testimoni

testimoni

Universitas Indonesia Akan Bangun Jalur Suspended Monorail

Suspended Monorail SkyWay | Merdeka.com

[30/9]. Universitas Indonesia berencana akan membangun jalur suspended monorail atau monorail gantung di area kampusnya. Dilansir dari Merdeka.com, jalur suspended monorail ini akan dibangun menghubungkan fakultas-fakultas yang ada di wilayah UI. Rencana pembangunan ini ditandai dengan ditandatanganinya MOU antara pihak UI dengan PT SkyWay Technologies Indonesia pada Senin kemarin.


Rektor Universitas Indonesia Muhamad Anis mengaku senang bisa menjadi mitra bagi SkyWay dalam membangun suspended monorail di Indonesia. Alasan penggunaan suspended monorail SkyWay sebagai sarana transportasi di lingkungan kampus adalah karena konstruksinya yang tak perlu menebang banyak pohon. Seperti yang kita ketahui, kawasan Kampus UI Depok merupakan wilayah hijau di mana sepertiganya adalah hutan kota.

MOU SkyWay dan UI | Merdeka.com

Selain itu, suspended monorail SkyWay ini tidak menghasilkan emisi gas karbondioksida karena menggunakan pembangkit listrik dengan energi terbarukan sehingga lebih ramah lingkungan. Biaya pembangunannya lebih murah karena menggunakan konstruksi baja. Setelah ditandatanganinya MOU ini, rencananya akan dibentuk working team untuk merencanakan pembangunan suspended monorail ini.

Suspended monorail ini rencananya akan dibangun menghubungkan fakultas-fakultas yang ada di UI. Selama ini akses antar fakultas UI dihubungkan dengan bus kuning. Meskipun dibangun suspended monorail, keberadaan bus kuning tidak akan dihapuskan. Nantinya armada bus kuning akan digantikan dengan bus yang lebih ramah lingkungan seperti bus listrik.

Jika benar jalur ini akan dibangun, maka Indonesia akan jadi negara keempat di dunia yang mengoperasikan suspended monorail di dunia setelah Jerman dengan Wuppertal Suspended Monorail, Jepang dengan Shonan Suspended Monorail, dan Tiongkok yang tengah membangun jalur suspended monorail.



RE Digest | Bayu Tri Sulistyo


About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment