testimoni

testimoni

Beginilah Suasana Hari Pertama Operasional KRL Cikarang

Bangunan baru Stasiun Cikarang
[9/10] - Tahun 2017 sepertinya merupakan tahun yang sangat bersejarah di dunia KRL Commuter Line. Bagaimana tidak, pada tahun ini ada dua relasi baru KRL Commuter Line yang dibuka, yaitu relasi Tanah Abang - Rangkasbitung sebagai perpanjangan relasi Tanah Abang - Maja yang telah operasional semenjak pemberlakuan Gapeka 2017 pada tanggal 1 April lalu, dan yang terbaru yaitu relasi Jakarta Kota - Cikarang (Via Manggarai dan Pasar Senen/Kemayoran) yang merupakan perpanjangan dari relasi Jakarta Kota - Bekasi yang baru saja dioperasikan pada tanggal 8 Oktober kemarin. Tidak hanya itu, adanya satu stasiun baru dan satu stasiun yang telah lama mati diaktifkan kembali menambah spesial momen ini. 

Dibukanya relasi Jakarta Kota - Cikarang ini sontak langsung mengundang antusiasme warga dan railfans yang sangat besar. Mereka tidak ingin ketinggalan melihat dan merasakan perjalanan pada hari pertama pengoperasian KRL relasi Jakarta Kota - Cikarang, termasuk tentu saja Tim REDaksi. Ingin tahu bagaimana suasana perjalanan hari pertama pengoperasian KRL Jakarta Kota - Cikarang? Simak saja terus liputan oleh Tim REDaksi!

Menuju Cikarang


KRL seri 205 rangkaian BUD18+23 sebagai KA 1362A dengan penampil rute papan Bekasi - Cikarang
Seperti pada pengoperasian KRL relasi Tanah Abang - Rangkasbitung yang diwarnai penundaan dikarenakan alasan teknis, pengoperasian KRL relasi Jakarta Kota - Cikarang juga sempat diwarnai penundaan dikarenakan ketidaksiapan prasarana yang ada. Pengoperasian yang sedianya direncanakan pada tanggal 17 September lalu harus ditunda hingga tanggal 8 Oktober, dengan peresmian dilakukan terlebih dahulu oleh Menteri Perhubungan pada tanggal 7 Oktober di Stasiun Bekasi Timur. 


Berbeda dari pengoperasian KRL Rangkasbitung, pengoperasian KRL Cikarang untuk saat ini tidak memengaruhi perjalanan KA Ekonomi Lokal Tanjung Priok - Purwakarta/Cikampek (Walahar, Jatiluhur, dan Cilamaya) meskipun dulu sempat dikabarkan perjalanan KA Ekonomi Lokal ini akan diperpendek hingga Cikarang ketika KRL sudah beroperasi. Selain itu, hanya ada penambahan satu loop perjalanan untuk mengakomodir perpanjangan relasi ini dengan sisanya adalah perpanjangan jadwal Jakarta Kota - Bekasi, tidak sebanyak KRL Rangkasbitung yang penambahan loopnya sampai enam. 

Babak baru pengoperasian KRL lintas Cikarang dibuka dengan diberangkatkannya KA 1313A tujuan Jakarta Kota dari Stasiun Cikarang pada pukul 04.40 pagi dengan menggunakan KRL seri 205 rangkaian BUD18+23 formasi 12 kereta. Sementara Tim REDaksi menjajal rute ini dengan menggunakan KA 1374A pemberangkatan Jakarta Kota yang tiba di Manggarai pada pukul 14.05, meski sebelumnya sempat menyaksikan kedatangan rangkaian KA 1362A pada pukul 12.54 di Manggarai. 

Seperti tipikal perjalanan KRL Bekasi pada siang hari, tampak rangkaian KRL ini tidak terlalu padat dari Jakarta Kota. Akan tetapi setibanya di Manggarai, rangkaian ini langsung diserbu oleh para penumpang yang kebanyakan tentu saja bertujuan antara Bekasi Timur hingga Cikarang, di mana rangkaian KRL yang awalnya cukup longgar meski dengan tempat duduk sudah sebagian besar terisi langsung menjadi cukup penuh, yang untungnya tidak separah ketika Tim REDaksi mencoba KRL Rangkasbitung pada awal pengoperasian dulu. Bisa dibilang lagi-lagi tipikal KRL Bekasi pada siang hari, KRL ini dari Manggarai tetaplah cukup padat hingga sampai tujuan akhirnya.
Rangkiaian BUD131+134 sebagai KA 1374A dengan penampil tujuan rol gulung menampilkan Cikarang
Perjalanan yang ditempuh oleh KA 1374A antara Manggarai - Cikarang ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, dengan keberangkatan dari Manggarai sekitar pukul 14.07, dan tiba di Stasiun Cikarang pada pukul 15.10. Untung saja, selama perjalanan Tim REDaksi tidak mengalami acara disusul oleh KA Jarak Jauh, yang merupakan momok terbesar bagi siapapun yang menggunakan KRL Commuter Line di lintas Bekasi. Sepanjang lintas Tambun - Cikarang, terdapat hamparan sawah yang tidak hanya indah dilihat dan sekarang bisa dilihat tanpa harus naik KA Jarak Jauh atau Ekonomi Lokal, tetapi juga potensial untuk menjadi tempat baru memotret aktivitas KRL. Suasana ini juga alangkah baiknya untuk diabadikan karena bisa saja dalam beberapa tahun mendatang, suasana persawahan yang hari ini kita bisa lihat telah hilang. 
Suasana persawahan di lintas Tambun - Cikarang
Selain itu, sepanjang perjalanan antara Bekasi hingga Cikarang, tampak banyak sekali orang baik railfans atau warga yang asyik memotret dan merekam KRL yang melintas. Sangat tampak antusiasme mereka ketika melihat KRL yang dulu sudah beberapa kali lalu lalang sebagai ujicoba kesiapan lintas sekarang benar-benar beroperasi reguler. Dan tidak menutup kemungkinan juga mereka bisa jadi adalah calon-calon pengguna yang akan secara rutin menggunakan KRL ini.
Warga yang antusias merekam/memotret KRL yang lewat
Seperti pada KRL Rangkasbitung pada awal operasinya, Stasiun Bekasi masih disebut di sistem announcer otomatis sebagai stasiun akhir, dengan pengumuman dalam KRL dari Bekasi Timur hingga Cikarang dilakukan secara manual oleh PPK, meskipun pada hari kedua telah ditambahkan announcer otomatis yang masih menggunakan suara Google Translate. Hal yang sama juga diamati ketika perjalanan pulang dari Cikarang hingga Bekasi. 

Dengan banyaknya perubahan di stasiun lintas Bekasi - Cikarang, tentu saja tidaklah lengkap jika kita tidak mereview satu persatu stasiun-stasiun ini.

Stasiun Bekasi Timur (BKT): Awal yang Baru


Foto Lucius Juan Halim.
Jepang? Bukan bung, Ini Bekasi Timur! | Foto: Lucius Juan Halim
Stasiun Bekasi Timur yang juga populer dengan sebutan Stasiun Bulak Kapal dan Stasiun Ampera adalah Stasiun terbaru yang ada di Daerah Operasi I (Daop I) Jakarta. Stasiun ini mulai dibangun sejak tahun 2015 dan dibuka bersamaan dengan operasional KRL Cikarang tanggal 8 Oktober kemarin. Tidak seperti pada umumnya stasiun KRL di Jabodetabek, stasiun ini didesain menggunakan peron tengah dan bukan peron samping, dengan bahan lantai beton di tepi peron serta keramik antilicin di tengah peron. Selain itu, terdapat dua jalan akses yaitu pintu utara dan selatan, dan di bagian selatannya disediakan tempat parkir yang cukup luas.

Layout dan desain stasiun ini terlihat sangat mirip dengan perkotaan besar di Jepang, yang tidak mengherankan dikarenakan desain stasiun ini dibuat dengan bantuan JICA (Japan International Cooperation Agency). Hal yang sama juga tampak di stasiun lain di lintas Bekasi Timur - Cikarang, terkecuali Tambun yang saat ini belum ada bangunan baru dan Telagamurni yang fisiknya belum ada.

