testimoni

testimoni

O-Bahn Busway, Ketika BRT dan LRT Bersatu

Salah satu armada bus gandeng dari O-Bahn Busway | The Advertisor

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata Bus Rapid Transit atau BRT? Pikiran anda pasti langsung melayang ke bus Transjakarta atau BRT yang beroperasi di kota-kota besar lainnya di mana setiap bus memiliki rute yang spesifik dan perhentian yang jelas. Lalu bagaimana dengan Light Rail Transit atau LRT? Anda pasti langsung berpikir tentang rangkaian kereta yang lebih ringan dari kereta konvensional namun memiliki kapasitas lebih besar dari bus seperti tram.

Keduanya jelas berbeda, karena yang satu adalah bus dan satunya lagi kereta api. Namun keberadaannya tak dapat dipisahkan dalam sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi. Bagaimana jadinya jika konsep BRT dan LRT dijadikan satu? Ya inilah O-Bahn Busway yang beroperasi di Kota Adelaide, Australia Selatan. Bus BRT ini memadukan konsep BRT dan LRT dalam satu jalur yang sama.

Bus single yang digunakan sebagai armada O-Bahn Busway | Wongm's Rail Gallery

Sepintas bus BRT ini terlihat seperti bus biasa pada umumnya. Namun ketika anda melihat jalurnya anda akan berpikir sebaliknya. Jalur bus ini terlihat seperti jalur LRT di mana ban di kedua sisi bus berjalan di atas jalur beton bercelah. Karena memang awalnya jalur ini diperuntukan untuk LRT.

Sebelum O-Bahn Busway ada, pemerintah setempat tadinya hendak membangun jalur LRT di tempat yang sekarang menjadi jalur bus. Namun sayangnya proyek tersebut ditentang oleh warga setempat karena dinilai keberadaan LRT bisa menimbulkan suara bising hingga akhirnya proyek tersebut dihentikan. Di saat para ahli sedang mencari solusi alternatif pengganti LRT, pemerintah setempat berhasil menemukan jawaban atas permasalahan tersebut.

Solusi tersebut datang dari Jerman Barat. Sebuah sistem guided bus atau bus berroda pandu diciptakan oleh perusahaan otomotif, Daimler-Benz. Sistem bus berroda pandu tersebut kemudian diberi nama Omnibus Bahn atau disingkat O-Bahn. Sistem ini pertama kali diterapkan pada jalur bus-tram bawah tanah di Kota Essen, Jerman. Sistem ini kemudian diterapkan oleh Pemkot Adelaide pada 1989 sebagai pengganti LRT yang ditolak warga.




Armada bus yang saat ini digunakan sebagai bus berroda pandu di Adelaide adalah bus gandeng dan bus single. Jika bus ini berjalan di jalan raya, sepintas terlihat sama saja seperti bus gandeng pada umumnya. Namun ketika bus sudah memasuki intersection terlihatlah perbedaannya.

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda bus, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur.

Roda pandu yang berada di roda depan bus | Amusing Planet

Terdapat 2 interchange yang juga menjadi halte tujuan akhir dari Adelaide O-Bahn Busway, yakni Klemzig Interchange dan Paradise Interchange yang terhubung dengan jalur busway sepanjang 12 kilometer. Meski jalurnya dibuat bercelah, ternyata hal tersebut tidak mencegah para pelanggar untuk masuk ke jalur busway.

Ada saja pelanggar yang masih nekat untuk masuk ke jalur busway. Ada yang berhasil, ada pula yang terperosok ke celah beton yang ada di jalur. Para pelanggar kebanyakan melewati jalur busway karena ingin mempersingkat waktu tempuh. Namun ada pula yang tidak sengaja masuk jalur busway karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Ada-ada saja pelanggar jaman now.

Pelanggar yang mobilnya terperosok ke celah beton di jalur O-Bahn Busway | Adelaide Now

RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment