testimoni

testimoni

Spot Fotografi Sepur yang Menarik di Jabodetabek (Part 3)

Apa kabar, rekan railfans? Kali ini tim REDaksi kembali dengan menyajikan seabrek lagi spot fotografi yang menarik di Jabodetabek yang berhasil tim REDaksi temukan, dan pastinya akan membuat para railfans lebih penasaran. Mau tahu apa saja? Simak saja artikel ini.

Mampang

"Kakekden" - KRL seri 103 berjalan langsung di Stasiun Mampang
Stasiun Mampang adalah stasiun non-aktif yang lokasinya terletak di antara Stasiun Manggarai dan Sudirman. Sudah lama stasiun ini tidak lagi difungsikan untuk naik-turun penumpang, dan saat ini kondisi stasiunnya sudah sangat mengenaskan karena lama tidak diurus dan menjadi lapak gelandangan.

Kontras dengan keadaan stasiun yang mengenaskan, spot fotografi di stasiun ini justru sangat indah, tidak kalah indahnya dengan petak rel Latuharhari yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Mampang dan akan segera dibahas. Spot ini pun dapat diakses dengan mudah karena tidak jauh dari jalan raya karena letaknya yang berada di Jalan Latuharhari, dekat dari Halte Busway Pasar Rumput.

Di spot ini, tempat yang paling aman adalah peron yang bersebelahan dengan Jalan Latuharhari. Dari sini Anda dapat melihat lurusan KRL arah Manggarai seperti foto pembuka, begitu juga dengan keadaan ketika rangkaian KRL hendak berbelok di lengkung arah Stasiun Manggarai. Jenis KRL yang berada di sini juga cukup bervariasi, dan pada akhir pekan tidak menutup kemungkinan adanya momen KRL SF12 bisa lewat sini untuk melakukan putar kabin atau ada KA Jarak Jauh yang memutar ketika ada suatu gangguan.
Rangkaian Toei Louhan berpapasan dengan rangkaian Tokyu 8003F
Rangkaian Toei 6168F berbelok menuju Stasiun Manggarai

Latuharhari

Rangkaian Tokyo Metro 6133F melintasi hutan Latuharhari
Terletak sangat dekat dengan Stasiun Mampang, untuk mengaksesnya tinggal berjalan kaki sedikit ke arah barat, melewati satu perlintasan kereta api sampai menemukan lengkung jalan rel. Jika menggunakan kendaraan bermotor, Anda harus memutar dahulu lewat perumahan di Menteng dan melewati Jalan Madiun dikarenakan jalan Latuharhari yang satu arah ke arah timur.

Di spot ini tersedia pilihan untuk trek lurus dari arah Sudirman dengan latar belakang berupa pencakar langit BNI 46 yang tampak di kejauhan serta beberapa gedung pencakar langit lainnya, ataupun menghadap lengkungan dan memotret rangkaian yang datang dari Stasiun Manggarai, dan tidak menutup kemungkinan juga untuk mendapat momen dadakan seperti rangkaian putar kabin ataupun KA yang memutar. 
Rangkaian Tokyu 8604F membelok setelah melewati Stasiun Mampang. Rangkaian ini sekarang berformasi 10 kereta.
Siluet rangkaian KRL di sore hari.
Senantiasa berhati-hati dan selalu membawa teman karena perlintasan sering tidak terdengar bunyi sirinenya di sini dan frekuensi kereta yang tinggi.

Cakung

Siapa sih yang tidak tahu spot Stasiun Cakung? Stasiun ini adalah tempat dari salah satu spot paling mainstream di antara kalangan railfans, yaitu lengkung jalan yang berada di antara Stasiun Cakung dengan Stasiun Klender Baru dengan sudut pengambilan dari samping rel proyek jalur dwiganda, serta Jembatan Banjir Kanal Timur dari kejauhan.

Meskipun demikian, masih ada sudut lain di sekitar Stasiun Cakung yang belum banyak yang menjelajahinya. Salah satunya adalah spot yang berada di bukit di sebelah Jalan Raya I Gusti Ngurah Rai. Untuk mencapainya, tinggal keluar menggunakan pintu selatan Stasiun Cakung dan kemudian jalan kaki mengikuti jalan raya ke arah barat sampai berada tepat di seberang pintu keluar tol. Meskipun spot ini bisa dijangkau dari rel, tetapi tidak disarankan karena letaknya dekat dengan wesel Stasiun Cakung sehingga tidak aman.

Dari sudut ini, Anda dapat melihat secara sangat jelas rel kereta di bawah. Spot ini menarik karena kita memiliki pandangan yang luas terhadap jalur rel di bawah, serta dapat memotret ketika rangkaian tersebut meliuk berbentuk S karena bentuk jalan relnya. 
KRL seri 205 rangkaian BOO17 dengan pantograf campursarinya meliuk menuju Klender Baru
Untuk rangkaian dari arah Jakarta, spot ini agak kurang pas untuk rangkaian KA/KRL karena sudutnya yang cukup sempit dan terhalang tiang LAA untuk bisa melihat bagian belakangnya. Meski demikian, untuk rangkaian berstamformasi pendek, sudut ini bisa dibilang cukup oke. Dikarenakan letaknya agak jauh dari rel, disarankan untuk memotret menggunakan kamera prosumer atau DSLR yang mempunyai lensa jangkauan 300mm.
KLB MPJR bersiap berjalan langsung di Cakung

Sebagai catatan, karena tempatnya memang bersebelahan dengan wesel Stasiun Cakung, meskipun memang jauh dari rel, sebaiknya dipastikan tidak ada PKD perpetak yang berpatroli sebelum memotret di sini.

Jembatan Gantung (Taman Kota-Bojong Indah)

Rangkaian KRL Tokyo Metro 05 melintas Jembatan Gantung
Sementara spot Jembatan Banjir Kanal Timur sudah cukup mainstream, spot jembatan KA di wilayah Jembatan Gantung justru belum banyak yang menjamah. Padahal spot ini dapat menawarkan pemandangan yang sama apiknya dengan spot yang ada di Jembatan Banjir Kanal Timur. 

Untuk mencapai spot yang berlokasi di petak antara Stasiun Taman Kota dan Bojong Indah ini sangat mudah, cukup menggunakan bus Transjakarta koridor 3 (Pasar Baru-Kalideres) dan turun di halte Jembatan Gantung ke sisi kiri jalan (sisi kanan jika dari Kalideres), lalu kemudian berjalan kaki sedikit ke arah barat halte menuju jembatan. Dari situ, jika melihat ke arah kiri maka sudah dapat terlihat jembatan KA di kejauhan. Untuk KRL Commuter Line, Anda dapat turun di Stasiun Taman Kota, meski hal ini kurang disarankan karena jalan kakinya cukup jauh dibandingkan dengan turun di Halte Jembatan Gantung menggunakan bus Transjakarta.
Rangkaian KRL Tokyo Metro 6126F melintas Jembatan Gantung
Spot ini menawarkan pemandangan panorama yang tidak kalah indah dengan yang ditawarkan di Banjir Kanal Timur, dan komposisi yang didapat bisa lebih ideal karena posisi jembatan kereta dan jembatan jalan raya yang jadi tempat memotret benar-benar sejajar, tidak miring seperti di Banjir Kanal Timur. Meski demikian, kecuali ada momen KLB, lalu lintas KA di sini memang membosankan karena untuk saat ini, selagi menunggu ARS yang kabarnya akan diujicoba akhir tahun ini, hanya ada KRL Commuter Line di sini yang melintas reguler dengan headway yang jarang pula.

Petak Cilebut-Bojonggede

KRL seri 203 rangkaian BUD2 berbelok melewati belokan S di dekat Stasiun Cilebut
Satu lagi spot yang menarik adalah di wilayah sekitar Stasiun Cilebut yaitu belokan S dan longsoran di antara Stasiun Cilebut-Bojonggede. Untuk aksesnya memang lumayan jauh karena harus berjalan kaki ke arah utara sekitar 2 km menggunakan jalan setapak yang berada di samping rel. Akan tetapi, perjalanan jauh tersebut akan terbayarkan dengan pemandangan yang sangat menarik.

Spot pertama yang akan dijumpai adalah spot belokan S yang letaknya tidak terlalu jauh dari spot longsoran. Sudut pengambilan yang paling optimal adalah menghadap selatan di pos berwarna ungu yang letaknya berada di seberang jalan setapak, persis berada di samping jalan raya. Dari sini, Anda dapat memotret rangkaian kereta dari Stasiun Cilebut yang berbelok indah di belokan S.
Rangkaian 6108F ketika ujicoba melintas belokan S Cilebut
Berjalan lebih jauh ke arah utara sedikit dan Anda akan menemukan lengkung jalan rel yang dikenal sebagai spot longsoran. Lengkung jalan ini disebut longsoran dikarenakan pada tahun 2012 lalu terjadi longsoran yang memutus jalur KA antara Bogor-Bojonggede cukup lama. Setelah kejadian ini, dibuatlah turap untuk menahan tanah untuk mencegah terjadinya longsor lagi.

Spot ini menawarkan pemandangan yang indah ketika rangkaian KA melewati lengkung jalan ini, dengan berbagai pilihan sudut yang tersedia, dengan pemilihan sudut yang terbaik adalah berada di selokan di sisi turap - meski demikian, berhati-hati melangkah untuk menjaga jarak aman dari pinggir turap dan rel.
Rangkaian 5817F sedang berbelok di spot longsoran. Rangkaian ini sekarang berformasi 10 kereta.
KAIS Wijaya Kusuma melintasi spot longsoran | Foto: Saddam "Husein"
KRL seri 205 rangkaian BOO95 relasi Bogor-Duri melintasi spot longsoran | Foto: Saddam "Husein"
Rangkaian Tokyo Metro 6123F membelok di sisi utara spot longsoran

Stasiun Cilebut

Tidak hanya tikungan dekat Cilebut mengarah Bojonggede saja yang menyimpan potensi menarik. Ternyata wilayah Stasiun Cilebutnya sendiri pun menyimpan potensi menarik, tepatnya berada di jembatan penyeberangan orang yang letaknya tepat bersebelahan dari Stasiun Cilebut sendiri. 

Untuk mengakses jembatan penyeberangan ini cukup mudah, yaitu tinggal keluar menggunakan pintu selatan Stasiun Cilebut dan kemudian berjalan kaki hingga menemukan jalan akses menaiki jembatan penyeberangan untuk kemudian menaiki jembatan penyeberangan ini sendiri dan bergerak menuju bagian tengahnya.

Dari spot ini, jika menghadap ke selatan (arah Bogor), Anda akan disuguhkan dengan pemandangan high angle yang apik baik untuk rangkaian KA yang mengarah utara ataupun selatan, apalagi jika ke tempat ini pada waktu yang tepat ketika jarak pandang sangatlah bagus di mana dari tempat ini, Gunung Salak dapat terlihat dengan sangat jelas.
Jika keadaan cuaca sangatlah sempurna, Gunung Salak dapat terlihat dengan sangat sangat jelas | Foto: Muhammad Quraisy 
Akan tetapi meskipun dalam keadaan Gunung Salak tidak terlihat karena cuaca, pemandangan high angle dari spot ini tetap apik









Rangkaian 8610F menuju Angke. Jika keadaan cuaca cerah, gunung Gede Pangrango dapat terlihat jelas di latar belakang.
Sementara itu untuk sisi utara, dikarenakan lebih banyak halangan karena gantry LAA, pemotretan menghadap sisi ini justru kurang disarankan apalagi untuk rangkaian 8 kereta dikarenakan mukanya akan sangat terhalang dengan gantry LAA.
Dekatnya gantry LAA dengan jembatan penyeberangan membuat sudut ini menjadi sangat tidak disarankan untuk memotret.
Satu hal yang harus diperhatikan dari pengambilan foto di spot ini adalah, spot jembatan penyeberangan di Cilebut ini seringkali digunakan warga untuk menyeberang dengan menggunakan sepeda motor, sehingga kewaspadaan ekstra diperlukan di sini agar tidak terserempet motor. 

Cikarang dan sekitarnya

Sedikit keluar dari Kota Bekasi ke arah timur, Cikarang merupakan salah satu surga fotografi kereta api di wilayah Jabodetabek. Di wilayah sekitaran tapal batas timur listrik aliran atas yang belum secara reguler dilewati KRL ini, banyak ditemukan spot-spot sawah dari mulai Cibitung, Telaga Murni, sampai dengan Cikarang itu sendiri, yang apabila nanti sudah dilewati KRL maka seolah-olah anda tidak sedang berada di Indonesia, namun di pedesaan Jepang!

Tim REDaksi berhasil menemukan dua spot di sekitar Cikarang, tentunya di bagian yang terdapat listrik aliran atas. Spot pertama adalah tikungan tepat di sebelah barat Stasiun Cikarang, di mana nantinya di tikungan ini akan dibangun wesel masuk ke emplasemen baru khusus KRL di Stasiun Cikarang. Menghadap ke timur, anda akan disuguhkan view tikungan yang melewati dua perlintasan sebidang. Waktu pengambilan foto yang tepat untuk view dari barat adalah di sore hari.
Kereta api Walahar Ekspres dengan lokomotif  "ngong" CC2019212
Kereta api Argo Lawu dengan lokomotif CC2061315
Menghadap arah sebaliknya, anda akan melihat jalur yang lurus dan mungkin cukup membosankan, namun tetap bagus untuk memotret KA-KA dari barat ke timur terutama di pagi hari. Memotret ke arah barat di sore hari mungkin akan membuat hasil foto dipenuhi oleh backlight.
Kereta api Bangunkarta tujuan Surabaya Gubeng dengan lokomotif CC2061363
Bergeser sekitar 1.5 kilometer ke arah barat, anda akan menemukan view persawahan yang sangat ciamik dan tentunya sangat indah, yang sekaligus mengingatkan kita bahwa daerah Kabupaten Bekasi, khususnya Cikarang, dulunya merupakan wilayah lumbung padi nasional pada masa swasembada beras. Sedih mengetahui bahwa beberapa wilayah persawahan di daerah ini kemudian menjadi wilayah real estate seperti halnya di Telaga Murni. Padahal, kereta api dan sawah selama ini merupakan salah satu kombinasi indah yang cukup populer dari railway photography. Sawah pertama berada di sisi timur dari sebuah saluran irigasi antara Stasiun Cikarang dan proyek Stasiun Telaga Murni.
View untuk kereta dari arah timur, KLB percobaan elektrifikasi Cikarang dengan KRL seri 205 rangkaian BUD129+102 sebagai KLB dinas
View untuk kereta dari arah barat diambil dari jalan setapak tepat di depan sawah, kereta api Kertajaya dengan lokomotif CC2061367. Setelah patok KM 41+500 merupakan jembatan kecil yang menyeberangi saluran irigasi. Kereta ke arah timur juga bisa difoto dari persawahan yang sama dengan foto sebelumnya. | foto: Praditya Setiawan
Namun, sawah terbaik untuk mendapatkan view yang lebih spektakuler justru sawah yang berada di sebelah barat saluran irigasi. Ini dikarenakan viewnya yang lebih luas dan posisi anda untuk memotret kereta api maupun (nantinya) KRL dari persawahan ini lebih banyak sehingga anda lebih leluasa dalam bergerak mencari hasil foto yang bagus, baik untuk kereta dari barat maupun timur.
Kereta api Jayabaya dari sebelah barat saluran irigasi, dengan view sawah yang lebih luas dan lebih bebas | foto: Praditya Setiawan
Demikianlah artikel spot-spot menarik di Jabodetabek Part 3 dengan spot pilihan Tim REDaksi kali ini. Selamat hunting, dan ingat. Utamakan selalu keselamatan - keep safety hunting!

Railway Enthusiast Digest | Ikko Haidar Farozy | MPSCLFJRN

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment