testimoni

testimoni

Rangkaian KRL Tidak Terpakai Mulai Dibesituakan

Salah satu kereta berkabin milik rangkaian 6113F yang telah dipotong-potong di Dipo Depok. Pemotongan kereta ini mengawali proses perucatan seabreg rangkaian KRL yang sudah tidak terpakai | Foto: Nugroho Febianto
Sebanyak 110 unit KRL tidak terpakai yang berada di tiga lokasi berbeda mulai dibesituakan (dirucat). Perucatan rangkaian-rangkaian KRL ini selain karena telah habis masa pakainya, juga untuk memberi tempat pada rangkaian lainnya yang mungkin akan habis masa pakainya ketika rangkaian-rangkaian pengganti yang lebih baru tiba di tanah air, serta untuk rangkaian-rangkaian yang lebih baru tersebut.

110 unit KRL tersebut tersebar sebanyak 72 unit di Stasiun Cikaum, Subang, Jawa Barat, 27 unit di Dipo Depok, dan 11 unit di Balai Yasa Manggarai. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku pemilik dari KRL-KRL tersebut tidak merucatnya sendiri, melainkan dilelangkan kepada perusahaan pihak ketiga yang bergerak di bidangnya. Pelelangan KRL-KRL tidak terpakai ini sudah dilakukan pada bulan lalu, namun proses perucatan baru dilakukan mulai bulan ini di dua tempat, yaitu Stasiun Cikaum dan Dipo Depok.

Di Dipo Depok, kereta pertama yang dirucat adalah salah satu kereta berkabin dari rangkaian 6113F. Perucatan kereta ini juga sekaligus perucatan pertama yang dilakukan kepada KRL eks Jepang. 6113F sendiri adalah rangkaian pembelian tahun 2013 yang hanya berdinas selama sekitar dua minggu sebelum menghilang akibat kerusakan komponen vitalnya. Sedangkan di Cikaum, kereta pertama yang dirucat merupakan salah satu kereta seri 6000 yaitu dari rangkaian 6112F.
Perucatan kereta tengah milik 6112 | Foto: Budi Surono
Sebuah hal yang menarik diperhatikan adalah perbedaan dari proses perucatan KRL di Jepang dan di Indonesia. Di Jepang, perucatan KRL dilakukan hampir seutuhnya dengan alat berat, di mana bodi bagian atas langsung diremukkan dengan alat pencapit, dengan proses pemotongan dengan las umumnya digunakan untuk membelah bodi kereta menjadi dua jika rangkaian harus dibawa ke tempat perucatan dengan menggunakan truk terlebih dahulu.
Ilustrasi proses perucatan KRL di Jepang dengan menggunakan alat berat | Foto: 2427junction
Sedangkan di Indonesia proses perucatan dilakukan dengan pengelasan secara manual. Meskipun hasilnya sama yaitu habisnya sosok kereta tersebut, tetapi dikarenakan di Indonesia pengelasan dilakukan di dinding terlebih dahulu, ketika dindingnya dipotong sampai tiga sisi, maka atap KRL langsung jatuh karena dinding yang tersisa tidak dapat menahan berat. 

Perucatan rangkaian-rangkaian KRL ini juga menjadi perhatian pecinta kereta di negeri asal KRL-KRL ini, yaitu Jepang. Ketika berita tentang perucatan ini tersebar, berbagai reaksi pun muncul dari pecinta kereta di Jepang. Banyak di antara mereka yang sedih, marah, bahkan ada juga yang bernada meledek karena KRL yang dirucat merupakan barang berteknologi tua.

Dalam kehidupan makhluk ciptaan Tuhan, dikenal yang namanya kelahiran dan kematian. Pun begitu dengan barang buatan manusia, terdapat juga kelahiran dan kematian. Siklus ini sudah menjadi kodrat dari sebuah kehidupan, di mana setiap sesuatu yang dilahirkan hanyalah untuk mengantri dan menunggu giliran kematiannya. Tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang. Seperti 6112F dan 6113F yang hanya bisa bertahan sangat sebentar di tanah air sebelum langsung mati, padahal banyak saudara tuanya yang hidup lebih panjang.

Meski demikian, setidaknya untuk kasus 6113F, meski raganya telah habis, jiwanya tidak akan habis karena saat ini dua kereta tengahnya yaitu 6513 dan 6313 digabung di rangkaian 6115F menggantikan kereta aslinya yang rusak berat akibat kebakaran awal tahun 2015 lalu...

Rangkaian 6115F yang masih membawa separuh jiwa dari 6113F yakni 6513 dan 6313 hingga kini
RED | MPSCLFJRN | Ikko Haidar Farozy

About Muhammad Pascal Fajrin

Just a kid from yesterday, today. An early "two-headed age" young man with big dreams, and still trying to make those dreams come true. A romantic, loving, and caring person. Likes nasi goreng so much.
    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment