testimoni

testimoni

Rencana Subway di Jakarta Sudah Ada Sejak 1964

SHARE
Foto: MRT Jakarta
Warga ibukota tentunya tidak asing lagi dengan berita-berita mengenai pembangunan MRT Jakarta yang sesaat lagi segera rampung. Progress konstruksi sipil sudah mencapai 91,86% untuk rute MRT fase I yang menghubungkan Bundaran HI dengan Lebak Bulus. Para pemerhati dan pecinta kereta api pun tengah disibukkan dengan kabar kedatangan rangkaian kereta MRT Jakarta yang direncanakan tiba pada 26 Maret 2018. MRT Jakarta sendiri dijadwalkan akan beroperasi untuk umum mulai 2019 mendatang. Sebagai warga negara Indonesia tentunya kita semua tidak sabar untuk mencicipi kereta bawah tanah pertama di republik ini, mengejar ketertinggalan dari beberapa negara lain yang sudah memiliki sistem ini sejak lama. Namun, tahukah kita bahwa rencana pembangunan jalur kereta bawah tanah atau subway di Jakarta ternyata sudah ada sejak setengah abad yang lalu?

Semasa pemerintahan Bung Karno tepatnya pada tahun 1964, rencana pembangunan jalur kereta bawah tanah di Jakarta untuk pertama kalinya digulirkan. Soemarno, gubernur DKI Jakarta periode 1960-1964 dan 1965-1966 pernah berencana membangun jalur kereta bawah tanah di ibukota sebagai jawaban atas kepadatan lalu lintas dan peningkatan jumlah penduduk Jakarta. Menurut penuturan beliau di harian Djaja pada 15 Februari 1964, jalur kereta api di permukaan tidak cocok berada di dalam kota karena menimbulkan kemacetan lalu lintas. Peningkatan jumlah penduduk Jakarta yang meningkat menjadi 3 juta jiwa pada 1964 dari yang sebelumnya hanya 800.000 jiwa pada 1944 juga sudah tentu akan meningkatkan kebutuhan pengangkutan. Sementara itu infrastruktur jalan masih sangat terbatas pada 1964, naik bus dan trem pun kurang nyaman karena jumlah armada yang terbatas. Karenanya, Soemarno memilih mengembangkan moda transportasi kereta api sebagai sarana pengangkutan utama di Jakarta.

Pengembangan moda transportasi kereta api yang dimaksud Soemarno lebih menitikberatkan pada jalur yang sudah ada. “Menurut angka-angka terakhir jumlah penumpang kereta api pada lintas-lintas di Jakarta Raya adalah lebih kurang 80.000 orang sehari. Ini setara dengan daya angkut 2.650 bus,” kata Soemarno. Lintas Manggarai - Gambir - Jakarta Kota dan lintas Jatinegara - Pasar Senen - Jakarta Kota adalah dua jalur kereta api eksisting yang hendak diubah menjadi jalur kereta bawah tanah oleh Soemarno. Fungsi stasiun Gambir dan Pasar Senen sebagai stasiun utama yang melayani kereta api antar kota pun hendak diubah oleh beliau. Untuk mendukung rencananya tersebut, Soemarno menetapkan stasiun Jakarta Kota dan stasiun Manggarai sebagai stasiun utama kereta api antar kota. Stasiun Jakarta Kota difokuskan untuk melayani kereta api dari Cirebon, Tangerang, dan Rangkasbitung. Sedangkan stasiun Manggarai difokuskan untuk melayanai kereta api dari Bogor dan Bandung. Penumpang kereta api antar kota yang akan menuju ke dalam kota dapat meneruskan perjalanan mereka menggunakan kereta api perkotaan melalui jalur bawah tanah.

Sayangnya hingga akhir masa jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta, Soemarno gagal mewujudkan rencana tersebut. Gubernur DKI Jakarta selanjutnya, Ali Sadikin, lebih mengutamakan perbaikan dan pengembangan bus kota yang saat itu dikelola oleh Perum PPD. Rencana pembangunan jalur kereta bawah tanah pun menguap sekian lama sampai pada tahun 1986 wacana tersebut kembali bergulir. Gubernur DKI Jakarta periode 1982-1987, Soeprapto, yang juga menjabat direktur utama Perumka kala itu, kembali berniat untuk mengubah jalur kereta api di permukaan. Namun opsi jalur layang lebih diminati karena biaya pembangunan yang lebih murah ketimbang jalur bawah tanah. Jalur layang yang dibangun untuk rute Manggarai - Jakarta Kota ini diresmikan penggunaannya pada tahun 1992, dan menjadi salah satu jalur tersibuk di Jakarta hingga saat ini.

Tepat setelah peresmian jalur kereta api layang, sebuah perusahaan besar asal Hongkong, Sealand International Group, berminat membangun jalur kereta bawah tanah di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Sayangnya krisis moneter yang menimpa Indonesia pada 1997 kembali menggagalkan rencana tersebut hingga akhirnya wacana pembangunan kereta bawah tanah menguap lagi. Meskipun berkali-kali mengalami kegagalan, akhirnya pemerintah provinsi DKI Jakarta meresmikan pembangunan kereta bawah tanah pada 10 Oktober 2013 yang kita kenal sebagai MRT Jakarta.


(RED | Tubagus Gemilang Pratama)

About Tubagus Gemilang Pratama