Stasiun ini juga dilintasi oleh moda transportasi darat berupa angkot Bekasi, serta bus Transjakarta tujuan Pasar Baru dan Grogol serta bus AKAP/AKDP tujuan Merak, Tangerang, Bandung, dan sebagainya. Sedangkan bus kota Patas AC tujuan Blok M (Tol Barat), Tanjung Priok, dan Kalideres, serta Patas non-AC tujuan Kampung Rambutan (Tol Barat) meskipun tidak melintas di depan Stasiun Bekasi Timur, tetapi tersedia di Terminal Bekasi sekitar 500 meter ke barat.

Selain itu, stasiun ini juga tidak terlalu jauh untuk mencapai Bulak Kapal dengan menggunakan angkot 19/19A, di mana terdapat bus kota Patas AC tujuan Blok M (Tol Timur), Tanah Abang, dan Lebak Bulus, serta Patas Non-AC tujuan Kampung Rambutan (Tol Timur) dan Pasar Senen. Angkot 19 dan 19A juga bisa digunakan untuk mencapai Depsos Bekasi di mana banyak agen bus AKAP, yang juga populer sebagai tempat berburu bus.

Berdasarkan pengamatan dari salah satu rekan Tim REDaksi yang berdomisili di sana, stasiun ini di hari pertama operasi, meski sarana berupa tangga dan lift beroperasi dengan baik, masih ada hal yang belum lengkap. Pintu utara masih belum bisa diakses dan lahan parkir penjagaannya baru dilakukan sebatas penjagaan dari warga sekitar, meskipun sudah ada spanduk RESKA Multi Usaha.
Spanduk RESKA Multi Usaha di Stasiun Bekasi Timur | Foto: Lucius Juan Halim
Pintu utara Stasiun Bekasi Timur yang masih ditutup | Foto: Lucius Juan Halim

Selain itu, di salah satu sudut stasiun ini dapat ditemukan plakat yang menandai kerjasama proyek elektrifikasi Bekasi - Cikarang antara Indonesia - Jepang dengan pinjaman dari JICA dalam Bahasa Indonesia, bahasa Jepang, dan bahasa Inggris.
Brought to you by JICA | Foto: Lucius Juan Halim


Stasiun Tambun (TB): Masih Begitu Saja


Keadaan Stasiun Tambun yang hampir belum ada lagi progres pembangunan

Stasiun Tambun tentu tidak lagi asing di kalangan railfans, karena merupakan tempat ngumpul dan juga memotret aktivitas KA yang populer sebelum dilakukan sterilisasi demi proses pembangunan stasiun. Stasiun ini juga terkenal karena letaknya yang berdekatan dengan Gedung Juang yang merupakan benda cagar budaya.

Melihat Stasiun Tambun, Tim REDaksi cukup sedih ketika melihat hampir belum ada progres pembangunan, dengan kondisinya masih tertinggal sendiri. Tidak ada progres pembangunan berarti yang ada ketika stasiun-stasiun lain di lintas ini selain Telagamurni sudah bisa dikatakan hampir selesai. Pada awal operasional KRL, hanya ada gerbang tiket di bangunan sementara dekat bangunan lama Stasiun Tambun, dan peronnya berupa bancik sempit tanpa atap di jalur 1 dan 4 Stasiun Tambun, tanpa adanya tempat berteduh selain bangunan sementara dan ruang PPKA. Hal ini merupakan masalah sangat besar pada cuaca panas terik apalagi hujan, terlebih saat ini sudah mendekati atau malah mulai memasuki musim penghujan.
Gerbang tiket di bangunan sementara Stasiun Tambun, dekat ruang PPKA | Foto: Lucius Juan Halim
Sisa ruang PPKA di Stasiun Tambun | Foto: Lucius Juan Halim
Operasional KRL di Stasiun Tambun ini dibilang cukup menarik, di mana rangkaian KRL Commuter Line yang masuk Stasiun Tambun akan diarahkan ke sepur belok (jalur 1 dan 4) tidak peduli akan disusul oleh KA Jarak Jauh ataupun tidak, dikarenakan peron tinggi hanya tersedia di jalur 1 dan jalur 4. Proses perhentian di jalur 4 di mana peron tinggi dan bangunan stasiun berada di sebelah kiri rangkaian sekilas mengingatkan pada stasiun Tigaraksa di mana rangkaian KRL Commuter Line dan dulunya KA Ekonomi Lokal yang akan berhenti dimasukkan ke jalur 4 agar penumpang dapat turun ke peron dan langsung ke gedung stasiun tanpa terhalang oleh rangkaian mereka sendiri. 

Pembangunan di Stasiun Tambun memang harus dimulai lagi, dan kali ini benar-benar dipercepat. Peron tinggi yang benar-benar layak dan dilengkapi atap harus segera dibangun, dan kalaupun masih dirasa terlalu lama, setidaknya bancik yang sekarang ada dilengkapi atap terlebih dahulu agar penumpang dapat terlindungi dari cuaca.

Stasiun Cibitung (CIT): Terlahir Kembali


Suasana Stasiun Cibitung pada hari pertama operasional KRL Cikarang. 
Salah satu stasiun yang menarik perhatian bagi Tim REDaksi adalah Stasiun Cibitung. Bagaimana tidak? Stasiun ini dahulu hanyalah sebuah halte kecil tanpa peron sama sekali. Hanya papan nama Cibitung dan loket penjualan karcis yang hanya melayani KA Ekonomi Lokal kala itu, yang harus dilihat sendiri agar dapat dipercaya. 
Serius. Ini adalah Halte Cibitung di masa lalu | Foto: Kharisma Sugandi, Semboyan 35 via Wikipedia
Setelah dimatikan semenjak revisi GAPEKA 2011, praktis halte dengan kode CIT ini langsung terlupakan keberadaannya. Sangat lama sekali hingga ketika mulai ada rencana perpanjangan operasional KRL sampai Stasiun Cikarang keberadaan Stasiun Cibitung disadari pentingnya bagi warga di sekitarnya, sehingga pada akhirnya diputuskan Stasiun Cibitung dibangun kembali di lokasi yang sama dengan lokasi halte yang telah mati. 

Proses pembangunan kembali Stasiun Cibitung dimulai pada tahun 2015 dan menggunakan desain yang mengikuti desain Stasiun Bekasi Timur, yaitu menggunakan peron tengah dengan lantai beton di tepi dan keramik antilicin di tengah, dua pintu akses yaitu di utara (yang pada hari pertama operasional juga tampak belum dibuka) dan selatan, dengan lahan parkir di selatan, dengan desain seperti pada Stasiun Bekasi Timur dan Cikarang juga dibuat oleh JICA, sehingga suasananya juga sangat Jepang sekali. Stasiun ini juga dibuka kembali dengan wujud barunya berbarengan dengan operasional KRL Cikarang pada tanggal 8 Oktober.

Meski demikian, berbeda dengan sosok lamanya, Stasiun Cibitung yang terlahir kembali tidak lagi melayani KA Ekonomi Lokal, hanya KRL Commuter Line saja.

Tidak terlalu banyak yang bisa dibahas di Cibitung, dikarenakan secara garis besar stasiun ini sangat mirip dengan Stasiun Bekasi Timur dan keterbatasan waktu yang menyebabkan Tim REDaksi tidak dapat turun di Stasiun Cibitung.

Stasiun Telagamurni (Belum ada kode stasiun): ?


Serius. Ini keadaan (bakal) Stasiun Telagamurni pada hari pertama operasional KRL Cikarang 8 Oktober kemarin
Tanda tanya. Itu saja. Ini reaksi Tim REDaksi ketika rangkaiannya melintasi lokasi bakal Stasiun Telagamurni. Hampir tidak ada perkembangan apapun, struktur bangunannya masih hanya berupa tiang pancang yang cukup jauh dari rel dan gundukan tanah dengan minimnya aktivitas pembangunan di sana.

Stasiun Telagamurni adalah stasiun yang sedianya akan terletak di antara Stasiun Cibitung dan Stasiun Cikarang. Prosesi groundbreaking Stasiun Telagamurni telah dilaksanakan pada tahun 2016 lalu di mana developer perumahan Metland menyepakati kerjasama dengan KAI untuk membangun stasiun ini, dengan dukungan oleh Bupati Bekasi. 

Meski demikian, setahun lebih telah berlalu dan sepertinya progres pembangunan Stasiun Telagamurni ini berjalan sangat lambat. Berdasarkan video yang dirilis oleh Metland, progres pembangunan hingga September 2017 masih pada sterilisasi jalan akses serta baru akan dimulainya proses pembangunan peron stasiun.
Progres pembangunan Stasiun Telagamurni pada September 2017 | Video: Metland Cibitung

Sepertinya agak pesimistis untuk melihat stasiun ini benar-benar beroperasi secepatnya, tapi mari kita lihat saja kedepannya...

Stasiun Cikarang (CKR): Loncatan Seabad ke Depan


Gerbang tiket dan concourse bagian dalam gerbang tiket di Stasiun Cikarang
Ketika Tim REDaksi akhirnya tiba di Stasiun Cikarang yang merupakan objek incaran utama, jujur saja reaksi yang bisa dirasakan campur aduk. Meski memang desain gedung Stasiun Cikarang bisa dibilang bagus dan memang menjanjikan, harus diakui bahwa Stasiun Cikarang masihlah jauh dari jadi. Jalur rel di emplasemen baru yang akan digunakan untuk operasional KRL masih belum tersambung ke jalur utama di sebelah barat jembatan, dengan satu jalur yaitu jalur 4 baru yang masih terhalang jalan penghubung ke bancik dan ruang PPKA, serta  masih terlihat banyak pekerjaan konstruksi di stasiun. 

Rangkaian KRL yang tiba dimasukkan ke jalur 1 Stasiun Cikarang, di mana tersedia bancik yang telah dibangun di sisi jalur 1. Dari bancik ini, penumpang kemudian diarahkan melalui jalan penghubung menuju peron di bangunan baru Stasiun Cikarang untuk kemudian menaiki tangga atau eskalator yang tersedia. Selain tangga dan eskalator, juga terdapat lift yang sayangnya pada hari pertama operasional belum berfungsi.

Sayangnya, meskipun peron barunya sangat luas dan layak sebagai stasiun terminus, tetapi banciknya masih sempit dan juga tidak ada atap seperti pada Stasiun Tambun. Penumpang mungkin dapat berlindung dari sengatan panas ataupun hujan di peron baru yang jauh lebih luas dibanding bangunan sementara di Tambun, tetapi akan tetap kehujanan ketika berjalan untuk naik rangkaian, pun juga dengan penumpang yang turun dari rangkaian yang berpotensi langsung terguyur hujan jika hujan turun. Oleh karenanya, sama seperti Tambun, bancik yang ada juga harus segera diberi atap dulu sebelum KRL bisa dimasukkan ke emplasemen baru Stasiun Cikarang agar penumpang terlindungi dari cuaca karena mengharapkan emplasemen baru dapat digunakan untuk KRL tidaklah sebentar.
Jalan penghubung dari bancik ke bangunan baru stasiun Cikarang yang menghalangi jalur 4 baru Stasiun Cikarang
Menariknya, meskipun jalur di emplasemen baru ini telah dinomori 1-4, akan tetapi untuk saat ini, penomoran dan penyebutan jalur masih menggunakan penomoran yang lama (di mana jalur 1 yang dipergunakan pada saat ini adalah jalur 1 emplasemen lama yang ditambahi bancik). Jika emplasemen dan peron baru resmi dipergunakan oleh KRL, maka jalur di emplasemen lama akan diubah nomornya menjadi jalur 5-8.

Seperti pada Stasiun Bekasi Timur dan Cibitung, suasana pada stasiun ini di peron barunya sangatlah Jepang sekali yang wajar mengingat desain stasiun ini juga dibuat dengan bantuan dari JICA. Proses modernisasi ini dilakukan dengan mengorbankan bangunan lama Stasiun Cikarang, yang kemudian digantikan dengan bangunan kecil sementara untuk ruang staf dan loket tiket Ekonomi Lokal, dengan sisa bangunan lama hanya pada ruang PPKA yang lokasinya menghalangi jalur 4 yang baru.

Sisa ruang PPKA di Stasiun Cikarang | Foto: Lucius Juan Halim
Seperti Bekasi Timur dan Cibitung, jika dilihat sekilas, stasiun ini terlihat seperti halnya di Jepang
Menaiki eskalator, Tim REDaksi bergerak menuju concourse yang berisi gerbang tiket, loket penjualan tiket KRL Commuter Line dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya seperti kamar mandi dan musholla. Salah satu anggota tim REDaksi beserta dengan rekan yang menemani tim REDaksi ke stasiun Cikarang bahkan sempat mencoba fasilitas kamar mandi dan musholla stasiun ini, meskipun masih terdapat prasarana pendukung yang belum lengkap dikarenakan status dari bangunan stasiun ini yang masih dalam tahap pembangunan.

Sebagai stasiun terminus, wajar mengapa concourse di Stasiun Cikarang terlihat ramai. Akan tetapi, ternyata keramaian concourse ini tidak hanya didominasi oleh penumpang KRL, tetapi juga oleh warga sekitar yang asyik memandang dan memotret aktivitas KA dari concourse, terutama di tepi concourse bagian luar gerbang tiket.

Suasana gerbang tiket stasiun Cikarang yang dipenuhi penumpang yang baru saja turun dari KRL
Bagian concourse yang berisi musholla dan toilet. Persis di sampingnya adalah eskalator ke peron jalur 1 dan 2 yang masih disegel
Tim REDaksi kemudian melakukan tap out untuk kemudian melihat loket penjualan tiket di luar gerbang tiket. Alangkah kagetnya ketika Tim REDaksi menemukan tidak ada sama sekali loket penjualan tiket KA Ekonomi Lokal. Penasaran untuk mencari jawaban, Tim REDaksi pun kemudian berjalan turun dari concourse bangunan baru Stasiun Cikarang ke parkiran.
Loket penjualan tiket KRL Commuter Line
Concourse bagian luar gerbang tiket Stasiun Cikarang
Tim REDaksi turun dari concourse bangunan baru menuju tempat parkir melalui tangga akses utama. Selain dilengkapi dengan tangga manual, tangga akses utama ini juga dilengkapi dengan eskalator, serta lift yang lokasinya tidak jauh. Akan tetapi, pada hari pertama operasional, eskalator baru berfungsi untuk arah turun dan lift masih belum berfungsi seperti halnya lift di dalam concourse.
Tangga dan eskalator menuju tempat parkir.
Ternyata, loket penjualan tiket KA Ekonomi Lokal berada di luar bangunan baru Stasiun Cikarang, tepatnya berada di bangunan yang berada di tempat parkir. Penumpang lokal memasuki Stasiun Cikarang juga tidak melalui bangunan baru, melainkan memutari pagar di dekat jalur 1 peron baru lalu kemudian menyeberangi jalur baru untuk mencapai jalur emplasemen lama, yang sangat merepotkan bagi penumpang KA Ekonomi Lokal.
Loket tiket KA Ekonomi Lokal yang berada di luar bangunan baru Stasiun Cikarang
Kembali ke concourse, Tim REDaksi pun tidak mau menyia-nyiakan begitu saja kesempatan memotret di tepi concourse bagian luar gerbang tiket. Dari bagian ini tampak dengan jelas sudut high angle terhadap rel KA di bawahnya. Meski memang bagian ini diberi pagar tinggi, tetapi celahnya cukup lebar untuk memotret tanpa gangguan, dan malah bisa dimanfaatkan untuk menyelipkan HP keluar, dengan jarak yang masih aman. Meski demikian, hati-hati jangan sampai HP terlepas dari pegangan tangan.
Rangkaian KA Argo Jati berjalan langsung di Stasiun Cikarang. Perhatikan jalur 4 emplasemen lama Stasiun Cikarang tidak dipasang LAA.
KA Bangunkarta berjalan langsung di Stasiun Cikarang
Tim REDaksi juga disuguhkan momen ketika KA 329A Walahar Ekspres sebagai Ekonomi Lokal tujuan Tanjung Priok datang bersamaan dengan tibanya rangkaian KRL KA 1384A dari Jakarta Kota di Stasiun Cikarang. Tampak penumpang KRL cukup ramai di bancik langsung tidak sabar menaiki rangkaian meski penumpang turun sangat ramai, yang untungnya dapat dikendalikan oleh PKD di lokasi. Tidak hanya itu, kepadatan penumpang KRL yang cukup tinggi di bancik jalur 1 sangatlah kontras dengan keadaan penumpang KA Ekonomi Lokal di peron rendah jalur 3 yang lebih lengang.

Sementara penumpang KA Ekonomi Lokal yang turun di Stasiun Cikarang sebagian keluar menggunakan celah di sisi utara, tetapi sebagian lainnya yang keluar melalui pintu selatan harus memutar ke sebelah barat emplasemen. Sejujurnya, ada keuntungan dan kerugian sendiri dengan dipisahnya aliran penumpang KA Ekonomi Lokal dikarenakan penumpang KA Ekonomi Lokal tidak harus berbaur dengan penumpang KRL yang sangat padat, tetapi penumpang Ekonomi Lokal juga sangat direpotkan karena harus berputar-putar melewati pagar.
Ketika penghuni asli bertemu dengan pendatang baru
Aktivitas simultan turun-naik KRL Commuter Line dan KA Ekonomi Lokal. Kepadatan penumpang KRL sangatlah kontras dengan kepadatan penumpang KA Ekonomi Lokal 

Kembali dari Cikarang


KRL seri 205 rangkaian BOO71 yang melayani KA 1415A tujuan Manggarai
Setelah usai beristirahat dan menjelajah di Stasiun Cikarang, Tim REDaksi kembali ke Jakarta menggunakan KA 1415A dengan KRL seri 205 rangkaian BOO71 tujuan Manggarai yang berangkat pada pukul 16.25, dengan melakukan pengamatan tambahan di stasiun-stasiun yang hasilnya telah dituliskan di atas. Akan tetapi, berbeda nasib dengan perjalanan dari Manggarai ke Cikarang, pada perjalanan kembali ke Manggarai, Tim REDaksi mendapat banyak jackpot berupa diinjak oleh empat KA Jarak Jauh. Dua kali di Stasiun Tambun yaitu KA Serayu Pagi dan Argo Bromo Anggrek Pagi, dan di Stasiun Bekasi yaitu Argo Parahyangan Premium dan Bogowonto.
Disusul oleh KA Argo Bromo Anggrek Pagi di Stasiun Tambun. Perhatikan lokomotif yang ada daun kering di kaca depannya
Liputan diakhiri dengan ketibaan Tim REDaksi dengan selamat di Stasiun Manggarai pada sekitar pukul 17.45. Jujur saja, seperti liputan KRL Rangkasbitung dulu, Tim REDaksi benar-benar remuk rasanya berdiri cukup lama di perjalanan. Tetapi semuanya tidak sebanding dengan kepuasan yang diperoleh bisa menikmati operasional KRL Cikarang di hari pertamanya.

Sekarang sudah memasuki hari kedua operasional KRL Cikarang dan hari pertama operasionalnya di hari kerja. Tentu saja besar harapan kita semua untuk pengoperasian KRL Cikarang kedepannya bisa senantiasa lancar, dengan kekurangan yang masih ada di hari pertama segera diperbaiki, sehingga dapat memenuhi tujuannya untuk meningkatkan mobilitas warga Bekasi Timur - Cikarang dan dapat mengurangi beban angkutan KA Lokal yang telah lama menjadi satu-satunya pilihan menggunakan KA ke Jakarta dengan adanya alternatif transportasi KRL Commuter Line, dengan jadwal yang semakin memadai pula mengingat okupansi yang sepertinya akan semakin meningkat.

Referensi Tambahan
Berita Satu

RED | 2017
Tim peliput: Arya Dwi Pramudita, Ikko Haidar Farozy
Ditulis oleh: Ikko Haidar Farozy

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment