testimoni

testimoni

Ada Cicak Dalam Makanan, Indian Railway Putus Kontrak Dengan Catering

India.com

[9/8]. Pernah makan makanan yang dijual di kereta api dan rasanya kurang enak? Ya tentu itu terasa sangat menyebalkan. Rasa yang kurang enak, porsi sedikit, dan harga yang tidak masuk akal seringkali menjadi keluhan bagi para penumpang. Terlebih jika kereta tersebut adalah kereta api kelas eksekutif.

Namun sepertinya kita mesti sedikit bersyukur dengan layanan restorasi kereta api Indonesia dan segala permasalahannya, karena masalahnya tidak lebih buruk dari yang ada di India. Pada 26 Juli lalu Kementerian Perkeretaapian India memutus kontrak salah satu layanan restorasi atau katering di kereta api setelah ditemukannya cicak dalam makanan yang disajikannya.

Dilansir dari Economic Times, peristiwa ini diketahui setelah salah seorang penumpang kereta dengan rute Delhi-Howrah memesan sayur biryani lewat katering tersebut. Penumpang tersebut tidak menyadari kalau ada seekor cicak yang tak sengaja masuk ke dalam makanan yang ia pesan. Saat hendak makan, penumpang tersebut menemukan cicak dalam makanan dan tidak jadi memakannya.

Seorang pengguna Twitter bernama Meghna Sinha kemudian memotret makanan tersebut dan mengunggah foto tersebut ke akunnya. Tak hanya mengunggah, dirinya juga me-mention akun Twitter resmi Indian Railway dan Menteri Perkeretaapian India Suresh Prabu. Sontak kecaman pun datang dari masyarakat.

Juru Bicara Kementerian Perkeretaapian India AK Saxena mengatakan pihak kementerian seketika langsung memutus kontrak dengan perusahaan katering tersebut karena dinilai tidak dapat menjaga kualitas dan higienitas makanan yang disajikannya. Tak hanya katering tersebut, Saxena juga mengatakan pihak kementerian telah mendaftarhitamkan 16 perusahaan katering karena masalah yang sama. Peristiwa ini terjadi sehari setelah Kepala Pengawas dan Auditor menampar Indian Railway dengan mengatakan makanan yang disajikannya tidak pantas untuk disajikan kepada manusia.


RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

   

About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment