuk atap pada bagian radiator di lokomotif CC2018342 pun dibuat mirip dengan bentuk yang ada di lokomotif CC203.
Lokomotif CC2018342 milik dipo Tanjungkarang akan menggantikan tugas CC2018310 yang saat itu masih milik dipo Kertapati (sekarang Padang) untuk menghela KA Rajabasa I | Lokasi : Stasiun Baturaja
Sedangkan untuk CC2018348, bentuk atap pada bagian radiator lokomotif masih seperti bentuk radiator lokomotif BB203 dan CC201 pada umumnya. Namun, karena skema pewarnaan yang dikenakannya mengikuti standar pewarnaan yang diberlakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (livery next step) setelah berpindah tanah dari Sumatera ke Jawa, mengakibatkan lokomotif ini apabila dilihat dari jauh sangat mirip dengan lokomotif CC203. Perbedaannya sangat minim, dan apabila dari jauh dapat dikenali dari suara klaksonnya yang memiliki bunyi berbeda, karena klakson lokomotif ini masih menggunakan klakson Leslie bawaan dari Balai Yasa Lahat.

Kedinasan Lokomotif CC201

Dinasan Pulau Jawa

Lokomotif CC2019212 milik dipo Jatinegara menghela KA 184 Bengawan
Di pulau Jawa, lokomotif CC201 kini lebih sering ditugaskan untuk menghela kereta api penumpang kelas ekonomi baik lokal maupun jarak jauh, beberapa jenis KLB, langsiran, atau kereta api barang dengan tonase ringan seperti KLB balas, KLB rel, atau angkutan parcel. Terkadang, lokomotif ini masih didinaskan untuk menghela kereta penumpang kelas campuran, kereta penumpang kelas bisnis, dan sesekali kereta penumpang kelas eksekutif yang dukungan sarana bakunya menggunakan lokomotif selain CC206, bergantian dengan CC203 dan CC204 generasi pertama. Seringkali juga lokomotif CC201 hanya digunakan sebagai lokomotif posko atau cadangan.
Lokomotif CC2017803 milik dipo Yogyakarta menghela KA 135 Fajar Utama
Lokomotif CC201 di pulau Jawa ditempatkan di seluruh dipo lokomotif utama yang ada, sehingga kesempatan untuk bertemu lokomotif ini pun lebih besar dari lokomotif jenis lain, kecuali bila dibandingkan dengan lokomotif CC206 yang meskipun tidak ditempatkan di semua dipo namun memiliki ruang jelajah yang lebih luas dari CC201.

Memang semenjak kedatangan lokomotif CC206 ke pulau Jawa, pergerakan lokomotif CC201 di pulau Jawa seolah terasa lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Dinasannya yang semakin sedikit juga mengakibatkan lokomotif CC201 terkadang lebih sering berputar-putar di wilayah Daop tempat dipo induknya berada, atau bahkan tidak keluar sama sekali dari wilayah Daop tersebut. Misalnya lokomotif CC201 milik dipo Jember, yang lebih sering berputar-putar di sekitar Daop 9 Jember dan Daop 8 Surabaya sebelah timur.

Meski demikian, dalam kesempatan tertentu (yang menurut sebagian railway enthusiast merupakan momen emas) lokomotif CC201 milik dipo Jember pergi lebih jauh dari sekedar hanya ke Surabaya. Misalnya jika dikirim ke Balai Yasa Yogyakarta untuk semi perawatan akhir atau perawatan akhir. Salah satu lokomotif milik dipo Jember, yaitu CC2019201, malah beberapa kali didinaskan ke Jakarta menghela KA-KA kelas ekonomi, dengan frekuensi lebih banyak jika dibandingkan dengan rekan-rekannya di dipo Jember, meskipun masih terhitung jarang.
Lokomotif CC2019201 milik dipo Jember dengan KA Tawang Alun. Mantan punggawa dipo Bandung ini lebih sering nongol di Jakarta dibanding rekan-rekannya setelah berada di Jember.
Contoh lain adalah lokomotif CC201 milik dipo Tanah Abang. Dibanding dengan lokomotif CC201 milik dipo tetangganya, yaitu Jatinegara, lokomotif CC201 milik dipo Tanah Abang lebih sering terlihat di wilayah Jakarta dan Banten dibanding di wilayah lain. Hal ini dikarenakan dinasan utama lokomotif CC201 milik Tanah Abang adalah kereta api lokal barat.

Namun, dengan akan diubahnya relasi KA lokal barat menjadi Rangkasbitung-Merak yang dirumorkan akan menggunakan rangkaian KRD karena KRL Commuter Line barat akan diperpanjang ke Rangkasbitung, lokomotif CC201 milik Tanah Abang dinasannya akan berkurang menjadi lokomotif langsir, atau justru sesekali akan menghela kereta api jarak jauh yang stabling di Tanah Abang. Namun, sampai KRD tersebut benar-benar datang ke Rangkasbitung, lokomotif CC201 didinaskan untuk menghela KA lokal Rangkasbitung-Merak.
Lokomotif CC2018906 saat masih dimiliki oleh dipo Tanah Abang, berdinas langsir di dipo Jakarta Kota
Mulai tahun 2017, lokomotif CC201 generasi pertama yang memulai karirnya tahun 1977 akan dibatasi kedinasannya hanya sebagai penghela kereta api lokal, langsiran, atau sebagai lokomotif cadangan dikarenakan umur rangkanya sudah mencapai 40 tahun. Itu berarti, lokomotif-lokomotif CC201 milik dipo Cirebon dan sebagian besar lokomotif CC201 milik dipo Sidotopo akan lebih sering terlihat di wilayahnya sendiri dibandingkan di wilayah lain. Namun, lokomotif-lokomotif ini bisa saja didinaskan ke luar wilayahnya bila diperlukan.

Dinasan Pulau Sumatera

Traksi ganda lokomotif CC2019206 dan CC2017704 menghela KA U46 Sri Bilah di Limapuluh | foto: Hagi Hidayatullah
Di wilayah Divre I Sumatera Utara, lokomotif CC201 mulai tahun ini rencananya akan lebih banyak digunakan untuk kereta api angkutan barang, yaitu angkutan minyak sawit dan petikemas. Kereta penumpang akan menjadi jatah bagi lokomotif BB203, BB302, dan BB303. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa lokomotif CC201 akan tetap digunakan untuk kereta api penumpang seperti Sri Bilah dan Putri Deli apabila lokomotif yang lain mengalami gangguan atau tidak siap berdinas.

Di wilayah Divre II Sumatera Barat CC201 direncanakan akan digunakan untuk menghela KA Klinker Kayutanam. Kehadiran lokomotif CC201 yang merupakan lokomotif diesel bergandar C-C di wilayah Sumatera Barat untuk pertama kalinya setelah 64 tahun sejak lokomotif diesel bergandar C-C pertama kali hadir di Indonesia juga menjadi pembuka jalan untuk lokomotif bergandar C-C lainnya ditempatkan di Sumatera Barat.

Terakhir, di wilayah Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang, lokomotif CC201 diatur kedinasannya untuk menarik KA Penumpang sebagai berikut:
  • S1-S2 Limeks Sriwijaya  (Kertapati-Tanjungkarang pp) kelas bisnis-eksekutif
  • S3-S4 Sindang Marga (Kertapati-Lubuklinggau pp) kelas bisnis-eksekutif
  • S5-S6 Bukit Serelo (Kertapati-Lubuklinggau pp) kelas ekonomi PSO
  • S7-S8 Rajabasa (Kertapati-Tanjungkarang pp) kelas ekonomi PSO
CC2018341 milik dipo Kertapati menghela KA Rajabasa I memasuki Stasiun Martapura dan bersilang dengan KA Rajabasa II
CC201 yang digunakan untuk dinas KA di atas diutamakan menggunakan CC201 kepemilikan dipo Kertapati.

Untuk KA barang, dinasan lokomotif CC201 diatur sebagai berikut:
  • 3151-3152 Angkutan BBM Kertapati-Lahat pp
  • 3153-3154 Angkutan BBM Kertapati-Lubuklinggau pp
  • 3155-3156 Angkutan BBM Kertapati-Tigagajah pp
CC2019302 saat masih dimiliki oleh dipo Kertapati (sekarang dipo Medan) dan CC2018341 milik dipo Kertapati berdinas KA 3154 Angkutan BBM kosongan dari Lubuklinggau menuju Kertapati | Lokasi : Emplasemen Stasiun Payakabung
Namun, tidak menutup kemungkinan untuk ke depannya KA-KA penumpang dan barang tersebut akan menggunakan lokomotif CC204 generasi kedua, seperti yang terjadi pada KA barang angkutan semen dan klinker PT. Semen Baturaja relasi Tigagajah-Kertapati pp dan KA batubara Ninja Tanjungenim-Tigagajah pp yang mulai beberapa waktu yang lalu sudah menggunakan lokomotif CC204 batch II menggantikan peran CC201 selama ini. Sisa CC201 yang tidak mendapat jatah akan digunakan untuk langsiran baik di dipo Kertapati, area pabrik pulp PT Tanjung Enim Lestari, ataupun sebagai lokomotif cadangan.
CC2018356 dan rangkaian GB akan memutar rangkaian di ballon loop Stasiun Tanjungenim Baru setelah tebar balas di sekitar emplasemen Stasiun Tanjungenim Baru.
Khusus CC201 kepemilikan dipo Tanjungkarang dipergunakan untuk dinas KA lokal (Seminung dan Way Umpu) relasi Tanjungkarang-Kotabumi dengan formasi CC201+1 K2+1 K3+1 KMP3/MP2  dikarenakan sarana KRDI masih dalam perawatan dan perbaikan. Dalam pantauan, CC201 yang biasanya berdinas KA lokal antara CC2018351 dan CC2018355, walaupun tidak menutup kemungkinan kedua lokomotif tersebut digunakan untuk menghela kereta penumpang jarak jauh keberangkatan stasiun Tanjungkarang (Limeks Sriwijaya/Rajabasa). Selain itu juga didinaskan sebagai KA kerja pengangkut material (batu balas, rel dan wesel) pemberangkatan Stasiun Rejosari.
CC2018351 milik dipo Tanjungkarang berdinas KA Seminung II | Lokasi : Petak Kotabumi-Candimas (KM 95-96)
Sementara CC2018342 dan CC2018356 digunakan sebagai lokomotif langsir baik di area dipo lokomotif Tanjungkarang maupun dipo gerbong Rejosari sejak pemberlakuan aturan lokomotif berkabin tunggal yang memiliki jumlah meja layanan hanya satu tidak diizinkan dinas jarak jauh kecuali bila ditandem dengan posisi ujung pendek-ujung panjang (membentuk arah kabin seperti pada lokomotif berkabin ganda), seperti halnya lokomotif CC202 dan CC205.

Saat ini CC2018356 sedang menjalani Perawatan Akhir di BY Lahat bersama CC2018339 dan rencananya kedua lokomotif ini akan mendapatkan meja layanan cangkokan dari CC2018911 yang sudah afkir akibat PLH "adu kambing" saat menghela KA SCT dengan KA Babaranjang dengan lokomotif CC202 double traksi tahun 2012 lalu di petak Penimur-Niru, Muara Enim.

Data Teknis, Persebaran, dan Perbedaan Kosmetika Lokomotif CC201

Data Teknis Lokomotif CC201

Di bawah ini merupakan tabel data teknis lokomotif CC201.
Data teknis dari lokomotif CC 201 (Lokomotif & Kereta Rel Deisel di Indonesia Edisi 3)

Persebaran Lokomotif CC201

Lokomotif CC2010407 milik dipo Semarang Poncol menghela KA Lokal Purwakarta
Lokomotif CC201 kini tersebar di seluruh dipo lokomotif yang ada di Indonesia, menjadi lokomotif dengan persebaran paling merata di Indonesia, jika dibandingkan dengan sesama lokomotif diesel elektrik lainnya. Pada awal kedatangannya, lokomotif CC201 hanya ditempatkan di dipo Bandung. Namun seiring waktu, lokomotif ini kemudian menyebar ke seluruh wilayah pulau Jawa dan Sumatera.
Tabel alokasi lokomotif CC201

Perbedaan Kosmetika Antara CC201 Asli Jawa, CC201 Asli Sumbagsel, dan CC201 "Transmigran"

Seolah sudah menjadi tradisi, sejak dahulu setiap dipo lokomotif memang selalu memberikan penampilan atau kosmetik yang sedikit berbeda untuk kelas lokomotif yang sama, yang kemudian membedakan antara lokomotif milik dipo yang satu dengan dipo yang lain. Pun begitu untuk lokomotif CC201. Sejak masih berwarna hijau-kuning, lokomotif CC201 sudah memiliki ciri pembeda dari setiap dipo lokomotif, misalnya penggunaan bintang jenderal dan lis putih di cowcatcher pada lokomotif milik dipo Jatinegara.

Secara garis besar, lokomotif CC201 di Indonesia dapat dibedakan kosmetikanya dari lingkup wilayah asalnya, yaitu antara lokomotif CC201 asli pulau Jawa dan lokomotif CC201 asli pulau Sumatera bagian selatan. Mengapa demikian? Karena perbedaan yang paling mencolok memang dapat dilihat berdasarkan wilayah asalnya ini. Hal tersebut terjadi karena kebijakan yang berbeda dari 2 balai yasa, yaitu Balai Yasa Lahat dan Yogyakarta untuk lokomotif yang menjalani semi perawatan akhir atau perawatan akhir.

CC201 Asli Jawa, Atau Yang Berada di Jawa

Lokomotif CC2017806 saat masih dimiliki dipo Tanah Abang, dengan pewarnaan standar Balai Yasa Yogyakarta yang ditambahkan warna kuning pada dudukan dongkrak
Lokomotif CC201 yang berada di pulau Jawa, keseluruhannya menggunakan livery next step yang sesuai dengan standar dari PT KAI. Pola pewarnaan livery ini sendiri terdiri dari warna merah pada cowcatcher, warna abu-abu kehijauan pada underframe, atap, dan bogi lokomotif, warna putih sebagai warna utama pada lokomotif, serta strip jingga sederhana yang ditambahi pemanis warna biru pada bagian ujung panjang lokomotif. Tidak ada pemberian warna khusus pada bagian tertentu dari lokomotif, kecuali apabila kemudian pihak dipo induk lokomotif tersebut dengan kreativitasnya memberikan warna yang berbeda pada satu atau beberapa bagian tertentu.
Lokomotif CC2019217 menghela KA 78 Gumarang, dengan jendela berbahan polycarbonate solid sheet
Lokomotif CC201 yang berada di pulau Jawa sebagian besarnya pun sudah mengenakan bahan polycarbonate solid sheet untuk jendela-jendela lokomotif, supaya jendela tersebut tidak perlu dilindungi teralis dan tidak mengganggu pandangan masinis. Bahan ini merupakan kelompok polimer termoplastik yang mengandung gugus karbonat dalam struktur kimianya, dan umum digunakan dalam produksi kendaraan militer.

Untuk lokomotif yang masih mengenakan teralis, teralis ditempatkan di seluruh jendela yang ada di bagian depan, samping, maupun belakang lokomotif, dan bentuk teralis ini berbeda-beda sesuai dari dipo yang memasangnya. Selain itu, seluruh lokomotif CC201 asli Jawa dilengkapi dengan lampu kabut, dan pada umumnya menggunakan klakson tipe Wabco AA-2 yang dapat dikenal dengan bunyi 2 nadanya. Seluruh port multiple unit pada CC201 Jawa pun sudah "disunat" dikarenakan pertimbangan tidak pernah atau jarang digunakan.

CC201 Asli Sumbagsel. Atau Yang Berada di Sumbagsel

3 unit lokomotif CC201 di dipo Kertapati, dengan pola pewarnaan khas Balai Yasa Lahat. Terlihiat CC2018914 (didepan lokomotif CC206) yang sudah menggunakan kaca polycarbonate sehigga tidak mengunakan teralis kaca. | foto: Maulana Nur Achsani
Lokomotif CC201 yang berada di Sumatera bagian selatan, keseluruhannya menggunakan livery merah biru yang sudah digunakan sejak 1992, ketika PJKA berubah nama menjadi Perumka. Pertimbangan tetap digunakannya livery ini oleh Balai Yasa Lahat adalah karena livery ini sudah umum digunakan pada lokomotif CC201 di sana, selain itu juga apabila kotor tidak terlalu terlihat. Pola pewarnaan livery ini sendiri terdiri dari warna merah pada cowcatcher, warna hitam pada underframe, warna abu-abu pada atap, warna merah pada mayoritas badan lokomotif dan trapesium biru pada bagian ujung panjang serta strip putih yang mengelilingi lokomotif.

Lampu semboyan pada CC201 asli sumbagsel juga diberikan kawat teralis. Pada lokomotif CC2018913 yang memiliki lampu kabut tak luput diberi kawat teralis pada bagian lampu kabut tersebut selain di bagian lampu semboyan. Selain itu, terdapat penambahan eyehole yang merupakan besi berlubang untuk mengaitkan kawat sling dari crane ketika lokomotif akan diangkat pada bagian atap di ujung panjang lokomotif, dan pemberian warna kuning pada eyehole serta dudukan dongkrak di bagian underframe lokomotif. 
Lokomotif CC2018355 milik dipo Tanjungkarang menghela KLB batu balas di wilayah Divre 3 Palembang, dengan besi-besi berlubang berwarna kuning di sekitar atap yang disebut eyehole | foto: Maulana Nur Achsani
Lokomotif CC201 yang berada di Sumbagsel sebagian besar masih mengenakan teralis di bagian samping lokomotif, meskipun sebagian di antaranya juga memiliki teralis di bagian depan dan belakang lokomotif. Namu semenjak penggunaan kaca polycarbonate solid sheet yang mulai digunakan di Jawa meluas ke lokomotif sumbagsel, terutama pada CC201, jadi tidak perlu menggunakan kawat teralis pada kaca lokomotif. Lokomotif CC201 sumbagsel yang sudah memakai kaca polycarbonate solid sheet adalah: CC2018336, CC2018337, CC2018352, CC2018914, CC2018915 dan CC2010402. Lokomotif CC2018339, CC2018356 dan CC2018912 menyusul menggunakan kaca polycarbonate setelah Semi/Perawatan Akhir lokomotif tersebut selesai dikerjakan di Balai Yasa Lahat.

Lokomotif CC201 yang aslinya memang dari Sumbagsel juga menggunakan klakson Leslie S3L yang digunakan pada lokomotif CC202. Klakson ini bukan merupakan bawaan pabrik, melainkan diganti di Balai Yasa Lahat pada saat semi perawatan akhir atau perawatan akhir. Namun, beberapa lokomotif asli Sumbagsel seperti CC2019301 masih menggunakan klakson Wabco AA-2. Lokomotif CC201 asli Sumbagsel juga memiliki port multiple unit, meskipun unit-unit modifikasi dari BB203 generasi pertama aslinya tidak memiliki port multiple unit.

CC201 Transmigran

Lokomotif CC201 transmigran adalah lokomotif yang berpindah dari Jawa ke Sumbagsel, Jawa ke Sumatera Utara, Sumbagsel ke Jawa, Sumbagsel ke Sumatera Utara, atau Sumbagsel ke Sumatera Barat. Lokomotif ini mayoritas masih membawa ciri-ciri yang diperoleh dari wilayah asalnya, yang kemudian disesuaikan atau ditambahkan oleh balai yasa di wilayah barunya.
Lokomotif CC2018353 milik dipo Sidotopo, dengan eyehole dan klakson bawaan Lahat
Seperti misalnya 6 lokomotif CC201 mutasi Sumbagsel ke Jawa tahun 2012, yaitu CC2019211, CC2019212, CC2018348, CC2018349, CC2018353, dan CC2018354. Awalnya, 6 lokomotif ini memiliki ciri seperti lokomotif Sumbagsel pada umumnya, seperti pola pewarnaan dan klakson yang masih bawaan dari Balai Yasa Lahat. Seiring waktu berjalan, kemudian 6 lokomotif ini disesuaikan dengan standar Jawa oleh Balai Yasa Yogyakarta, dengan pola pewarnaan baru dan penyunatan port multiple unit lokomotif. Bahkan 2 lokomotif, yaitu CC2018349 dan CC2018354 klaksonnya diganti dari Leslie S3L menjadi Wabco AA-2.

Eyehole pada 6 lokomotif ini, bila ada, juga masih terpasang di sekitar atap lokomotif. CC2019211 dan CC2019212 yang asli Jawa, pada saat dimutasi ke Kertapati pun disesuaikan dengan standar Balai Yasa Lahat, bahkan klaksonnya pun diganti dari Wabco AA-2 menjadi Leslie S3L. Klakson itu masih terpasang ketika lokomotif itu pulang ke Jawa pada tahun 2012 sampai sekarang.
Lokomotif CC2010401 milik dipo Medan saat masih dimiliki dipo Kertapati, masih menggunakan tralis bawaan dipo Semarang Poncol dan klakson Wabco AA2 | foto: Maulana Nur Achsani
Berkebalikan dengan 6 lokomotif tadi, 4 lokomotif mutasian Jawa ke Sumbagsel tahun 2008 dan 2014 yaitu CC2018310, CC2010401, CC2010402, dan CC2010403 distandarkan dengan standar Balai Yasa Lahat. CC2018310 merupakan lokomotif yang paling sesuai standar Lahat, karena memiliki eyehole dan port multiple unit namun klaksonnya tetap bawaan pada saat sebelum pindah ke Sumatera. 3 lokomotif lainnya hanya berubah pola pewarnaannya saja. Namun, dua dari empat lokomotif ini nantinya akan menjadi penghuni dipo Padang dan Medan, sehingga bisa saja ada perubahan lagi.
Lokomotif CC2018904 milik dipo Medan yang telah menjalani perawatan akhir dan dicat ulang di Balai Yasa Pulubrayan (perhatikan beberapa perbedaan yang cukup jelas dibanding dengan finishing cat Balai Yasa Yogyakarta) menghela KLB petikemas | foto: Hagi Hidayatullah
Sedangkan lokomotif yang dimutasi ke Sumatera Utara dari Jawa, hampir tidak ada perubahan karena standar Balai Yasa Pulubrayan hampir sama dengan Balai Yasa Yogyakarta. Hanya saja, diketahui salah satu lokomotif CC201 yaitu CC2018312 klaksonnya diganti menggunakan klakson terompet seperti pada lokomotif BB302 dan BB303 yang ada di sana.

Future?

Lokomotif CC2017722 milik dipo Cirebon menghela KA 192 Kutojaya Utara
Tentu saja tidak ada barang yang bisa hidup selamanya, dan lokomotif CC201 bukanlah pengecualian. Teknologinya sudah menua, bahkan lokomotif generasi awal tahun 1977 sudah sebagian besar dibatasi kedinasannya hanya untuk wilayah yang tidak jauh dari dipo induknya. Program untuk rebuild dengan teknologi yang lebih modern pun tampaknya sudah tidak ekonomis dilakukan.

Akan tetapi, dengan menyebarnya kelompok lokomotif ini dari tahun 1977 hingga yang benar-benar muda yaitu tahun 1992, belum lagi yang hasil rebuild dari BB203 dengan tahun termudanya 2004, serta mesin yang digunakan masih terus diproduksi karena jenisnya sama dengan mesin pada lokomotif CC203, CC204, dan CC206, maka sangat mungkin untuk setidaknya 10 tahun ke depan, kita masih akan bisa melihat lokomotif ini di lintas.

Dan tentu saja, mengingat jenis lokomotif ini adalah sebuah tonggak sejarah perkeretaapian Indonesia, tentu saja kita berharap akan ada salah satu lokomotif jenis ini yang dalam keadaan bisa berjalan ditarik dari dinas untuk menjadi koleksi hidup di Ambarawa, atau bahkan di jalur utama, dengan mengembalikan livery-nya menjadi livery jaman PJKA untuk mengenang ketika lokomotif ini masih gres di Tanah Air.

Sumber:
  • Wikipedia 1 | 2 | 3
  • Indonesian Railway Database
  • Majalah KA edisi "30 Tahun Lokomotif CC201", 2007
  • Buku "Lokomotif Kereta Rel Diesel di Indonesia Edisi 3" karya Ir. Hartono AS, MM, 2011
  • The Diesel Shop
  • Dan berbagai sumber lain

Tim REDaksi | MPSCLFJRN | Ahmad Afif Mahdi | Ikko Haidar Farozy | Nowplay

About Gerakan Muda Penggemar Kereta Api

Selamat datang di official Google+ dari komunitas Gerakan Muda Penggemar Kereta Api. Mari bersama kita bangun kereta api Indonesia yang lebih baik!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Mohon izin untuk sedikit menyadur tulisan ini ke dalam web IRPS. Akan kami sebutkan sumber nya dari sini. Terimakasih :)

    ReplyDelete