testimoni

testimoni

Beginilah Suasana Hari Pertama Uji Operasi Terbuka KA Bandara Soekarno-Hatta

SHARE
Rangkaian KA Bandara memasuki Stasiun BNI City
[27/12]. Bagaikan kado Natal dari Santa Claus, hari ini masyarakat Jakarta dan sekitarnya dapat merasakan perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan kereta api. PT Railink selaku operator melakukan launching perjalanan perdana uji operasi terbuka KA Bandara Soekarno Hatta di Stasiun BNI City pada pukul 4 pagi kemarin, 26/12.

Pada kesempatan kali ini Tim REDaksi dibagi menjadi dua tim, yaitu yang mencoba perjalanan pertama pada pukul 3.51 dini hari dan perjalanan pada siang hari pada pukul 12.51.

Tim REDaksi yang melakukan perjalanan pertama pada pukul 3.51 dini hari tiba di lokasi Stasiun BNI City pada pukul 2.55 dini hari setelah sebelumnya berputar-putar mengitari Jakarta dengan bus Transjakarta AMARI dan kemudian turun di halte Tosari ICBC dikarenakan halte ini yang paling dekat dengan Stasiun BNI City. Sedangkan yang berangkat di siang hari memulai perjalanan dengan menggunakan KRL Commuter Line menuju Stasiun Sudirman untuk kemudian berjalan menuju Stasiun BNI City.

Setibanya Tim REDaksi di Stasiun BNI City, Tim REDaksi disambut dengan pemandangan yang sejujurnya kurang mengenakkan. Plang penanda Stasiun BNI City di sisi pintu masuk kendaraan bermotor belum ada, dan akses pejalan kaki yang bisa dikatakan nihil, baik dari Stasiun Sudirman untuk pengguna KRL KCI dan Halte Tosari ICBC/Dukuh Atas 1 untuk pengguna bus Transjakarta. Bayangkan saja, selain trotoar di Jalan Kendal yang cukup kecil dan sering ada pedagang asongan, trotoar di dalam lingkungan Stasiun BNI City pun juga tidak membantu sama sekali dikarenakan minim sekali atap sampai mendekati pintu masuk stasiun, dan tidak ada signage untuk pejalan kaki yang jelas.
Akses Stasiun BNI City yang tidak ramah pejalan kaki sama sekali
Dan yang paling vital, tentu saja tidak adanya jalan akses yang langsung bisa menjangkau Stasiun BNI City dari Jalan Jenderal Sudirman sangat membuat repot karena calon pengguna jasa yang dari Jalan Sudirman harus turun ke Jalan Kendal dulu lalu kemudian berjalan ke pintu masuk lantai bawah. Sekarang bayangkan jika Stasiun Sudirman KCI saja punya padahal hanya melayani komuter, masa Stasiun BNI City yang pangsa pasarnya orang yang ingin ke bandara justru tidak ada?

Memasuki Stasiun BNI City, tampak situasi bagian dalam stasiun sudah hampir keseluruhannya siap dengan signage dan interior sudah tertata cukup rapi. Meski cukup disayangkan tenant yang akan berjualan di sana rata-rata belum siap, yang tampak dengan banyak toko yang masih dipasang "Coming Soon".

Calon pengguna jasa yang berjalan kaki dapat masuk dari lantai 1 stasiun untuk kemudian menaiki travelator menuju lantai 2, sedangkan yang dari parkiran masuk stasiun dari lantai 2 menggunakan pintu di ujung parkiran. Selanjutnya, calon pengguna jasa akan diarahkan ke lantai 3 menuju mesin ticketing, lalu kemudian kembali ke lantai 2 untuk menuju gate.

Concourse Stasiun BNI City
Uji operasi terbuka perdana ini ditandai dengan pengalungan bunga kepada penumpang pertama yang akan menaiki KA Bandara pada sekitar pukul 3.30 dan juga pemberian bunga mawar pada penumpang-penumpang pertama baik yang akan menaiki pemberangkatan pukul 3.51 ataupun 4.21.

Pengalungan bunga pada penumpang perdana KA Bandara 
Tim REDaksi yang berangkat pagi hari juga menjadi salah satu penumpang yang mendapat bunga mawar | Foto: Gilang Fadhli
Perjalanan kereta pertama dari Stasiun BNI City ke Bandara Soekarno Hatta diberangkatkan tepat pada pukul 3.51 dini hari. Dalam perjalanan pertama ini memang perjalanan kereta sangat sepi, tetapi dikarenakan itu jugalah Tim REDaksi menjadi sangat leluasa memotret baik stasiun ataupun interior KA Bandara. Tim REDaksi yang berangkat pagi hari menaiki KA Bandara perjalanan kedua pada pukul 4.21 pagi dikarenakan terhambat pada saat melakukan pembayaran tiket untuk jam keberangkatan 3.51. Sementara itu, Tim REDaksi yang berangkat di siang hari menaiki KA Bandara pada pukul 12.51.

Sementara itu, seiring berjalannya hari, penumpang pun semakin ramai. Bahkan untuk beberapa perjalanan kereta kursi terisi penuh oleh penumpang. Meskipun tiket kereta dapat dipesan secara online melalui aplikasi Railink yang dapat digunakan di ponsel pintar, namun masih banyak penumpang yang membeli tiket di loket. Mesin tiket yang hanya menerima pembayaran menggunakan uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit membuat sejumlah penumpang yang tadinya ingin membayar menggunakan uang cash kebingungan.

Tidak itu saja, pada jam-jam pemberangkatan perdana di dini hari, pembayaran menggunakan uang elektronik selain BNI belum bisa dilakukan, sehingga Tim REDaksi yang menjajal perjalanan dini hari pun sempat terhambat dikarenakan tidak bisa membayar tiket KA Bandara dikarenakan hanya mempunyai uang elektronik dari Bank Mandiri, sehingga harus dibayarkan seorang rekan Tim REDaksi yang kebetulan punya kartu debit. Dikarenakan hambatan inilah Tim REDaksi yang sedianya akan menaiki pemberangkatan pukul 3.51 harus menaiki pemberangkatan berikutnya pukul 4.21.

Penumpang yang mengantri di depan mesin tiket di Stasiun BNI City
Tiket kereta Bandara Soekarno Hatta
Kebanyakan penumpang yang naik adalah mereka yang penasaran dengan perjalanan KA Bandara Soekarno Hatta. Namun ada juga penumpang yang memang bertujuan untuk keluar kota ataupun luar negeri dari bandara dan memilih kereta api sebagai moda transportasi menuju bandara.

Di hari pertama ini kereta hanya menaik-turunkan penumpang di dua stasiun yakni BNI City dan Bandara Soekarno-Hatta. Namun sayangnya hal ini tidak tersosialisasikan dengan baik sehingga banyak penumpang yang ingin naik dari Batuceper maupun Duri terpaksa naik KRL hingga Stasiun Sudirman untuk menuju BNI City.

Setengah jam sebelum kereta yang Tim REDaksi naiki memasuki Stasiun BNI City, para penumpang sudah memadati gate masuk peron yang terletak di lantai 2. Ketika penumpang sudah diperbolehkan masuk, banyak dari mereka yang kebingungan cara untuk tap in sehingga harus memanggil petugas untuk meminta tolong.

Gate di Stasiun BNI City
Setelah tap in, penumpang turun ke lantai 1 untuk menuju peron. Penumpang terlihat begitu antusias ketika kereta tiba di stasiun. Banyak penumpang yang mengabadikan kedatangan kereta menggunakan telepon genggam milik mereka. Ketika kereta berhenti dan pintu dibuka, penumpang langsung menyerbu bangku-bangku yang ada.

Penumpang saat memasuki kereta di Stasiun BNI City
Suasana di dalam kereta begitu ramai karena bertepatan dengan momen liburan sekolah dan cuti bersama Natal. Mayoritas penumpang naik bersama dengan keluarga mereka. Penumpang terlihat begitu menikmati perjalanan di dalam kereta. Ada juga yang berfoto-foto dan selfie di dalam kereta.

Penumpang yang sedang menikmati perjalanan menggunakan KA Basoetta

Dua orang penumpang yang tengah berfoto di dalam rangkaian kereta

Kereta berhenti di Duri tanpa membuka pintu menunggu masinis berganti kabin. Terlihat proses pembangunan peron di jalur 4 masih dilakukan untuk mengakomodir penumpang yang akan naik maupun turun dari Stasiun Duri. Kereta juga berhenti di Stasiun Batuceper selama beberapa menit.

Selepas Stasiun Batuceper, pemandangan di Lintas Batuceper-Bandara terlihat begitu menarik. Seperti ketika kereta melewati tikungan tajam untuk menaiki fly over Jl. Daan Mogot. Atau hamparan sawah sejauh mata memandang saat kereta akan memasuki bandara. Namun yang paling menarik bagi penumpang adalah ketika kereta melintas di belakang hangar milik anak perusahaan Garuda Indonesia di bidang keteknikan pesawat, GMF AeroAsia.

Ketika kereta melewati jalur di belakang workshop GMF para penumpang begitu senang melihat pesawat yang terparkir di sana. Beberapa di antaranya juga mengabadikannya menggunakan telepon genggam mereka.

Seorang penumpang saat memotret hanggar GMF AeroAsia dari dalam kereta
Tim REDaksi yang berangkat di pagi hari tiba di Stasiun Soekarno-Hatta pada pukul 5.21 pagi, terlambat 3 menit dari jadwal, sedangkan yang berangkat siang hari tiba di sana pada pukul 13.56. Setibanya di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta penumpang langsung menyerbu gate untuk keluar dari stasiun. Karena gate keluar dan masuk di Stasiun Basoetta menyatu, jadi gate harus digunakan secara bergantian.

Alhasil antrian panjang penumpang yang ingin masuk pun tak terelakkan karena mereka harus mengalah dengan yang keluar. Ketika petugas pengamanan stasiun memperbolehkan penumpang masuk untuk tap in, aksi "banzai" pun dilakukan.

Di mesin pemesanan tiket, terlihat banyak penumpang yang mengantre baik untuk membeli tiket maupun mencetak tiket yang dibeli secara online. Sebenarnya di Stasiun Basoetta ada 7 mesin tiket di mana 3 ditempatkan di lantai bawah dan 4 di lantai atas. Namun sayangnya penumpang menumpuk di mesin tiket di lantai bawah karena tidak tahu kalau ada mesin tiket lain di lantai atas karena informasi yang tidak jelas.

Penumpang yang tap out di Stasiun Basoetta

Antrian penumpang yang hendak tap in di Stasiun Basoetta
Menurut pendapat salah satu anggota Tim REDaksi, Stasiun Basoetta merupakan stasiun yang "selfieable" dan "Instagramable". Itu dikarenakan arsitektur bangunan stasiun yang modern dan futuristik sehingga memberikan kesan seolah-olah sedang berada di luar negeri sehingga stasiun ini memang cocok untuk dijadikan tempat selfie.

Gate pada Stasiun Bandara Soekarno-Hatta di pagi hari
Pintu menuju APMS Soekarno-Hatta
Saat Tim REDaksi berkunjung ke Stasiun Bandara Soekarno-Hatta, sedang dilakukan konstruksi di kawasan integrated building sehingga akan sedikit mengganggu penumpang yang hendak menggunakan Skytrain untuk menuju Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3. Selain itu signage yang dipasang agak kurang jelas karena beberapa tulisan menggunakan kombinasi warna biru gelap dan hitam. Selain itu informasi yang disampaikan signage seperti lokasi musala tidak jelas sehingga membingungkan penumpang. 

Setelah puas mengamat Stasiun KA Bandara, Tim REDaksi kemudian melanjutkan perjalanan ke APMS Skytrain Bandara Soekarno-Hatta yang berada di Integrated Building yang berada persis di sebelah Stasiun KA Bandara. Memang beberapa bulan sebelumnya Tim REDaksi sempat mencoba APMS di awal operasinya ketika baru melayani Terminal 2 dan 3, tetapi sekarang tampak kemajuan yang sangat signifikan di mana sistem APMS telah lengkap operasional dari Terminal 1 hingga 3 termasuk ke Integrated Building yang tersambung dengan Stasiun KA Bandara. Tidak itu saja, jam operasional APMS pun sudah meningkat jauh di mana APMS beroperasi dari pukul 4 pagi dari Integrated Building hingga tengah malam, menyesuaikan dengan jadwal ARS.

Interior Integrated Building yang masih ada beberapa pengerjaan konstruksi
Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi di sistem APMS setelah beberapa bulan, di mana bangunan dipo APMS masih dibangun, pun juga dengan jembatan penghubung Terminal 2 dengan Stasiun APMS Terminal 2. Namun satu hal yang menarik untuk diperhatikan, rangkaian APMS yang berjalan kali ini adalah TS2 dengan nomor sarana K1 1 17 03-04, bukan TS1 (K1 1 17 01-02) yang biasanya berlangganan jalan.

K1 1 17 04 di APMS TS2
Karena kebetulan APMS ini terintegrasi dengan stasiun kereta bandara di Integrated Building, banyak pula penumpang kereta bandara yang turut menaiki APMS baik untuk memuaskan rasa penasaran mereka ataupun hanya sekedar melihat-lihat pesawat dari atas APMS.

Tim REDaksi yang berangkat di pagi hari pun mengakhiri perjalanan dengan menaiki bus untuk pulang setelah menikmati sesi planespotting kecil-kecilan. Sedangkan Tim REDaksi yang berangkat di siang hari melakukan sedikit hunting bus kecil-kecilan di Terminal 3 sebelum pulang kembali menggunakan kereta.

Dari catatan Tim REDaksi, masihlah banyak hal yang dapat diperbaiki baik dari segi stasiun dan operasional. Di sisi stasiun, untuk Stasiun BNI City yang paling jelas tentu saja adalah signage untuk mengarahkan pejalan kaki, penyediaan atap untuk pejalan kaki, dan penimbangan untuk membuat jalur akses yang langsung dari Jalan Jenderal Sudirman. Sementara di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta juga diperlukan peningkatan signage untuk mengarahkan pengguna jasa ke toilet, musala, dan juga mesin tiket tambahan yang berada di lantai 2.

Selain itu, keputusan untuk meniadakan pilihan pembayaran dengan uang tunai/cash haruslah dipertimbangkan lagi, apalagi banyak sistem KA Bandara di luar negeri yang masih menyediakan pilihan membayar dengan uang tunai yang dapat memberikan alternatif bagi orang yang tidak mempunyai uang elektronik atau kartu bank. Selain itu, permasalahan teknis pembayaran dengan uang elektronik selain BNI di awal hari pertama (Meski seharusnya sudah diatasi sekarang) semestinya diinformasikan dari awal agar tidak menimbulkan kejutan yang tidak menyenangkan.

Dan yang terpenting, Tim REDaksi sepenuhnya berharap operasional KA Bandara di Jakarta ini dapat senantiasa handal terlebih di Lintas Lingkar dan Lintas Tangerang yang sudah padat. Peluang terjadinya gangguan harus diminimalisir baik sarana ataupun prasarana, dikarenakan pengguna jasa KA Bandara tentu saja sebagian besar adalah orang yang memang mengejar pemberangkatan pesawat yang tiketnya bisa sangat mahal. Semoga.

RED | Bayu Tri Sulistyo | Ikko Haidar Farozy

About Bayu Tri Sulistyo

    Facebook Comment
    Google+ Comment

0 komentar:

Post a Comment