testimoni

testimoni

[Cerita Penulis] Nikmatnya Sensasi Kereta Api Lokal Jakarta-Cicalengka

KA 396 Lokal Cibatuan persiapan berangkat dari Stasiun Padalarang, dengan KA 358 Lokal Bandung Raya menunggu jadwal

Bepergian dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan Kereta Api mungkin sudah merupakan hal yang sangat lumrah. Tersedia berbagai perjalanan KA Argo Parahyangan dari Stasiun Gambir ditambah dengan dua perjalanan KA Serayu dari Stasiun Pasar Senen menuju Bandung...

...Akan tetapi bagaimana jika Anda benar-benar sangat kepepet harus ke Bandung dan sekitarnya dari Jakarta tapi tidak punya duit, atau memang ingin sangat ngirit, atau hanya bosan dengan pilihan yang sudah ada dan ingin menggunakan cara yang tidak mainstream? Tenang saja, tersedia pilihan demikain yaitu menggunakan Kereta Api Lokal!

Penulis sebagai salah satu orang yang bosan dengan pilihan yang sudah ada pun tentu tidak mau melewatkan kesempatan ini, terlebih Penulis telah merencanakan ini sejak zaman GAPEKA 2015 dulu ketika Lokal Purwakarta dan Lokal Cibatuan masih bisa bersambung, tetapi gagal karena terjadi perubahan GAPEKA yang membuat kedua kereta tersebut jadwalnya tidak memungkinkan untuk bersambung sampai tiba revisi GAPEKA 2017 yang memungkinkan hal ini terulang. 

Tidak hanya sampai Bandung, perjalanan Penulis kali ini juga dilanjutkan sampai Cicalengka. Penasaran dengan bagaimana sensasi berkereta api lokal dari Jakarta hingga Cicalengka, lalu kemudian kembali ke Jakarta? Simaklah terus cerita penulis kali ini, hanya di RE-Digest!

Etape 1: Tanjung Priok - Purwakarta 
Rangkaian KA 326A Walahar Ekspres yang Penulis dan rekan tumpangi berjalan langsung Stasiun Jatinegara | Foto: Saddam "Husein"
Penulis beserta rekan memulai perjalanan ini dengan menggunakan KA 326A Walahar Ekspres dari Tanjung Priok menuju Purwakarta yang berangkat pada pukul 11.00, dengan harga tiket 6.000 Rupiah flat (Jauh-Dekat). Sebelumnya, Penulis dan rekan terlebih dahulu bertemu di Stasiun Cawang untuk selanjutnya melanjutkan ke Stasiun Tanjung Priok dengan menggunakan bus Transjakarta. 

Kereta yang Penulis dan rekan naiki di etape pertama ini adalah KP3 0 66 07, yang menyimpan cerita tersendiri dikarenakan KP3 ini pernah bermasalah ketika Penulis dan rekan-rekan termasuk beberapa railfans dari Jepang pada 27 Agustus 2016 lalu mengalami mati mesin ketika melintas Stasiun Kranji sampai berangkat dari Stasiun Pasar Senen ketika kembali dari Stasiun Purwakarta, yang menciptakan kekonyolan tersendiri.
KP3 0 66 07 milik Dipo Jakarta Kota
Di perjalanan, antara Jatinegara-Cakung rangkaian KA Walahar Ekspres yang dinaiki ini berjalan dengan sangat terseok, hanya 45 km/jam mengikuti aspek kuning dikarenakan adanya KRL di depan yang menghalangi laju sampai akhirnya disusul di Stasiun Cakung, di mana setelah itu KA Walahar Ekspres yang dinaiki langsung terbebas dari halangan...

...Atau tidak! Setelah melaju dengan sentosa antara Kranji-Tambun di mana KA ini berhenti normal, KA Lokal yang dinaiki ini pertama kali berhenti untuk disusul di Cikarang oleh Argo Parahyangan, yang kemudian memulai rantai persusulan panjang yang bertubi-tubi. Di Lemahabang KA lokal ini disusul kembali oleh KA Jaka Tingkir, lalu selanjutnya di Karawang oleh KA Cirebon Ekspres, dan terakhir Kosambi oleh KA Krakatau Singosari dan KA Argo Parahyangan lagi. Beruntunglah setelah berpisah dari jalur Pantura di Cikampek, tidak ada lagi acara persusulan.

Di sepanjang perjalanan, terdapat pemandangan yang cukup tipikal di lintas Bekasi-Cikampek yaitu persawahan sebagai pengingat bahwa daerah ini dulunya adalah lumbung padi nasional sebelum terjadi industrialisasi. Dan tentu saja, pemandangan yang menarik bagi para railfans yaitu proyek Stasiun Cikarang dan kuburan kokomotif diesel hidrolik di Cikampek.
Suatu pengingat bahwa Cikarang dulu adalah lumbung padi nasional
Progres pembangunan Stasiun KRL Cikarang
Kuburan lokomotif diesel hidrolik di Cikampek
KA 326A yang dinaiki Penulis dan rekan pun akhirnya tiba pada pukul 14.45 WIB, terlambat 60 menit dari seharusnya pukul 13.45 dikarenakan banyaknya persusulan dan pekerjaan jalur di lintas Cikarang-Cikampek. Pemandangan di Purwakarta sudah cukup familiar dengan tumpukan KRL Ekonomi yang masih saja di situ, meskipun perbedaannya, sisa KRL Tokyo Metro 5000 dan Toyo Rapid 1000 telah digeser berada di rel yang ada di belakang tumpukan sehingga tidak lagi terlihat dari peron.

Etape 2: Purwakarta-Padalarang
Stasiun Purwakarta
Setiba di Purwakarta, Penulis dan rekan Penulis kemudian memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Tempat makan yang Penulis rekomendasikan adalah warung mie ayam yang terletak sekitar 200 meter dari pintu keluar Stasiun Purwakarta. Tinggal belok kiri dari pintu keluar stasiun dan lurus hingga melewati sebuah musala kecil, warung mie ayam tersebut berada tidak jauh di setelah musala dari arah stasiun. Harganya pun murah, hanya 8.000 Rupiah satu porsi, lumayan bisa mengisi perut untuk menghadapi etape selanjutnya.

Ketika sedang makan, ternyata rangkaian KA Lokal Cibatu masuk Stasiun Purwakarta, sehingga Penulis dan rekan pun segera menyelesaikan makan untuk ke Stasiun Purwakarta untuk segera membeli tiket dan menaiki rangkaian. KA 396 Lokal Cibatuan Purwakarta-Cibatu berangkat dari Purwakarta pukul 15.45 dan mempunyai harga tiket 8.000 Rupiah flat, yang menimbang jarak tempuhnya yang jauh sangat murah meski memang waktunya lumayan karena Purwakarta-Padalarang saja waktu tempuhnya mencapai 2 jam.
Sebuah pemandangan yang tidak pernah membosankan: Tumpukan KRL Ekonomi di Purwakarta yang makin hari makin memprihatinkan
Usut punya usut, ternyata Lokal Cibatu kali ini menggunakan KMP2 yaitu KMP2 0 65 02 sebagai pembangkit! Tentu saja Penulis dan rekan Penulis tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menikmati rasanya duduk di KMP yang saat ini sudah sangat sulit dilakukan kecuali KMP tersebut tergandeng di armada KA Lokal karena kursi di KMP sudah tidak dijual untuk penumpang. Terpantau di KMP2 penumpang biasa hanyalah Penulis dan rekan, dengan sisa penumpang lainnya adalah karyawan KAI yang ikut naik KA 396.

Menaiki KMP2 di lintas ini dengan CC 203 posisi long hood pun membawa nostalgia tersendiri karena suasananya menjadi seperti menaiki KA Parahyangan di masa lalu ketika masih beroperasi.
Bagian kursi penumpang. KMP2 umumnya memuat 26 penumpang
Bagian meja makan
Sepanjang perjalanan, KA 396 Lokal Cibatuan hanya mengalami persilangan dengan satu KA yaitu KA 27 Argo Parahyangan di Stasiun Rendeh. Selebihnya pertemuan antara KA 396 dengan KA lain selalu terjadi di petak jalur ganda. Tentu saja yang tidak untuk dilupakan adalah pemandangan antara Purwakarta-Padalarang yang sangat apik dengan pemandangan lembah, persawahan, dan sungai yang dapat ditemui, terutama di petak Sasaksaat-Padalarang, Plered-Cikagondong, dan tentu saja dari atas Jembatan Cisomang. Serta tidak untuk dilupakan adalah sensasi melewati terowongan Sasaksaat di antara Stasiun Maswati-Sasaksaat
Indahnya pemandangan dari atas Jembatan Cisomang
Keindahan Petak Cilame-Padalarang dengan jembatan KA yang baru saja dilewati di kejauhan
Jembatan Tol Cipularang dengan sebuah bus Primajasa sedang melaju
Rangkaian KA 396 di Stasiun Rendeh sedang tunggu bersilang dengan KA 27 Argo Parahyangan | Foto: Senna Hananto
Video proses persilangan KA 396 Lokal Cibatu dengan KA 27 Argo Parahyangan di Stasiun Rendeh

Setelah menempuh 2 jam perjalanan, meski dengan adanya pembatasan kecepatan antara Purwakarta-Ciganea dikarenakan adanya proyek, tetapi KA Lokal Cibatuan tetap tiba tepat waktu di Stasiun Padalarang pada pukul 17.44, dengan rangkaian KA Lokal Bandung Raya keberangkatan pukul 18.00 telah menunggu.

Jika pembaca memang mempunyai tujuan akhir Bandung, sebenarnya bisa untuk membeli tiket KA Lokal Cibatuan hingga sampai Bandung tanpa perlu menggunakan Lokal Bandung Raya, akan tetapi karena Penulis penasaran untuk merasakan bagaimana berkereta api lokal menuju Stasiun Cicalengka dengan menggunakan KA Lokal Bandung Raya dari Padalarang, maka Penulis dan rekan memutuskan untuk turun di Padalarang dan menggunakan KA Lokal Bandung Raya dari situ.

Untuk perjalanan sampai Bandung hanya dengan menggunakan KA 326A Walahar + KA 396 Lokal Cibatuan, biaya yang diperlukan hanyalah 14.000 untuk transportasi (6.000 untuk KA Walahar + 8.000 untuk KA Cibatuan), dengan biaya makan bisa diatur agar dibuat nol jika membawa bekal dari rumah atau malah kebetulan berpuasa.

Meski demikian, biaya perjalanan yang sangat murah memang membawa konsekuensi tersendiri yaitu waktu tempuhnya yang cukup lama. Dengan asumsi semua kereta tepat waktu, total waktu perjalanan termasuk dengan waktu menunggu di Purwakarta adalah 7 jam 11 menit hingga Stasiun Bandung.

Etape 3A: Padalarang-Cicalengka
Stasiun Padalarang
Perjalanan menuju Cicalengka kemudian dilanjutkan dengan menggunakan KA Lokal Bandung keberangkatan 18.40 yaitu KA 376, setelah terlebih dahulu kembali makan di sebuah warung sate di seberang Stasiun Padalarang. KA Lokal Bandung Raya, yang salah satunya adalah KA 376 mempunyai dua tarif yaitu 4.000 Rupiah untuk Padalarang-Bandung dan 5.000 Rupiah untuk Padalarang-Cicalengka (Berlaku sebaliknya), dengan jumlah perjalanan satu hari sebanyak 20 kali.

Kereta yang dinaiki Penulis dan rekan pada etape ketiga adalah K3 0 65 41 yang ironisnya adalah rangkaian eks Lokal Rangkasbitung yang mempunyai keistimewaan tidak ada toilet di kedua ujung kereta, sehingga pada barisan kursi paling ujung mempunyai ruang kaki yang amat luas, akan tetapi kursi di dekat sambungan menjadi tanpa jendela.
Ruang kaki yang sangat luas di ujung K3 0 65 41
Meski memang Penulis sedikit kecewa karena rangkaian K3 eks KRD yang sebenarnya Penulis incar sebagian besar sudah tidak berdinas lagi, tetapi Penulis justru menjadi terbawa nostalgia menaiki KA Lokal Rangkasbitung yang telah dihapuskan sejak 1 April lalu dengan sebagian dari keretanya telah dimutasi dari Dipo Rangkasbitung ke Bandung. Tidak hanya itu saja, ACnya yang bisa dibilang bala karena nyaris tidak terasa menambah efek nostalgia Lokal Rangkasbitung, yang untungnya sedikit tertolong dengan sejuknya suhu udara Bandung pada malam hari - lebih sejuk dari suhu AC kereta malahan.

Perjalanan KA 376 Lokal Bandung Raya Padalarang-Cicalengka ini memakan waktu hampir 2 jam dengan berhenti cukup lama di Kiaracondong dan Cimekar karena harus disusul KA Turangga dan bersilang dengan KA 359 Lokal Cicalengka-Purwakarta.

KA 50 Turangga menyusul KA 376 Lokal Bandung Raya

Meski pemandangan di wilayah timur Kota Bandung selepas Gedebage kebanyakan adalah persawahan, tetapi dikarenakan waktu sudah malam hari maka pemandangan ini tidak terlihat, sehingga tidak terlalu banyak yang bisa dipotret.

KA 376 tiba di Stasiun Cicalengka tepat pada pukul 20.37, yang langsung disambut dengan rangkaian KA 385 yang sedang bersiap untuk berangkat kembali menuju Stasiun Padalarang.
Rangkaian KA 376 (kiri) yang baru tiba dan KA 385 (kanan) yang siap berangkat di Cicalengka
Etape 3B: Cicalengka-Kiaracondong
Stasiun Cicalengka
Setibanya di Cicalengka, Penulis dan rekan Penulis kemudian kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kiaracondong dengan menggunakan KA 377 Lokal Bandung Raya dengan jam berangkat 21.40 untuk melanjutkan perjalanan dengan KA Serayu untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya ada rangkaian KA 385 yang berangkat pada pukul 20.45, tetapi menimbang kantong waktu yang cukup pada pemberangkatan berikutnya dan agar bisa melihat-lihat sebentar di Cicalengka, maka Penulis dan rekan memutuskan untuk menggunakan rangkaian KA 377. 

Sebenarnya Penulis dan rekan bisa saja hanya sampai Bandung untuk kemudian menunggu rangkaian KA 359 Lokal Cicalengka-Purwakarta dan kemudian bersambung menggunakan KA Walahar Ekspres pertama menuju Pasar Senen, yang merupakan opsi termurah karena hanya butuh menambah 14.000 Rupiah, tetapi atas dasar efisiensi waktu karena di Purwakarta harus menginap 4 jam untuk menunggu KA Walahar Ekspres maka akhirnya diputuskan untuk pulang dengan KA Serayu.

Setelah Penulis dan rekan membeli tiket untuk KA 377, Penulis dan rekan kemudian menaiki rangkaian kereta. Karena rangkaian yang digunakan adalah sama persis dengan rangkaian KA 376, maka diputuskan untuk menaiki kereta yang berbeda dengan sebelumnya.

Setelah berjalan dari ujung rangkaian ke ujung lainnya dan menemukan ternyata AC di semua kereta bala termasuk kereta yang asli Bandung, akhirnya diputuskan untuk duduk di K3 0 65 56 yang kali ini ada di belakang lokomotif,. Surprise, Ternyata ada suatu artefak yang masih tersisa di kereta ini yaitu peta rute layanan KA lintas Kulon (Merak/Rangkasbitung-Angke/Tanah Abang)! Sontak perasaan nostalgia KA Lokal Rangkasbitung makin lengkap bersama KA Lokal Bandung Raya ini.
Kenangan dari KA Lintas Kulon yang masih terselamatkan
Template Tempat Duduk Prioritas yang sepertinya familiar... | Foto: Senna Hananto
KA Kutojaya Selatan berjalan langsung di Stasiun Cicalengka

Perjalanan KA 377 dari Cicalengka menuju Kiaracondong memakan waktu lebih sebentar daripada ketika dari Kiaracondong ke Cicalengka dikarenakan hanya ada satu kali persilangan dengan sesama KA Lokal. Meski demikian, sebelum berangkat, KA 377 sempat dilangkahi oleh KA 204 Kutojaya Selatan tujuan Kutoarjo yang berjalan langsung di Cicalengka. Kondisi K3 0 65 56 yang dinaiki Penulis sangat sepi, hanya ada Penulis serta rekan berdua dan seorang lainnya, kondisi rangkaian pun tampak tidak terlalu ramai. Cukup lucu mengingat Penulis yakin wilayah tengah Bandung pada malam Minggu tersebut pastilah justru ramai dengan aktivitas warga yang ingin jalan-jalan.

KA 377 tiba di Stasiun Kiaracondong tepat pada pukul 22.04, dengan tidak lama kemudian KA ini berjumpa dengan KA 366 yang masuk hampir berbarengan di Stasiun Kiaracondong.

Etape 4: Kiaracondong-Jatinegara

Tiba di Kiaracondong, Penulis dan rekan yang mulai kelaparan pun bergerak menuju peron selatan untuk mengecek minimarket yang pada saat melewati Kiaracondong menuju Cicalengka masih buka. Takdir berkata lain, ternyata minimarket yang dilihat tersebut telah tutup ketika KA Lokal yang dinaiki tiba pada pukul 22.05, sehingga Penulis dan rekan pun terpojok dan memutuskan mencari makan di luar.
Pintu Selatan Stasiun Kiaracondong yang sangat menyedihkan, tidak seperti Pintu Utaranya yang sangat megah
Naas belum berakhir, akibat tidak tahu layout Stasiun Kiaracondong, Penulis dan rekan pun justru bablas keluar stasiun dengan menggunakan pintu selatan dan bukan pintu utara, dan langsung disambut dengan seabrek warung yang keadaannya sudah tutup pula. Beruntung ada warung yang berjualan Indomie di saat-saat perut genting seperti ini, sehingga Penulis dan rekan pun cepat dapat mengisi perut. 

Selama menunggu KA Serayu di Stasiun Kiaracondong, aktivitas di sana adalah ketibaan KA Lokal terakhir tujuan Padalarang pada pukul 23.40, KA Pasundan tepat pada pukul 23.25, dan KA Lokal tujuan akhir Kiaracondong pada pukul 23.56, dan jackpot sebuah Track Motor Car yang tampaknya sedang digunakan untuk inspeksi JPJ.
Track Motor Car dari Stasiun Bandung masuk Stasiun Kiaracondong
KA Serayu sebagai KA 219 pun tiba di Kiaracondong pada pukul 00.26, terlambat 5 menit dari jadwal, dengan Penulis dan rekan kebagian duduk di K3 0 94 30 sebagai K3-6 (Ekonomi 6) yang kondisinya bisa dibilang lumayan, dengan kondisi kursi yang empuk untuk K3 106 tempat duduk meskipun ACnya agak kurang terasa, dengan keadaan sudah cukup dipenuhi penumpang yang berarti okupansi hingga Purwakarta/Bekasi/Jakarta tampak meyakinkan.
K3 0 94 30 yang lumayan dipenuhi penumpang
Tidak banyak yang dapat diceritakan karena Penulis dan rekan yang sudah benar-benar kelelahan langsung tertidur pulas dari Kiaracondong hingga hampir masuk Bekasi. Di Stasiun Bekasi, KA yang terlambat 10 menit ini masuk di jalur 2 karena harus disusul dengan KA Sembrani terlebih dahulu sehingga membuat keterlambatan menjadi 16 menit.
KA 219 Serayu persiapan diberangkatkan kembali dari Stasiun Jatinegara
KA 219 tiba di Stasiun Jatinegara pada pukul 04.10, terlambat 20 menit dari jadwal. Penulis beserta rekan memutuskan untuk turun di Jatinegara karena akses KRL untuk pulang nantinya lebih mudah. Perjalanan diakhiri dengan menaiki KRL Commuter Line KA 1309 tujuan Jakarta Kota untuk kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Demikianlah cerita Penulis beserta rekan bertualang untuk menikmati sensasi berkeretaapi lokal dari Jakarta hingga Cicalengka dan langsung kembali ke Jakarta. Harus diakui perjalanan ini memang sangat melelahkan, tetapi bagi yang ingin merasakan berkeretaapi hingga Bandung Cicalengka, atau malah Cibatu dengan biaya yang sangat murah, tidak terburu-buru, dan dengan sensasi yang tidak biasa, perjalanan ini sangatlah disarankan.

Akhir kata, Penulis pun juga berharap agar tidak terjadi lagi revisi dadakan pada GAPEKA yang menghilangkan kemungkinan melakukan perjalanan bersambung dari Jakarta-Bandung/Cicalengka/Cibatu menggunakan KA Lokal, jadi mumpung lagi bisa, yuk dicoba!

Railway Enthusiast Digest | Ikko Haidar Farozy

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment