testimoni

testimoni

Berwisata Sekaligus Fotografi Sepur di Kampung Warna-Warni Malang

Langsiran rangkaian KA Gajayana dengan latar depan Kampung Tridi
Siapa sih yang tidak kenal kampung warna-warni di Malang? Ya, kampung warna-warni yaitu Kampung Warna Jodipan dan Kampung Tridi ini menjadi tempat wisata yang ngehitz dikarenakan berhasil menghilangkan image mereka yang awalnya sebuah perkampungan padat penduduk yang kumuh menjadi perkampungan berwarna-warni nan indah yang mampu mempesona para wisatawan yang sedang mengunjungi Kota Malang.

Tapi sesungguhnya keindahan kampung warna-warni di Malang tidaklah sebatas nuansa warna-warni perkampungannya saja. Wilayah perkampungan ini juga menyimpan potensi keindahan fotografi kereta api berkat lokasinya yang sangat dekat dengan petak rel KA Malang - Malang Kota Lama dengan pandangan yang sempurna tanpa halangan, yang sungguh sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan oleh para railfans.

Penasaran bagaimana keindahan kampung warna-warni Malang sekaligus potensi fotografi kereta api apa saja yang bisa diperoleh sambil berwisata di Kampung ini? Simak terus liputannya, hanya di RE Digest!

Sejarah Singkat Kampung Warna-Warni Malang

Kampung Warna Jodipan (kiri) dan Tridi (kanan) dilihat dari atas rangkaian KA di jembatan. Di antara mereka terlihat jelas Jembatan Kaca Ngalam yang baru saja dioperasikan

Kelahiran konsep kampung warna-warni ini sesungguhnya telah dimulai dari tahun 2016 silam. Pada awalnya, kedua kampung yang terbelah oleh Sungai Brantas yaitu Kelurahan Jodipan di sisi selatan dan Kelurahan Kesatrian di sisi utara ini adalah kampung yang terkenal akan keadaannya yang sangatlah kumuh.
Keadaan Kampung Jodipan (kanan) dan Kampung Tridi (kiri) di masa lalu | Foto: Kisekii
Akan tetapi segalanya berubah dengan ide dari kelompok Guyspro yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kemudian bekerjasama dengan salah satu produsen cat ternama yaitu Indana untuk melaksanakan kegiatan corporate social responsibility (CSR) untuk mengubah image kampung dari yang kumuh menjadi kampung yang cantik dan bersih, serta menciptakan kesadaran warga akan kebersihan.

Kegiatan mewarnai Jodipan ini pun dilaksanakan pada bulan Mei 2016 dengan melibatkan warga Jodipan, Paskhas TNI-AU, komunitas mural Komunitas Turu Kene, di mana para warga berlomba-lomba mengecat rumah mereka agar terlihat unik dari tetangganya, dengan tujuan utama untuk membuat kampung mereka menjadi jauh lebih berwarna dan bersih. Proses pengecatan memakan waktu dua bulan, dan Kampung Warna Jodipan ini diresmikan pada September 2016.

Tak mau kalah, Kelurahan Kesatrian di seberang juga terinspirasi untuk mewarnai kampung mereka. Akan tetapi, kelurahan ini mempunyai ide mereka sendiri yaitu menitikberatkan pada pembuatan lukisan tiga dimensi demi menimbulkan daya tarik tersendiri di kampung ini. Lukisan tiga dimensi ini juga yang menginspirasi penamaan Kampung Tridi.

Ide tema lukisan tiga dimensi ini digagas oleh Eddy Suprianto yang sekaligus juga menyiapkan gambar-gambar tiga dimensi bersama rekannya Tholib, dengan total gambar yang disiapkan mencapai 80. Gambar-gambar ini kemudian dilukiskan di kampung ini oleh masyarakat yang kebanyakan berpengalaman dalam melukis tembok, yang juga ikut dibantu oleh pihak yang sama dengan yang sebelumnya membantu pengecatan Kampung Warna Jodipan. Pengecatan atap rumah di Kampung Tridi juga berbeda karena menganut konsep gradasi warna, sedangkan pada Kampung Warna Jodipan pewarnaannya lebih acak.


Tak disangka, setelah foto kampung yang telah bertransformasi ini kemudian viral di media sosial, seketika kampung ini menjadi objek wisata yang diburu oleh wisatawan yang berkunjung ke Malang. Tidak hanya itu, kampung ini bahkan terkenal hingga dunia. Bahkan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson pun pernah berkunjung ke sini. 

Sementara itu, pemkot Malang juga mencangangkan ide untuk membuat jembatan penghubung agar warga Kampung Tridi dan Kampung Warna Jodipan dapat dengan lebih mudah menyeberangi Sungai Brantas. Akhirnya mulai dibangunlah jembatan kaca yang didesain oleh mahasiswa Teknik Sipil Mahatma Aji dan Khoirul di bawah bimbingan dosen mereka ini dengan peletakan batu pertama pada Mei 2017 oleh Wali Kota Malang Moch. Anton dan VP Indana Steven Antonius Sugiharto, dengan peresmian jembatan ini dilakukan pada bulan Oktober 2017.

Berwisata di Kampung Warna-Warni


Sebelum membahas mengenai berwisata di kampung warna-warni Malang, tentu saja kita perlu tahu dulu lokasinya dong. Lokasi kampung warna-warni Malang ini terletak di tepian Sungai Brantas di Klodjen, Malang, yang letaknya sangat berdekatan dengan Stasiun Malang. Pembaca yang baru turun dari KA di Stasiun Malang dan mungkin sudah sangat bersemangat ke sini bisa saja langsung tancap gas ke kampung ini dengan berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah selatan hingga menemukan jembatan jalan raya, dengan perkampungan tersebut berada di sebelah kiri jalan di bawah jalan raya.

Terdapat dua pintu masuk menuju kampung warna-warni ini di jalan raya yaitu Jalan Gatot Subroto. Pintu pertama dari arah Stasiun Malang (sisi utara jembatan) adalah pintu masuk ke Kampung Tridi, sedangkan pintu kedua dari arah Stasiun Malang (sisi selatan jembatan) adalah pintu masuk ke Kampung Warna Jodipan. Selain itu kedua kampung ini dihubungkan juga dengan sebuah jembatan kaca yang berada di dalam.

Harga tiket masuk Kampung Tridi adalah Rp 2.500 per orang, sementara tiket masuk Kampung Warna Jodipan adalah Rp 2.000 per orang. Uniknya, pengunjung bukan diberikan tiket sebagai tanda bukti masuk, melainkan suvenir yang pada saat Tim REDaksi mengunjungi kampung ini di awal November ini adalah gantungan kunci di Kampung Tridi dan stiker di Kampung Warna Jodipan.

Jika pembaca sudah mempunyai suvenir tanda masuk dari salah satu kampung, lalu berpindah ke kampung lain (dan membayar tiket masuknya) dan ingin kembali ke kampung yang pertama didatangi, cukup menunjukkan suvenir yang didapat maka pembaca tidak perlu lagi membeli tiket masuk. Selain itu jika sudah memiliki suvenir tanda masuk dari kedua kampung, maka pembaca dapat bebas secara gratis bolak-balik antara kedua kampung selama di dalam hari yang sama dengan cukup menunjukkan suvenir pada warga yang menjaga pintu masuk.

Kampung Warna Jodipan (KWJ)


Tim REDaksi mengawali kunjungan dengan mengunjungi Kampung Warna Jodipan. Setelah membayar tiket masuk dari pintu masuk di jalan raya, Tim REDaksi disambut oleh dua gang yang bercabang, di mana gang sebelah kiri akan mengarah ke "balkon" di bawah jembatan jalan raya (Jalan Gatot Subroto), dan juga terdapat warung yang tepat berada di depan pertigaan bernama "Rest Area" yang keduanya terdapat spot memotret kereta yang sangat bagus yang akan segera dibahas kemudian, sedangkan gang sebelah kanan akan mengarah ke dalam Kampung Warna Jodipan.
Pemandangan panorama dari "balkon" Kampung Warna Jodipan. Terlihat jelas Kampung Tridi di seberang
"Rest Area" di Kampung Warna Jodipan
Karena pada saat Tim REDaksi datang jadwal KA sedang sepi-sepinya, diputuskan untuk menjelajahi keindahan Kampung Warna Jodipan terlebih dahulu sambil menelusuri spot-spot yang potensial. Berjalan mengikuti gang dan menuruni tangga, lalu kemudian kembali berbelok ke kanan, Tim REDaksi disuguhi dengan pemandangan payung yang digantung di gang yang menjadi tempat yang populer bagi wisatawan untuk berfoto-foto ria.

Lanjut berjalan, akan ada pertigaan tanjakan di mana jika pengunjung berbelok ke kiri mengikuti turunan maka pengunjung akan sampai ke tepi sungai Brantas, sedang jika berbelok ke kanan, pengunjung akan menaiki tanjakan yang berujung pada pintu masuk Kampung Warna Jodipan di jalan Juanda. Di ujung atas tanjakan ini terdapat beberapa figur gantung yang sekilas mirip dengan boneka pawang hujan di Jepang yaitu teruterubozu.
Pemandangan payung digantung yang berada di gang pertama Kampung Warna Jodipan
Sedang mengintip~
Dua orang wisatawan yang sedang berpose untuk berpotret di ujung atas tanjakan dengan figur gantung mirip teruterubozu
Turunan menuju tepi Sungai Brantas dengan dua orang wisatawan sedang menaiki tangga.
Selain itu di dekat sini juga ada musala, yang dapat diakses baik dengan menggunakan gang yang ada di dekat pertigaan dengan gang pertama, ataupun dengan gang yang berada di ujung turunan yang berada di sebelah kanan jika datang dari atas. 

Tiba di ujung turunan, Tim REDaksi tiba di tepi Sungai Brantas dan langsung disuguhkan dengan pemandangan berupa mural sayap malaikat, infografis sejarah Kampung Warna Jodipan, dan tentu saja jembatan kaca serta Kampung Tridi yang terletak di seberang sungai.
Infografis sejarah Kampung Warna Jodipan
Jembatan Kaca Ngalam dan Kampung Tridi dilihat dari tepian Sungai Brantas di sisi Kampung Warna Jodipan | Foto: Liputan 6

Jembatan Kaca Ngalam

Para wisatawan yang memadati Jembatan Kaca Ngalam
Berlanjut dari tepian Sungai Brantas, Tim REDaksi pun mengakses dek jembatan ini dengan menaiki tangga yang berada dekat dengan infografis sejarah Kampung Warna Jodipan, di mana dapat ditemui warga yang menjaga pintu masuk Kampung Warna Jodipan dari arah jembatan.

Jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Kaca Ngalam ini mempunyai bagian pinggir konstruksi baja dengan bagian tengahnya benar-benar kaca transparan seperti jembatan Zhangjiajie di Republik Rakyat Tiongkok. Jembatan ini boleh jadi memang lebih kecil bagian kacanya dibandingkan dengan yang di RRT, tetapi tetap saja merupakan sensasi tersendiri ketika melihat ke bawah melalui kaca karena langsung disambut dengan Sungai Brantas yang berada tepat di bawah, apalagi kalau memang sedang menginjak langsung kacanya.

Dari jembatan ini juga pembaca dapat memotret kereta api yang melintasi jembatan yang posisinya tepat ada di sebelah timur, yang akan dibahas kemudian.

Sungai Brantas dilihat dari atas jembatan kaca
Apa yang difoto oleh orang ini ya?
Tidak terlalu jauh berjalan menyusuri jembatan menuju arah utara dan kemudian menuruni tangga yang ada di ujung seberang, Tim REDaksi tiba di Kampung Tridi, dan langsung menemui warga yang menjaga pintu masuk Kampung Tridi dari arah jembatan kaca.

Kampung Tridi

Tulisan "KAMPUNG 3D" di pintu masuk Kampung Tridi dari arah Jalan Gatot Subroto
Sesuai yang telah diceritakan di bagian sejarah, Kampung Tridi membedakan diri mereka dari Kampung Warna Jodipan dengan banyaknya lukisan tiga dimensi yang dibuat dengan efek yang sangat menarik.

Tim REDaksi datang ke Kampung Tridi dari arah Kampung Warna Jodipan, tepatnya dari jembatan kaca dengan membayar biaya masuk pada warga yang menjaga di sana. Selain melalui jembatan kaca, Kampung Tridi juga dapat dimasuki dari arah Jalan Gatot Subroto, yang lebih direkomendasikan jika membawa motor untuk mengunjungi kedua kampung ini karena terdapat tempat parkir di sana. Panduan arah yang akan disampaikan berikut berlaku untuk yang tiba dari arah Jembatan Kaca Ngalam.

Dari arah jembatan tepat setelah membayar biaya masuk, Tim REDaksi disambut oleh pertigaan. Gang yang mengarah ke kiri mengarah masuk gang bagian bawah yang jika ditelusuri terus tepatnya ke arah musala, maka akan dapat ditemukan salah satu mural yang menarik terutama bagi para railfans karena merupakan lukisan dari lokomotif CC203 menarik rangkaian K2!
Suasana dari gang bagian bawah Kampung Tridi 
Tidak disangka-sangka ternyata ada juga mural yang berkaitan dengan KA yang melukiskan sebuah lokomotif CC203 dengan rangkaian K2
Jika diperhatikan lebih dekat maka tulisannya ternyata adalah CC 203 3D
Sedangkan tangga yang lurus akan mengarah gang bagian atas Kampung Tridi. Di sini dapat ditemukan banyak lukisan tiga dimensi dan juga rumah penduduk yang dicat warna-warni. Menariknya, rumah-rumah penduduk yang berada di sisi timur gang ini sebagian besar mempunyai tanda aset milik PT KAI.
Suasana di gang bagian atas Kampung Tridi
Tanda aset milik PT KAI
Salah satu dari sekian banyak lukisan tiga dimensi yang terdapat di Kampung Tridi
Selain dari pertigaan di ujung jembatan, gang bagian bawah dapat diakses dari gang bagian atas dengan melalui salah satu lorong yang letaknya dekat dari pintu masuk Kampung Tridi dari Jalan Gatot Subroto dan juga lukisan CC203, yang juga Tim REDaksi gunakan untuk menuju bagian atas setelah memuaskan diri di bagian bawah. Lorong ini berada di sebelah kiri jika datang dari arah jembatan dan sebelah kanan jika datang dari arah Jalan Gatot Subroto. Gang bagian bawah dapat diakses dengan menuruni lorong ini.
Jalan akses menuju gang bagian bawah yang tidak jauh dari lukisan CC203. 
Tim REDaksi menyudahi kunjungan di Kampung Warna Tridi dengan keluar melalui pintu masuk di Jalan Gatot Subroto untuk kembali ke tempat menginap.

Spot Fotografi Kereta Api 

Tentu saja tidak hanya berwisata keliling kampung warna-warni. Bukan Railway Enthusiast Digest namanya jika Tim REDaksi juga tidak kemudian mengeksplorasi potensi fotografi KA yang bisa dilakukan di wilayah ini, apalagi sudutnya sangatlah sempurna dengan halangan yang minim.

Berikut adalah jabaran dari spot-spot fotografi KA yang Tim REDaksi dapat rekomendasikan dari hasil penelusuran selama di kampung warna-warni Malang. Kebanyakan spot yang Tim REDaksi temu terdapat di sisi Kampung Warna Jodipan karena dari sisi inilah dapat terlihat rel KA dengan jelas. 

Jembatan Jalan Raya Gatot Subroto

Sudut pandang KA dari jembatan Jalan Raya Gatot Subroto di kala Kampung Tridi belum diperindah | Foto: Aditya Ari RFC via Youtube
Spot yang sangat umum digunakan ini letaknya sangat mudah diakses karena tidak harus masuk ke dalam Kampung Warna Jodipan. Cukup berjalan kaki di sisi timur jembatan (sisi kiri jalan jika dari Stasiun Malang) hingga tiba di bagian tengah jembatan. 

Dari sini pembaca dapat memotret aktivitas KA yang sedang berlalu-lalang di atas jembatan KA, dengan pemandangan kedua kampung yaitu Kampung Warna Jodipan dan Kampung Tridi serta Sungai Brantas yang membelah kedua kampung tersebut terlihat secara sangat jelas. Selain itu, dengan pengambilan sudut yang tepat dan dengan kedatangan kereta yang rangkaiannya pendek seperti Penataran dan Tawang Alun, maka pembaca dapat memotret satu rangkaian full dari samping.

Rangkaian KA Tawang Alun melintasi jembatan menuju Stasiun Malang di kala Jembatan Kaca Ngalam belum ada | Foto: Dhannie Setiawan via Youtube

"Balkon" dan "Rest Area"

Aktivitas langsiran KA Gajayana
Jika sebelumnya spot yang disebutkan berada di luar wilayah Kampung Warna Jodipan, maka spot yang satu ini letaknya berada di dalam wilayah Kampung Warna Jodipan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, letaknya mudah diakses karena tinggal berbelok ke kiri dari pintu masuk hingga menemukan "balkon" yang ada di bawah jembatan jalan raya Gatot Subroto. Sementara jika pembaca memasuki sebuah warung, maka pembaca akan tiba di "Rest Area".

Jika dari atas jembatan Jalan Gatot Subroto pembaca dapat memotret aktivitas KA dengan pemandangan panorama Kampung Warna Jodipan dan Kampung Tridi yang terbelah Sungai Brantas, dari sini pembaca akan lebih terfokuskan ke pemandangan panorama Kampung Tridi beserta bukit yang ada di belakangnya.

Dari "balkon", pembaca dapat memotret aktivitas pergerakan KA yang melintas tepat berada di atas bukit yang berada di belakang Kampung Tridi, dengan sudut pandang yang cukup lebar sampai KA akan melintasi jembatan dikarenakan adanya turap. Sementara untuk KA yang berada di atas jembatan, pemandangan Kampung Tridi dan Sungai Brantas dapat terlihat, namun Kampung Warna Jodipan dan Jembatan Kaca Ngalam akan sedikit terhalang oleh bangunan yang ada.

Lokomotif yang sedang bergerak sruntulan menuju Stasiun Malang
Sebuah kontras: Keseragaman warna KA Indonesia pada KA Penataran dengan gradasi warna-warni Kampung Tridi
Dan rangkaian yang sama ketika sedang melewati jembatan KA menuju Stasiun Malangkota Lama













Sementara ketika pembaca memotret aktivitas KA dari "Rest Area", dikarenakan tempatnya yang lebih tinggi meski sudut pandangnya hampir sama, tidak hanya pemandangan Kampung Tridi dan bukit serta KA di atasnya yang bisa terlihat, tetapi ketika memotret KA yang melintas jembatan, juga tampak pemandangan Jembatan Kaca Ngalam dan juga Kampung Warna Jodipan secara lebih jelas. Akan tetapi, Sungai Brantas justru sedikit terhalang dari sudut ini.

Dan tentu saja, karena sudut pandang dari spot ini sangatlah luas, sangat dimungkinkan untuk mendapat satu rangkaian full untuk rangkaian kereta yang cukup pendek.
KA Malabar baru saja bertolak dari Stasiun Malang menuju Stasiun Bandung
Rangkaian KA Tawang Alun bersiap memasuki Stasiun Malang untuk menuju Banyuwangi Baru
Rangkaian KA "Argo Ketel" menuju Stasiun Benteng, Surabaya | Foto: Rizkyandi Kasih Muhammad Ilham
Rangkaian KA Malioboro Ekspres dengan lokomotif CC2030107 memasuki Stasiun Malang
Seakan jembatan bertingkat - Lokomotif CC201 sruntulan di atas jembatan KA dengan Jembatan Kaca Ngalam di tengah


Jembatan Kaca Ngalam

Rangkaian KA Penataran dihela lokomotif CC2018349 memasuki Stasiun Malang
Bergerak ke bagian dalam perkampungan, terdapat Jembatan Kaca Ngalam yang seperti telah disebutkan sebelumnya letaknya berada di antara Kampung Tridi dan Kampung Warna Jodipan, yang juga cukup dekat dengan letak jembatan KA.

Dari spot ini, pembaca dapat melihat KA yang melintas di atas jembatan dari bawah dengan sudut agak miring, dengan pilar jembatan yang dicat berwarna-warni, dengan pemandangan yang dapat dilihat adalah atap-atap rumah penduduk yang ada di bagian timur Kampung Warna Jodipan dan Kampung Tridi, dan dengan pengambilan sudut dan zoom yang tepat, juga Sungai Brantas tepat dari atasnya.

Dikarenakan aktivitas wisatawan di sini cukup padat, selalu perhatikan keadaan sekitar ketika saat mengambil foto agar pergerakan kita tidak mengganggu orang lain apalagi sampai bertubrukan.

Rangkaian KA Gajayana memulai perjalanan panjangnya Stasiun Jakarta Gambir | Foto: Yogatamma Prasetyo
Lokomotif CC2018308 sedang sruntulan menuju Stasiun Malang

Tepi Sungai Brantas

KA Penataran ditarik lokomotif CC2018348







Sementara itu, spot tepi Sungai Brantas ini terdapat di sisi Kampung Warna Jodipan, yang dapat diakses dengan mengikuti aliran Sungai Brantas dan melewati bagian bawah jembatan sampai tiba di dekat perahu yang sedang dibangun. Di sini pembaca dapat mengatur framing foto di mana KA berada di atas jembatan, sedangkan pembaca diapit di tengah-tengah bangunan dari kedua kampung.

Akan tetapi, Tim REDaksi belum sempat mencoba untuk memotret dari sisi Kampung Warna Tridi dikarenakan keterbatasan waktu dan juga tempat berpijak di dekat jembatan di tepian Sungai Brantas di sisi Kampung Warna Tridi lebih sempit daripada yang berada di sisi Kampung Warna Jodipan, sehingga lebih riskan.

Dari spot ini juga pembaca tidak hanya dapat memotret aktivitas KA saja, tetapi juga aktivitas bus yang sesekali melintas jembatan jalan raya Gatot Subroto dari bawah jembatan. Kebanyakan bus yang melewati jalan ini adalah bus pariwisata meski tidak menutup kemungkinan juga adanya bus AKAP/AKDP, yang sayangnya Tim REDaksi tidak sempat foto dikarenakan keterbatasan waktu.
Bus Malang City Tour berhenti sebentar di atas jembatan jalan raya Gatot Subroto untuk memberikan kesempatan wisatawan memotret
Demikianlah panduan singkat berwisata sekaligus juga menikmati fotografi KA di wilayah kampung warna-warni di Malang yaitu Kampung Warna Jodipan dan Kampung Tridi. Semoga dapat bermanfaat bagi para railfans yang ingin berwisata di Malang. Selamat berwisata, selamat menikmati keindahan kampung warna-warni, dan selamat berfotografi sepur!


Referensi tambahan


Infografis Sejarah Kampung Warna Jodipan
Travelling.web.id
Nnoart 
Liputan 6
Blog Reservasi
Kompasiana

RED| Ikko Haidar Farozy

About Ikko Haidar Farozy

Hanya orang biasa yang juga menulis di RE-Digest.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment